[Nekad Blusukan] Sam Tung Uk: Hong Kong Tempo Doeloe

"Sam Tung Uk Museum, komplek perumahan tempo doeloe ala Hong Kong ini merupakan salah satu situs sejarah peninggalan masa lampau yang menggambarkan kehidupan masyarakat Hong Kong, khususnya masyarakat klan Hakka (marga Chan) yang berasal dari propinsi Guang Dong, China. ," lanjutnya.

[Nekad Blusukan] Lei Yue Mun, Eksotisme Wisata Kampung Nelayan

Orang bilang: foto-foto cantik itu biasa, foto-foto ekstrem itu barulah luar biasa.

[Nekad Blusukan] Sheung Wan: Pusat Graffiti di Hong Kong

Tai Ping Shan merupakan daerah Sheung Wan bagian atas. Area ini terkenal sebagai tujuan pecinta seni dengan aneka galeri serta barang-barang antiknya. Sehingga tak salah jika Sheung Wan menjadi salah satu pusat grafiti di Hong Kong.

[Nekad Blusukan] Plesir ke Pacitan

Pantai Teleng Ria berada di teluk Pacitan. Ini adalah salah satu pantai yang menjadi jargon tanah kelahiran presiden SBY. Tanah berumput hijau terhampar luas sebelum mencapai bibir pantai. Bunga bakung ungu menyembul di antara rerumputan itu. Ada juga segerombol pohon cemara jarum dan tunas kelapa yang mesih rendah. Wow, indah bukan buatan.

[Nekad Blusukan] Hong Kong Rasa Kanada

Sweet gum bukanlah mapel. Bentuk daunnya ada yang menjari 3, 4 dan 5. Ukurannya pun berbeda sesuai dengan musim di mana pada musim semi, daunnya lebih lebar.

2014-09-17

[Fiks-isme] Bun Yan Bun Maow


Foto doc.pri


Oleh: Sinna Hermanto (44)

“Kamu ke sini sekarang, ya. Ada yang mau interview.”

“Sekarang? Boss yang kemarin kita obrolin itu ya, Bu?”

“Bukan. Boss ini lain lagi. Anak-anak shelter lagi partime, cuma kamu tok yang available, buruan ke sini, Er.”

*

Erlina bergegas ke kamar mandi, beberes diri. Ia memilih kostum dengan atasan warna kuning. Bagi orang Hongkong, kuning yang dalam bahasa Kantonis ‘wong’ memiliki pelafalan yang sama dengan membawa keberuntungan. Sebenarnya Erlina tak begitu percaya dengan klenik atau semacamnya. Tapi ia hanya bertukar peran seandainya ia berada pada posisi orang Hongkong memandang budayanya.

Terlebih, Erlima telah berpesan kepada staf agen yang mencarikannya kerja, bahwa ia hanya bersedia interview kerja merawat lansia, bukan balita. Dan kebanyakan, lansia sangat teguh dengan karakteristik budayanya. Itulah mengapa ia memilih warna kuning.

Erlina baru setahun di Hongkong. Ia kena PHK lantaran majikannya yang dulu pindah kewarganegaraan ke Kanada. Satu setengah dasawarsa kembalinya Hongkong ke China ternyata banyak membuat warga Hongkong kurang puas dengan kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah. Demo gelombang besar sering terjadi meski dalam aksi demo itu ada indikasi permainan uang.

Yang paling utama adalah sistem pendidikan. Pada masa ‘jajahan’ Inggris dulu semua sekolah di Hongkong menjadikan bahasa Inggris aktiv-pasif sebagai bahasa utama dalam belajar mengajar, kini sekolah di Hongkong membaginya menjadi sekolah ‘Inggris’ dan sekolah ‘Kantonis’. Hasilnya, sekolah ‘Kantonis’ memiliki penguasaan bahasa Inggris yang buruk ketimbang sekolah ‘Inggris’. Hal ini sangat berpengaruh dalam persaingan pencari kerja. Itu pulalah salah satu penyebab majikan Erlina memecat dengan hormat pembantunya itu.

