[Nekad Blusukan] Sam Tung Uk: Hong Kong Tempo Doeloe

"Sam Tung Uk Museum, komplek perumahan tempo doeloe ala Hong Kong ini merupakan salah satu situs sejarah peninggalan masa lampau yang menggambarkan kehidupan masyarakat Hong Kong, khususnya masyarakat klan Hakka (marga Chan) yang berasal dari propinsi Guang Dong, China. ," lanjutnya.

[Nekad Blusukan] Lei Yue Mun, Eksotisme Wisata Kampung Nelayan

Orang bilang: foto-foto cantik itu biasa, foto-foto ekstrem itu barulah luar biasa.

[Nekad Blusukan] Sheung Wan: Pusat Graffiti di Hong Kong

Tai Ping Shan merupakan daerah Sheung Wan bagian atas. Area ini terkenal sebagai tujuan pecinta seni dengan aneka galeri serta barang-barang antiknya. Sehingga tak salah jika Sheung Wan menjadi salah satu pusat grafiti di Hong Kong.

[Nekad Blusukan] Plesir ke Pacitan

Pantai Teleng Ria berada di teluk Pacitan. Ini adalah salah satu pantai yang menjadi jargon tanah kelahiran presiden SBY. Tanah berumput hijau terhampar luas sebelum mencapai bibir pantai. Bunga bakung ungu menyembul di antara rerumputan itu. Ada juga segerombol pohon cemara jarum dan tunas kelapa yang mesih rendah. Wow, indah bukan buatan.

[Nekad Blusukan] Hong Kong Rasa Kanada

Sweet gum bukanlah mapel. Bentuk daunnya ada yang menjari 3, 4 dan 5. Ukurannya pun berbeda sesuai dengan musim di mana pada musim semi, daunnya lebih lebar.

2014-05-11

[Curcol] Sagu yang Mirip Sagon

Orang bilang, putus cinta atau patah hati  itu sakitnya setengah mati. Tetapi, pernyataan itu tidak berlaku untuk teman saya, Adeka Sari. Kata Sari, sakit paling sakit itu adalah sakit gigi. Maklum, si Sari ini adalah remaja yang menginjak dewasa yang ditandai dengan tumbuhnya gigi. Itu loh, empat gigi geraham paling belakang.

Konon, apabila tulang rahang tidak cukup tempat untuk gigi baru, maka gigi baru itu akan mendesak gigi geraham sebelahnya sehingga terasa sakit luar biasa. Nah kan, nah kan, menjadi dewasa itu menyakitkan!

Bagaimana tidak, jika sakit gigi (terlebih ditambah membengkaknya gusi) maka ketika kita mengkonsumsi makanan apapun, rasanya tidak enak. Mau makan kering tempe, makan sate, makan rempeyek, makan rengginan hingga makan nasi pun bagai jauh di mata dekat di hati. Yang bisa dilakukan hanya makan bubur, agar-agar atau jeli.

Tetapi, perempuan asal Malang ini mengobati rasa bosan dan menuruti naluri kulinernya dengan pergi ke toko "Febuari-Maret" yang menjual aneka produk Indonesia. Niatnya hanya melihat-lihat. Namun, saat matanya menangkap jajaran sagu berbentuk batangan, ia langsung membayangkan sepotong sagon yang ketika masuk mulut, serpihan-serpihan sagon itu langsung mabyur awur-awur, lumer di lidah. Lalu, ia mengambil sebungkus sagu dan menanyakan pada kasir, apakah sagu tersebut bisa langsung di makan?

Si kasir pun menjawab iya. Maka, sesampainya di rumah, segera setelah membereskan barang belanjaan dan mencuci tangan, sagu itu segera digigit dengan gigi serinya. Namun, apa yang terjadi, Saudara-saudara?

Sagu yang mirip sagon itu ternyata keras sekali seperti cuwilan kuwali. Sudah gigi geraham sakit, gigi seri pun menambah penderitaan Sari. Duh Gusti ...