*

Shelter milik agen terletak di lantai 3 dan 5 bangunan lawas di seberang gedung kantor. Sebuah jalan raya memisahkannya. Meski begitu, Erlina harus memutar jalan di jembatan bundar khusus pejalan kaki lantaran tidak ada lampu lalu lintas di jalan utama.

Begitu sampai di kantor agen, mata Erlina disuguhi senyum tipis oleh seorang perempuan paruh baya yang duduk di depan Vanessa, staf kantor yang menelefonnya tadi. Keduanya saling mengangguk hormat. Vanessa mengajak kedua perempuan itu duduk di sofa bludru warna biru tua di pojok kantor.

Nei sik em sik kong kwong dong wa? (2)”

“Bisa, dikit-dikit,” jawab Erlina ketika Vanessa meninggalkan keduanya karena telefon kantor berdering.
Perempuan itu memperkenalkan dirinya bernama Sally. Ia menjelaskan bahwa ia membutuhkan pembantu hanya untuk bersih-bersih rumah dan ngurus kucing sebanyak 9 ekor. Iya, 9 ekor.

“Kamu punya kamar sendiri, bukan tidur bersama kucing-kucing itu. Aku jarang pulang makan, mungkin agak repot saat anakku yang sekolah di USA pulang liburan ke Hongkong. Pokoknya jobmu urus kucing-kucing itu. Gimana?”

“E … e … Lam ha sin aa, (3)” entah ini hanya taktik Erlina atau jual mahal saja.

“Kenapa? Kamu takut kucing?”

“Enggak.”

“Aku tau kamu bakal capek ngurus banyak kucing. Gimana kalo gajimu aku bulatkan jadi 5000?” Mata Erlina sedikit terbelalak, mulutnya sedikit menganga, jantungnya sedikit berdegup lebih kencang. “Tapi dalam kontrak kerja tetap tertulis seperti undang-undang. Ini hanya kamu, aku dan agen yang tau. OK?”

*

Memasuki apartemen Sally, Erlina langsung disambut meongan kucing. Apartemen ini terdiri dari 1 kamar utama, 2 kamar kecil, 1 kamar mandi serta dapur bersih yang menyatu dengan ruang makan dan ruang tamu.

“Kucing-kucing ini tidur di ranjangnya masing-masing, ada di kamarku. Aku tak peduli gimana kamu rawat rumah ini. Anggap saja rumah sendiri. Yang penting, kalo ada apa-apa, kamu laporan atau tanya dulu ke aku. Oh ya, kamar kamar kecil yang berhadapan dengan kamarmu itu jangan kamu diutak-atik. Biar aku yang urus. Mengerti?”

Erlina mengangguk. Sesekali matanya mencuri-curi pandang pada kucing-kucing yang menatapnya. Ketika kedua matanya bersirobok, ia seperti melihat kilatan cahaya di mata kucing-kucing itu.

“Kenalin, ini Mo Mo, peranakan Turkis Anggora. Kedua matanya warnanya tidak sama, satunya kuning, satunya biru. Anak pertamanya 2, Suet Fa dan Siu Pak. Yang masih kecil ini Candy dan Ku Ku,” dua nama terakhir yang disebut Sally nampak masih lucu. Mereka berebut puting Mo Mo untuk menyusu.

“Yang ini triplet : Mori, Kara dan Nala. Nah, yang ini Tai Wong. Dia lagi sakit,” Melihat Triplet, fikiran Erlina melayang pada kucing telon peliharaannya di kampung. Benar-benar mirip dengan totol-totol tiga warna, abu-abu-kuning dan putih. Sedangkan Tai Wong mirip Garfield. Kepala Tai Wong memakai corong besar dari plastik. Kaki kanan-belakangnya diperban, jalannya agak pincang.

Lalu Sally menjelaskan bahwa kucing-kucing ini adalah binatang peliharaan suaminya. Ia dan suaminya sengaja mengadopsi kucing-kucing yang ditinggalkan atau dibuang pemiliknya dari SPCA (Society for Prefention of Cruelty to Animal). Tak jarang, binatang di SPCA banyak yang cacat karena mengalami penganiayaan. Tai Wong contohnya.

Anehnya, Sally sama sekali tak mengenalkan suaminya.

*

Hari ini Erlina sedikit bermalas-malasan lantaran Sally tak hanya tidak pulang makan tetapi tidak pulang ke rumah. Sally ada urusan bisnis di Macau. Terlebih, info BMKG-nya Hongkong mengabarkan datangnya bak ho fung gao (4) bernama Khalmaeni. Tiap bulan September, Hongkong selalu mendapatkan kiriman badai dari Filipina selayaknya Jakarta yang menerima kiriman banjir bila musim penghujan tiba.

Berita di TV juga menyatakan bahwa badai ini akan menyapu dataran Hongkong selepas jam 24 malam. Sebelum berangkat tadi, Sally berpesan agar menimbun stok logistik untuk dua hari. Kemudian memasukkan pot-pot bunga yang berada di balkon, mengikat kuat-kuat barang-barang di balkon dan melakban seluruh jendela kaca.

Saat malam semakin pekat, mendung yang memayungi tanah Bauhinia ini  mulai terlihat pekat. Gulungannya makin tebal. Lajunya makin cepat bercampur dengan titik-titik air yang semakin lama semakin deras. Hujan datang. Gelombang laut berakhir di bibir dermaga dengan buih putih. Dermaga itu nampak dari jendela kaca kamar Erlina di lantai 28. Ia mematung di sana.

Kemudian ia ingat bahwa jendela di kamar kecil yang berhadapan dengan kamarnya belum dilakban. Ia bergegas mengambil lakban dan gunting. Tai Wong dan triplet menunggu  di depan kamar kecil itu. Mo Mo, candy dan Ku Ku beriringan mengikuti langkah Erlina. Suet Fa dan Siu Pak berkelahi di bawah meja makan.

Ketika hendak membuka kamar itu, meongan ke-7 kucing-kucing itu bersahutan tiada henti. Suet fa dan Siu Pak berlarian mengelilingi kaki Erlina. Klik … Oi, kamar ini bisa dibuka? batin Erlina. Biasanya, Sally tak pernah sekalipun lupa mengunci pintu itu.

Pelan, tangan Erlina mendorong pintu. Kucing-kucing itu berebut masuk, saling mendahului. Erlina tertarik sebuah hembusan angin. Pintu tertutup kembali dengan paksa. Brakkk. Meongan berhenti.
Dalam gelap, sepasang mata nampak seperti bersinar, dua warna, toska dan emas. Mirip dengan mata Suet Fa. Hanya saja, mata ini berukuran lebih besar.

“Suet Fa … Suet Fa nurut ya. Ini aku, Erlina. Suet Fa …” tubuh Erlina gemetar.

“Whuaaarrrr … Wuarrr Wuarrr,” ribut sekali suara kucing-kucing itu. Entah seperti kucing mau kawin atau berkelahi. Erlina mencoba meraba dinding. Tangannya menemukan saklar. Klik.

Mata Erlina terbelalak manakala menemukan majikan perempuannya berada di kamar itu. Badannya berupa kucing dan kepalanya berupa manusia seukuran macan. Ia tak sendiri. Ia ditemani seekor kucing berkepala seorang lelaki dikelilingi 9 kucing-kucing kecil yang selama ini diurus Erlina. Sepasang bun yan bun maow itu menerkam Erlina.

Whuaaarrr …

*

Hari berganti, bulan berlalu, nampak seorang perempuan menikmati sarapan. Ia duduk di sofa sambil menikmati berita Selamat Pagi Hongkong. Ia begitu lahap menghabiskan makanannya itu. Sebungkus pelet kucing dan sekotak susu segar menjadi makanan favoritnya.

“Hmmm, ibu hebat. Sarapannya dihabiskan. Habis itu dimakan obatnya ya, Bu,” seorang berjubah putih mulai meracik butir wara warni.

Di luar kamar itu, tepat menempel di tembok pagar, tertulis “San King Peng Yuen(5)”.