Ah, bukan Sari namanya kalo gampang nyerah. Dengan gigi senut-senut, ia mengambil ponsel pintarnya, bertanya resep dan cara menaklukkan sagu itu pada mbah gukgel. Dan benar, ia sukses membuat bubur sagu bersantan manis gurih untuk bekal libur mingguan yang telah direncanakan mbolang di salah satu sudut liar Hong Kong keesokan harinya.

Ternyata sakit giginya makin parah ketika mengkonsumsi bubur sagu buatannya sendiri. Ia menyerah kemudian dada-dada dan melambai ke kamera. Hari Minggi itu ia putuskan untuk pulang cepat lalu wadul kepada sang lopan tentang gigi-giginya.

Selang dua hari, ia mewek-mewek hampir nangis darah di hadapan dokter gigi agar giginya dicabut paksa. Semula si dokter menolak lantaran gusinya masih bengkak. Tapi airmata perempuan hitam manis ini mampu meluluhkan pendirian dokter. Dan hingga kisah ini selesai ditulis, si Sari harus menerima kenyataan bahwa seusai cabut gigi, pipi kirinya melembung seperti ngemut es loli.

Cepet sembuh, ya, Sari.
***

2014-04-29

[Curcol] Terkunci di Dalam Makam

Oleh: Sinna Hermanto

Hari yang paling dinanti para pekerja migran sentero tlathah Bauhinia selain hari gajian adalah hari libur. Memang, hukum perburuhan di Hong Kong memberi waktu istirahat 1 hari dalam seminggu bagi pekerjanya. Bila beruntung, libur ini akan didapatkan tiap hari Minggu berikut hari libur nasional lainnya yang berjumlah 12 hari setahun. Dalam kenyataannya, banyak pekerja migran yang hanya mendapatkan libur 2x sebulan atau malah 1x sebulan.

Banyak faktor yang menyebabkan adanya kasus semacam ini. Entah karena perjanjian di awal kontrak kerja, ketidaktahuan hukum perburuhan, atau memang sebentuk pembodohan berjamaah antara segitiga maut antara lopan, agen dan PeTe. Bahkan pekerja itu sendiri yang hooh-hooh saja menerima keputusan itu demi pengiritan karena berfikir libur itu habis-habisin uang transport dan uang makan. Belum lagi sepulang libur capeknya ngudubillahdan kondisi tempat kerja yang mirip kapal pecah ketika ditinggal kungyan menikmati istirahat seharian. Ketika jelas-jelas hak liburnya disunat habis-habisan, sebagian mereka banyak yang mengeluh dengan sesamanya ketika berpapasan di pasar, di MTR, di jalan, atau paling keren … curhat di fesbuk.

Bagi pekerja yang beruntung, mereka bisa memanfaatkan hari liburnya dengan mengikuti pengajian, seminar/ workshop, kursus-kursus hingga sekolah dan kuliah. Segelintir pekerja yang beruntung itu adalah Asti yang saat ini menginjak tahun pertama di rumah majikan barunya di Sheung Wan.
Asti ini termasuk pekerja nekad_bukan naked. Hehehe, kalo naked kan syerem banget! Sosok anggun (anak Nggunung) yang hobi mendaki puncak-puncak tertingggi di Hong Kong dan kalungan kamera segede ember ini memang suka dengan foto-foto. Berbagai aliran fotografi ia coba. Namun yang paing sering dilakukannya adalah s-e-l-f-i-e, selfie.

Dalam perjalanan dari lapangan Piktori menuju salah satu makam di Hong Kong, bersama teman-temannya, ia membahas tema “generasi menunduk” yang menjangkiti manusia-manusia modern hari ini. Mereka menunduk bukan karena menaruh hormat atau takzim dan tunduk, tetapi ini adalah gambaran generasi yang terhipnotis dunia maya yang disediakan gratis oleh gadget canggih yang saat ini sangat menjamur di mana-mana. Dalam kondisi apapun, mereka akan fokus menunduk guna memelototi barang elektronik pipih nan slim itu. Meski ada teman di dekat, generasi ini lebih peduli dengan gadget canggih tersebut.

Nah, ketika sampai di makam, Asti segera melancarkan aksinya. Ia dan teman-temannya belajar memotret model bertema “beauty of spooky”. Hehehe, keren kan temanya? Padahal beberapa waktu sebelumnya, Asti sudah diwanti-wanti bakal kena usir juru kunci alias penjaga makam. Bukan Asti namanya kalo gampang menyerah. Dengan aksi berpura-pura cuek berikut ransel segede gaban yang nangkring di punggungnya, ia dan temannya memasuki makam. Mereka terus ke bagian dalam hingga mentok ke tempat yang agak tersembunyi guna menghindari petugas yang sewaktu-waktu bisa mengusir paksa para penyelundup asing ini.

Saking asyiknya jepret-jepret, jarum jam pada arloji Asri telah menunjukkan angka 6 dan 2. Wah, gawat, itu berarti sudah jam 6 lebih! Dari pojok kiri makam menuju pintu gerbang, mereka pun berjalan dengan tergesa. Ada rasa was-was. Susah payah teman Asti menyembunyikan kamera di balik baju kebesarannya (baju yang ukurannya terlalu besar dari postur tubuh). Bahkan, sempat keluar ide melompat pagar makam jika pintu gerbang dikunci.

Dan benar! Pintu gerbang telah digembok. Waduh, nggak lucu kan kalau para tukang foto dan modelnya bermalam di makam? Cilaka dua belas nih, batin Asti!

Untunglah kantor/ ruang penjaga yang berhadapan langsung dengan pintu gerbang yang berjarak sekitar 3 meter di bagian dalam makam itu belum kosong. Seorang penjaga keluar. Hati Asti yang semula ketar ketir terkiwir-kiwir menjadi sedikit lega. Sebelum disemprot penjaga, Asti pasang wajah innocent dan tersenyum paling manis sejagad raya. Ia pun mengucap maaf berkali-kali.

Pak penjaga akhirnya membuka gembok dan memersilakan asti dan teman-temannya keluar. Tak lupa Asti diperingatkan bahwa makam itu tutup pukul 6. Sambil mengucapkan maaf dan tersenyum sekali lagi, Asti dan teman-teman pun pergi. Suasana seram tetap membuntuti ketika gelap mulai menggerayangi terlebih masih harus melewati makam katolik dan makam muslim yang terletak berjajar. Membayangkan terkunci semalaman di dalam makam benar-benar membuat ngeri.

Hiii.

***

2014-04-24

[Curcol] Red One, Please?

Red One, Please?

Akhir Desember 2013, pecinta balap mobil Formula 1 atau F-1 dihebohkan dengan berita kecelakaan yang dialami bintang lapangan, Michael Schumacher. Schumie, nama panggilannya, mengalami cidera kepala saat bermain ski bersama keluarganya hingga menyebabkan kondisinya kritis dan koma.

Membaca kembali berita tersebut, terlebih ada kata F-1, mengingatkan saya pada kisah yang diceritakan budhe Susan beberapa waktu lalu. Saat itu organisasi tempatnya belajar dan kumpul-kumpul hendak mengadakan suatu pesta. Sebagai pentolan organisasi, tentu ia ketiban sampur untuk wira-wiri dan ikutan mumet menyusun acara yang super njlimet.

Mulai dari urusan gedung, kepanitiaan, susunan acara hingga masalah yang dianggap remeh tetapi menyangkut hajat hidup orang banyak, yakni tentang konsumsi. Sebagaimana kita tahu, budhe Susan ini tidak cocok didudukku pada kursi seksi konsumsi. Selain karena parawakan cungkring, tanpa embel-embel seksi konsumsi pun ia sudah seksi sekali.

Dalam suasana rapat yang heboh itu, budhe Susan sedikit dongkol manakala beberapa orang dari teamnya malah sibuk ngusek-ngusek hengpon dulit (baca: ponsel layar setuh). Maklum, pekerja migran di Hong Kong yang mencapai angka 300 ribu ini sudah didikte arus milenium dengan gadget cangggingnya. Baik yang seukuran telapak tangan hingga seukuran telenan. Apalagi kalau bukan komen-komenan di jejaring sosial sambil pasang foto selfie atau foto narsis, dengan pose jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V. Victory! Termasuk penulis.