***

1. Manusia setengah kucing
2. Kamu bisa bicara Kantonis?
3. Aku pikir dulu ya
4. Taifung nomor delapan (T8)
5. Rumah sakit jiwa

2014-09-13

[Gallery] I'm Flying Without Wings

I'm Flying Without Wings


Kamu pecinta fotografi? Penikmat karya foto? Atau sekedar hobi gila-gilaan di depan lensa? Ahay, kamu tentu tau dong salah satu karya yang rame diperbincangkan diantara temen-temen sewaktu bikin foto bareng/ hunbar gitu? Itu tuh, foto levitasi.

Ini pakai bangkupod dan timer. Masih shake tapi udah kecapekan loncat.

Apa sih levitasi? Secara gampangnya, levitasi adalah pose dari objek yang kita foto dalam keadaan melawan arah grafitasi bumi. Karya levitasi ini bukan hasil manipulasi atau olah digital.

Misal kita motret model (orang). Nah, modelnya ini terlihat seolah-olah mengambang. Tapi inget, mengambang loh bukan meloncat. Kalo meloncat namanya jump shoot dong, hehehe.

Selain levitasi, ada juga semi-levitasi. Semi-levitasi ini pada prinsipnya sama seperti levitasi. Hanya saja, modelnya tetap menginjak tanah tapi posisi badan bukan tegak lurus garis horizontal tetapi miring sekian derajad, getchuuu.

Ini nih sedikit tips membuat foto levitasi:
1. Usahakan ekspresi model terlihat natural.
2. Manfaatkan continuous shooting, trus pilih gambar yang paling pas 'melayang'nya.
3. Bila s-e-l-f-i-e sambil ngambang, manfaatkan tripod dan timer pada kamera. Bila tidak ada tripod, boleh minta tolong orang lain untuk memegang kamera (orangpod), pagarpod, sepatupod, treepod, dll.
4. Gunakan peniti/jarum pentul untuk mengurangi gelembung pada baju. Boleh menggunakan hair spray/ jell rambut agar rambut lebih rapi.
5. Teknik shootnya: pakai hi-speed dan low-angle.
6. Cari tempat yang aman dan tidak mengganggu orang lain

Berikut hasil trial dan errornya.

Ini pakai orangpod dan timer. Kangen Jogja, hiks.

Ini pakai orangpod. Sttt ... the power of shadow.

Ini pakai orangpod. Nggak mau kalah narsis dari mbak model.

Nge-lev yuk. Yeahh, finally, I'm flying without wings coz I'm LOVE-VITATION. (Risna)

Teks & photos: by me.
***

2014-09-07

[Curcol] Mendadak Salon

Mendadak Salon

Teman-teman sejawat yang sama-sama ngawula alit di Hong Kong tentu sangat mahfum bahwa menjelang hari Imlek, rumah majikan harus dielus-elus hingga kinclong. Lantai rumah harus digosok hingga putih bersih. Bila perlu direndam dengan bleach atau pemutih. Semua laci dikeluarkan isinya lalu ditata ulang biar rapi. Minyak-minyak yang menempel pada perabot dapur harus 'say: hai, goodbye' sebelum hari raya China tiba. Pokoknya semua dibersihkan kalau perlu diganti yang baru. Bahkan seluruh benda dari kaca harus nampak bling-bling sparkling.

Sama halnya dengan saya. Saya pun mengelus-elus perabot tempat kerja saya. Ceritanya, hari itu saya membersihkan dapur. Karena kurang berhati-hati, saya malah memecahkan vas beling bening milik ndoro juragan. Vas itu baru saya bersihkan yang nantinya digunakan untuk menaruh bunga segar. Begitu selesai saya cuci, vas tersebut saya taruh di lantai agar tidak tersenggol tangan atau tidak jatuh lantaran masih ada beberapa perabot lagi yang menunggu giliran dibersihkan. Ah, memang sudah nasib vas beling nan malang itu harus tersenggol kaki. Dan pranggg, pecah!