Akhirnya rapat alot itu sampai pada bahasan tentang konsumsi. Seseorang dari golongan sayap kiri memberi usul agar menyediakan minuman suegerrrmbulenikeminggris dan gahoool (gaul).

“Red one.” Begitu nama minumannya. Budhe Susan yang bahasa Ingrisnya bernative British, sedikit tersentak dengan dua kata itu. Seumur-umur ia belum pernah mendengar merk atau jenis minumannya. Padahal ia sudah wareg ngurus nenek pikun yang setiap hari menceritakan kisah yang sama tentang masa lalunya semasa di Inggris sana, yang tentunya lebih banyak bicara bahasa Inggris daripada bahasa Kantonis.

Di tengah kebingungan budhe Susan, si pemberi usul tadi meluruskan bahwa ‘Red One’ itu adalah nama minuman dari anggur merah, bukan buah anggur yang kulitnya berwarna merah. Mendengar itu, budhe Susan langsung ngakak terjengkang-jengkang. Oalah, ternyata maksud dari red one itu red wine, toh!

Sayap kiri yang keukeuh dengan red winenya, sayap kanan tentu tak mau kalah. Sebuah minuman asli Indonesia yang juga tak kalah swegerrr dan warnanya juga sama-sama merah meski dibandrol dengan harga yang reltif lebih ramah di kantong pun disebut. Nama minuman itu adalah …

“Mardjan!”

***

2014-04-15

Makkk, aku masuk Koran!



  1. http://hk.apple.nextmedia.com/supplement/culture/art/20140414/18688526
  2. http://m.scmp.com/news/hong-kong/education-community/article/1830601/shooting-stars-domestic-helpers-discover-their
  3. https://medium.com/@ianchriswong/against-all-odds-two-indonesian-maids-dream-of-going-pro-f9a54911c075#.5pb4h677o
  4. http://surabaya.ut.ac.id/index.php/berita/325-pemenang-lomba-fotografi-dan-lomba-pembuatan-video-untuk-mahasiswa-dalam-rangka-dies-natalis-ut-ke-32

2014-04-14

(Akurapopo) Kekasih-kekasihku

1395916556723153511
Foto doc.pri


Kekasih-kekasihku.


Sepulang kerja sore ini aku mampir ke butik lantaran terpampang kalimat ‘sale up to 70%‘ di dekat pintu. Aku masuk tapi sekedar melihat-lihat. Maklum, meski ganti musim selalu ada diskon besar-besaran tetapi jika isi dompet tidak mendukung, yang kubisa hanya gigit jari sampai buntung.


Setelah dipelototi sama penjaganya, aku keluar dengan napas setengah lega. Masalahnya, berjarak lima langkah di depanku, kulihat kekasihku mencium bibir seseorang dengan mesranya. Aku harus bagaimana? Aku harus kuat‬.

Akhirnya aku mendekatinya, memasang senyum paling jahannam yang kupunya.

“Semoga langgeng ya, Mas.” sambil mengeluarkan kentut paling menggelegar tanpa ampasnya.
“Bruutt!!”

Aku berlalu. Sesak mendera hatiku. Akurapopo‬, akurapopo, toh yang dicium kekasihku juga mantan kekasihku.
***

2014-03-05

Karakter Pemotret Dikenali dari Karyanya (?)

Karakter Pemotret Dikenali dari Karyanya

Minggu 2-3-2014 adalah pertemuan keempat workshop fotografi yang diadakan oleh Lensational Hong Kong dan mengambil tempat di private studio, The Photocrafters, Sheung Wan. Selain peserta, beberapa tim dari Lensational dan fotografer sekaligus pengajar di salah satu universtas di Hong Kong, Simon Wan Chi-Chung, juga hadir wartawan dari Apple Daily (semoga tidak salah dengar). Sedangkan dari Indonesia sendiri hanya dihadiri oleh 5 peserta yang semuanya adalah para perempuan buruh migran (BMI).