Dengan memasang wajah tanpa dosa dan menenteng vas bunga yang pecah bagian atasnya, saya pun segera laporan kepada juragan. Kalau marah ya marahlah, toh saya salah, begitu suara batin saya. Rupanya, hari itu juragan harus berangkat ngantor lebih awal di hari terakhir kerja sebelum liburan hari raya tiba. Bahkan ia berpesan bahwa ia tidak pulang makan karena ia akan menghadiri pesta bersama teman kerjanya. Karena ia buru-buru berangkat ngantor, kesalahan saya memecah vas bunga diabaikannya.

Ndilalah, ketidak beresan kerja saya hari itu belum berakhir meski pagi tadi saya telah memecahkan vas bunga. Ketika saya membuat nasi tim, saya menggosongkan panci secara permanen. Artinya, dicuci dengan apapun, digosok dengan cairan apapun, diusek-usek dengan spon apapun, gosongnya tidak bisa dihilangkan.

Barulah keesokan harinya, saya membuat laporan bahwa saya menggosongkan panci. Selain pasang wajah innocent, saya bertanya trik membersihkan panci kepada ndoro juragan. Akhirnya YBS (Yang BerSangkutan bukan SBY, catet!) ... Akhirnya YBS meminta saya menggodog air dengan panci gosong tadi agar keraknya lepas. Sayangnya cara ini tidak sukses. Malahan, saya mendapat pujian yang memesona

"Kalau nggak ada aku di rumah, jangan-jangan kamu em co ye. Lihat tuh tuh, pas kamu co ye kamu malah ta lan ye". Duh, Gusti, paringana sabar, batin saya berbisik.

Teringat wejangan eyang ketika saya akan ke Hong Kong dulu, jika ndoro marah, rayu dia dengan memasak makanan kesukaannya. Tak kurang akal, malamnya saya membuat menu kesukaannya dalam porsi yang lumayan banyak. Sambal terasi pakai teri. Biasanya sambal ini dicocol ketika dia makan mie.

Syukurlah, berkat sambal tadi amarah ndoro juragan mulai padam. Malahan, ia meminta saya menjadi tukang salon dadakan. Ilmu mandadak salon ini saya peroleh secara otodidak ketika beberapa waktu yang lalu ia meminta saya membantunya mengerjakan PR sekolah/ les hair stylishnya. Ia merekomendasikan saya untuk ikut les itu karena biayanya gratis. Sedangkan obat-obat kimia dan peralatan penunjang belajar termasuk media peraga harus beli sendiri. Bahkan ia mengatakan bahwa banyak pekerja asal Indonesia dan Filipina yang ikut les di hari Sabtu atau Minggu.

Dengan halus saya menolak ajakan itu. Selain kurang berminat, saat ini saya sedang les bahasa Kanton. Untuk membuatnya tidak kecewa karena gagal 'menghasut' saya dengan kata gratis tadi, saya hooh-hooh saja ketika ia meminta saya memasang rol pengriting rambut sekaligus menuangkan cairan 'amat sangat bau banget' itu pada kepala manekin/ kepala boneka peraga. Saat itu saya merasa enjoy melakukannya atas dasar rela serela-relanya.

Khusus hari penyiksaan yang dibungkus dalam program acara 'mendadak salon' tadi, ndoro juragan menyiarkannya secara langsung di CCTV, yang dipasang di salah satu sudut ruangan. Kepada pambaca SUARA yang budiman, saya mengimbau: agar sekiranya jangan macam-macam dengan saya. Saya ini artis, loh. Serius, saya bukan masuk kardus TV tapi masuk TV beneran. Nama TVnya ya ... CCTV itu tadi!

Demi sebuah peran kecil-kecilan 'mendadak salon' tadi, saya tidak lagi nyalon memakai kepala manekin tetapi kepala asli ndoro juragan. Padahal, tugas mbabu saya masih banyak, bekas makan malam juga masih berantakan di atas meja. Tapi demi mandat YBS, saya siap melaksanakannya dan membereskan mangkok-mangkok kotor itu setelah acara nyalon itu selesai.

Mendadak salon seri dua ternyata masih menunggu. Buktinya, seusai sarapan di hari esoknya, ndoro juragan memanggil-manggil saya. Saya kira YBS akan memberi mandat membersihkan ini itu yang kemarin terlewat dielus-elus. Saya segera menganalisa sumber suara yang ternyata bersumber dari dalam toilet. Saya segera mendatangi sumber suara.

Dengan memakai baju tidur lengkap, ndoro juragan memanfaatkan toilet yang tertutup itu sebagai tempat duduk. Saya bertanya kalau-kalau ada yang bisa saya banting, eh maksudnya, kalau-kalau ada yang bisa saya bantu. Lalu mengalunlah sabda pandita ratu.

"Ce, tolong bantu saya ngecat rambut, ya" pintanya. Owalah, tadi saya telanjur suudon.

Pesan moral yang saya petik dalam program acara spektakuler awal tahun 2013 ini adalah: cara kerja saya yang trial dan error mendekati imlek tahun ular air ternyat bisa dihapus dengan mendadak salon seri 1 dan 2. Mulai hari itu, saya merasa seperti bermetafora menjadi pekerja salon beneran. Tiba-tiba saya ingin menirukan gaya banci kaleng di Taman Lawang.

"Kemon, cyin. Eike colourin rambut yey, ya?" Eh.

2014-08-31

[Curcol] Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu

Nah lo, teman-teman seantero Hong Kong semua, hati-hatilah menjaga mulut kita. Judul di atas bukan iklan layanan masyarakat tetapi himbauan untuk teman-teman semua dan khususnya untuk saya sendiri agar senantiasa berhati-hati menjaga ucapan. Lidah tak bertulang gitu loh. Ia bisa lincah bergerak hingga misuh-misuh dan atau bualan berbusa-busa pun sering muncrat di sana.

Seperti yang dialami Ani (sebut saja begitu), teman seperjuangan kita yang berasal dari Banjarnegara ini. Hari itu dia menikmati hari liburnya yang jatuh di hari Sabtu bersama seorang rekan satu kampunnya dari Banjarnegara juga. Aksen ngapak terdengar khas, meluber di mana-mana. Setelah seharian mengelilingi pasar sayur, akhirnya mereka berdua menemukan pasar baju yang sedang obral. Maklum, mau konin, jadi dia ikut-ikutan ribet belanja pakaian lebaran. Apalagi, katanya, dia harus menemani majikannya tau laisi dengan dalih menjaga anak asuhnya keliling ke tempat-tempat saudara. Lumayan kan, biar isi dompet makin bahenol!

Sebagai sosok yang senantiasa lihai beradaptasi dengan tuntutan profesi, hal ini seolah-olah menggerakkannya untuk memperbaiki penampilan. Bukankah ajining raga ana ing busana, ajining dhiri ana ing lathi? Maka, dalam waktu kurang dari 4 jam, sekantong kresek bertuliskan huruf China berisi kostum lebaran kini di tangan.

Lelah keliling pasar, akhirnya keduanya memutuskan untuk makan siang di warung cepat saji dengan simbul 3 huruf kapital berwarna dasar biru dan merah (maaf, penulis tidak mau menyebut merk, bukan tukang iklan jew!) Seperti warung cepat saji umumnya yang selalu berjubel dan antri pembeli, maka keduanya kena getahnya.

Setelah order dua set menu makan siang_meski sudah kelewat lunch dan sudah masuk teatime, mereka putar-putar isi warung untuk mencari tempat duduk agar bisa makan dengan leluasa. Sayangnya, tetap saja mereka tak menemukannya. Meski akhirnya Ani menemukan 3 kursi kosong.

"(Lito) yau mo yan, aa" ucapnya pada seorang mui-mui yang duduk di dekat 3 kursi kosong itu.

"Yau aa."

Akhirnya mereka berdua muter-muter warung lagi sembari membawa baki berisi makanan. Lagi-lagi langkahnya terhenti pada 3 kursi kosong tadi. Kali ini yang menduduki salah satu dari 3 kursi di dekat mui-mui tadi adalah seorang mbak Indonesia (yang juga berprofesi sebagai kungyang juga). Sedangkan kursi yang diduduki mui-mui tadi ditempati tas ransel kecil bergambar tokoh kartun.