Mr. Simon Wan Chi-Chung kiri. Sesi wawancara.
Pada pertemuan ketiga yang lalu(17/3), Simon Wan ‘mengoreksi’ karya para peserta yang memotret khusus memakai telefon genggam dengan memasukkan ‘feeling’ dalam karya. Koreksi di sini bukan mengenai teknik tetapi latar belakang atau cerita di balik foto tersebut. Canda dan apresiasinya terhadap karya-karya peserta membuat suasana menjadi lumer. Bahkan seperti tidak ada sekat antara guru-murid, warga lokal-migran, lelaki-perempuan, senior-junior meski hanya dihadiri oleh beberapa peserta asal Indonesia saja.

Hingga pada pertemuan keempat. Di mana peserta lebih universal, kali ini ‘PR’ dari pertemuan ketiga pun dinilai. Hanya empat peserta yang menyetor karya dan semuanya adalah BMI. Kurasi foto ini (sekali lagi) bukan untuk menghakimi foto bagus-jelek, tetapi lebih melihat karakter fotografernya dari kecenderungan karyanya. Dengan begitu, bibit-bibit fotografi yang ada pada peserta bisa dimunculkan. Setidaknya, Simon Wan telah menunjukkan bahwa fotografi tidak melulu teknik tetapi praktek.

Terhadap karya saya contohnya. Hal ini bermula dari keisengan saya ketika saya bebas tugas dari masak lantaran majikan makan di luar. Mulailah saya menggelar studio mini dadakan di ruang tamu. Saya keluarkan barang-barang dari lemari hias. Saya gelar kain hitam untuk latar belakang. Tidak hanya itu, saya juga mengeluarkan mainan yang saya koleksi. Sebenarnya, alasan utama saya adalah tidak adanya kesempatan keluar rumah untuk hunting foto pada hari kerja. Mau tidak mau dan demi mengumpulkan PR, jadilah saya memotret di dalam rumah. Tapi ingat, ini tidak untuk ditiru! Kontrak kerja jadi taruhannya. Bayangkan, jika tengah asyik memotret tiba-tiba majikan pulang dan melihat rumah berantakan, waduh… bisa diPHK dadakan. Ingat itu.

Foto saya memang hanya menampilkan beberapa objek saja. Itu pun masih trial dan error. Saya bermain-main di setting, white-balance (WB) dan angle untuk membuat perbandingan. Ketika sudah tidak ada sinar matahari, saya bermain-main dengan senter dan candelier untuk bermain pencahayaan.

Bila dalam suatu forum fotografer akan ‘menghajar’ habis-habisan foto-foto gagal, under atau over exposure, tidak begitu dengan Simon Wan. Melihat foto-foto saya, ia bilang saya cenderung ke still life. Ia melihat saya seperti sedang bertutur. Ia malah meminta saya untuk menuliskan jalan cerita dulu barulah mengambil fotonya. Hahaha, saya sendiri memang ingin ‘mendongeng’ dengan foto yang saya anggap sebagai foto ilustrasi. Sedangkan hasil permainan WB, ia menyarankan untuk mencoba dengan monochrome. Benar, semua foto saya berwarna. Saya sendiri cenderung lebih suka convert ke hitam-putih di software daripada langsung dari kamera. Maka, kloplah saran-saran Simon Wan dengan apa yang ada dalam fikiran saya.

Belum bisa foto langit dengan milky way? Ini solusinya hahaha. Memanfaatkan susu KADALuarsa.
Teman saya, Asti, dia lebih banyak menyerahkan koleksi wajah dan foto jalanan. Meski sebenarnya dia adalah pendaki ‘gila’ (maaf, ya, As). Lain lagi dengan Anik, anak gunung yang sudah melang melintang di Sempu, Semeru, Bromo, Rinjani dan puncak-puncak Hong Kong ini. Ia mengeluarkan koleksi panoramanya. Dan gara-gara mendaki gunung ini pulalah, kami bertiga lebih tertarik alias keracunan dengan The Photocrafters. Hal ini dikarenakan Simon Wan sendiri juga hiker sejati. Ia pernah mengelilingi 43 puncak-puncak Hong Kong dalam 19 hari non stop. Keren gila! Entah bercanda entah serius, ia juga minta diajak jika kami naik gunung lagi. Ia bilang ingin menikmati makanan gunung, bekal kami yang super heboh saat mendaki.

Sedangkan peserta satunya, Puji, ia menyerahkan foto-foto kegiatan BMI di lapangan Victoria. Bagi kami, mungkin hal ini adalah foto-foto biasa. Tapi tidak dengan pandangan orang Hong Kong yang diwakili Simon ini. Ia mengatakan bahwa orang di luar sana ingin tahu, seperti apa sih kehidupan migran di Hong Kong yang sebenarnya? Wajar, meski orang Hong Kong memang dekat dengan BMI, tinggal bersama malah, tetapi tidak semua dari mereka berbaur dengan BMI. Dan kalau pun berbaur, seberapa dalam sih pengetahuan tentang BMI. Apakah hanya paham BMI dengan berita penganiayaannya atau berita miringnya? Memang bukan rahasia lagi, BMI yang hanya kelas proletar yang didominasi perempuan ini selalunya dipandang sebelah mata. Hal ini mengingatkan saya dengan istilah sastra babu untuk ‘mengenali’ karya literasi para BMI.

Di akhir acara, para peserta boleh membawa pulang Holga. Bukan diberikan tetapi dipinjamkan. Diharapkan, para peserta memanfaatkan fasilitas khusus ini yakni kamera yang masih menggunakan film (lomograf). Sedikit tentang Holga, Holga adalah salah satu merk kamera low fidelity (low-fi) jenis medium format yang sedang ‘in’ di kalangan kaum muda dan pencinta pop-art di Indonesia. Holga dengan konstruksi kamera dan lensa non-state-of-the-art hadir membawa angin perubahan dalam penilaian fotografi yang identik dengan kesempurnaan baik itu secara teknis maupun nilai estetis, maka efek low-fi seperti vignetting, light leak, blur, dan distorsi menjadi karakteristik (estetis) yang dicari dan diminati oleh para pengguna Holga dan jenis kamera low-fidelity lainnya. Kerap kali ketidak-akuratan warna & eksposure mewarnai hasil proses pengambilan gambar, namun itulah juga yang membuat kita ketagihan untuk mencoba lagi dan lagi.


Penampakan Holga. Yang ungu itu dibawa Anik.
Mejeng bareng Holga.
Ingin bergabung dengan kami? Datang saja ke The Photocrafters atau tunggu di stasiun MTR Sheung Wan exit B pukul 14:30. Workshop dimulai pukul 15-17 WHK. Salam, jepret.


* Foto-foto adalah milik pribadi.

2014-03-04

Halal Pork, Please?

Halal Pork, Please?
1393957104815285007
ching can (halal)
Minggu kemarin (2/3), saya, Anik dan Asti pergi ke Wanchai untuk melihat tempat memesen kaos sablon. Kebetulan tempatnya berdekatan dengan masjid Ammar dan kebetulan lagi kami memang sengaja untuk makan siang di daerah ini. Meski ada warung cepat saji (Mc. D), kami sepakat tidak ke sana.

Kemudian saya mengusulkan untuk yam cha. Yam cha (yang berarti minum teh) ini merupakan budaya khas masyarakat Kanton yang tumbuh subur di Hong Kong. Pelaku yam cha ngobrol sambil minum teh dan aneka menikmati tim sum.

Lalu kami menuju kantin halal di lantai 5 masjid Ammar-Wanchai yang hanya berjarak 5 menit jalan kaki dari posisi kami tadi. Meski kami sudah lama di Hong Kong, tetapi ini adalah kali pertama kami pergi yam cha. Yam cha di kantin ini memang sangat diminati, baik pelancong muslim maupun masyarakat muslim di Hong Kong lantaran menyediakan menu halal. Hari itu kami menemukan wajah-wajah China, Timur Tengah, Indonesia dan Filipina yang mengelilingi meja bundar berisi dua cerek berisi teh dan air panas beserta menu yang dipesan. Mereka berbicara dan ngobrol dengan bahasa ibu masing-masing. Benar-benar ramai.

Dasar perut kami perut Indonesia yang tidak aci kalo tidak makan nasi, tetap saja diantara tim sum, kami pesan tiga mangkuk nasi dan sayur selera pedas. Ada kelegaan dan kenyamanan tersendiri hanya gara-gara melihat label halal itu.

“Kata temenku yang biasa yam cha sama bobo(nenek)nya, dim sum di luar lebih enak daripada di sini,” kata Anik. Benarkan? Kenapa bisa begitu? Apa karena yam cha sama bobo merknya merk ratu (ratuku alias gratis?). Entahlah.

Terlepas cerita Minggu itu, ada beberapa kisah menggelitik yang dialami beberapa teman saya. Sebut saja namanya Sri. Nah, Sri ini bekerja pada majikan asli Hong Kong dan mengasuh seorang anak usia SD. Hubungan antara Sri dan momongannya ini sudah sangat dekat. Sehingga, momongannya bebas bertanya apa saja. Termasuk kenapa Sri tidak makan babi.

Sri mencoba menjelaskan dengan bahasa yang dia bisa bahwa dalam agama Sri (Islam) dilarang makan babi. Si anak tak rela. Dia bilang, selama ini keluarganya mengkonsumsi bahan makanan organik termasuk daging babi organik.

“And see, we are so health because organic pork.” Gubrak!

13939569041874027396
Penjual babi pasar lama Taipo.
Lain lagi dengan Siti (panggil saja begitu). Ia bekerja pada majikan India yang juga muslim. Suatu hari momongan Siti merengek pada orang tuanya kenapa selama ini tidak ada menu daging babi dalam daftar makannya. Padahal, teman-temannya pada makan.

“Mama, aku ingin makan halal pork, please.” Anak usia SD itu memohon pada ibunya. Kontan, Siti yang mendengar dari dapur ikut tertawa.

Memang, menjadi BMI dan bekerja stay in dengan majikan non muslim harus pintar-pintar mencari celah. Selain halal, makanan juga harus toyyibah, demikian yang diucapkan seorang narasumber dalam meminar thibbun nabawi Oktober lalu.

Untuk menyiasati dan mencari aman, saya pribadi memilih memperbanyak makan sayur dan buah. Sedangkan ‘musuh’ di atas meja makan yang harus saya habisi adalah ikan dan telur. Sebisa mungkin saya mengurangi konsumsi daging. Bila ada label halal pada kemasan, baru deh disikat! Bukan sok-sokan sih. Setidaknya menjaga diri sendiri. Juga harus jeli melihat label kemasan pada makanan.

Saya akui, dulu saya makan apa saja asal bukan daging babi. Tetapi seiring banjirnya informasi yang dengan mudah didapatkan di era digital ini, termasuk informasi kode E yang ternyata mengandung unsur babi, saya lebih hari-hati. Untunglah majikan saya memberi kelonggaran menu yang saya makan. Dan mereka sendiri juga sadar bahwa mengonsumsi daging terlalu banyak juga khawatir dengan ancaman kolesterol, obesitas dan lainnya.

Meski demikian, beberapa kali bertandang ke rumah teman majikan atau saudara majikan, saya tetap saja ditanyai, kenapa tidak makan babi?

“Islam tidak makan babi.”

“Kenapa?”

“Aduh, gimana ya ngomong Kantonisnya?”

Akhirnya majikan saya membantu menjawab. Bahwa: babi itu tidak halal, kotor dan jorok. Saya hanya nyengir pada jawaban majikan saya.

Memang, halal ‘hanya’ sebuah label. Tetapi hal ini sangat membantu saya yang berada di daerah yang mayoritas non label... eh non muslim.

13939570461323382692