"Ana wong e, Mbak?" tanya Ani. Rekannya tadi hanya berdiri di dekat Ani.

"Oh, 2 kursi di sebelah sana kosong, Mbak," jawab mba Indonesia tadi.

"Walah, dasar bocah gendheng. Mau nyong takon ning bocah, jare ana wong e. Nyong wes kencot kie, mandan diapusi." Ani masih saja nggerundel sembari mengingsutkan bokongnya pada kursi kosong tadi diikuti oleh rekannya. "Kok, rika ura mangan, Mbak?" lanjutnya berbasa-basi melihat ada seporsi makanan di depan Mbak Indonesia itu.

"Lagi nunggu anak saya yang ke toilet."

What? Ternyata bocah yang digendheng-gendhengkan Ani tadi adalah anak asuh si Mbak tersebut. Pantas saja wajah si Mbak berubah masam ketika Ani mengumpat.

"Ya nyong ora weruh mbok anak e si Mbak kie," sanggah Ani ketika rekannya menasehati. Lain kali hati-hati ya, Mbak. Mulutmu harimaumu, loh!

***

2014-08-24

[SRINTIL] Kungyan Seksi



Oleh: Sinna Hermanto

Ilustrasi doc.pri

Aku masih ingat ketika pertama kali ia menginjakkan kaki di rumah ini. Saat itu adalah malam perpisahan Zai-Zai yang akan kembali ke dunia sekolahnya di London sana. Biasanya, Zai-Zai menghabiskan liburan musim panas dengan mencari kerja paruh waktu di warung cepat saji. Tapi khusus kali ini, ia ditenggelamkan dalam kesibukan di kantor maminya.

Dengar-dengar, Zai-Zai studi akuntansi. Sepertinya hal itu dipengaruhi oleh keluarga ini yang memang mendirikan jasa akuntasi di sebuah gedung menjulang di tanah Bauhinia ini. Sesekali mami mengajakku ke sana. Toh aku punya ruangan khusus. Makanya sedikit-sedikit aku tahu tentang kantor mami. Aku juga sering diajak jalan-jalan di taman dekat kantor. Kan aku anak kesayangan mami.

Di tengah asiknya makan malam perpisahan itu, mami pulang kantor dengan seorang perempuan asal Indonesia. Sepertinya perempuan ini yang akan menggantikan Siti. Siti adalah kungyan(1) di rumah ini yang semenjak empat tahun terakhir mengurusku.

Mami pun mengenalkan sosok pendatang itu. Ia bernama Srintil. Aku mendengar bagaimana susahnya lidah Zai-Zai, papi dan mami sendiri ketika menyebutkan namanya. Lebih mudah menyebut kungyan lama, Siti. Siapa tadi? Si-lin-tail?

Melihatnya sekilas, tubuhnya padat berisi. Dadanya penuh. Tipe kulitnya terang meski baru datang dari Indonesia. Wajahnya cantik. Kalau senyum, ada ada lesung di pipi kirinya yang gembil eh … cubby. Secara keseluruhan, ia nampak lucu nan seksi. Mata papi mencuri-curi pandang. Papiii … kamu ketahuan!

*

Tiga tahun itu bukan yang sebentar loh. Lihat dan perhatikan, tubuhku jadi sedikit besar. Kerja Si-lin-tail eh Srintil makin cekatan. Penampilannya aduhai. Kalo musim panas seperti bulan Agustus macam begini, ia sering pakai hot pant atau you-can-see. Ia terlihat lebih seksi.

Mami tidak peduli. Toh mami suka memberi kebebasan penuh kepada kungyannya. Yang penting kungyannya itu mampu merawatku sepenuh hati dan melakukan pekerjaan rumah dengan beres, mami sudah munyi(2). Hal ini dilakukannya lantaran mami tidak memberi libur seminggu sekali tetapi menggantinya dengan uang lembur.

Lain mami lain papi. Papi makin berani. Sesekali ia menowel bokong Silintail yang seksi. Silintail hanya menghindar dan menjauh dari jangkauan papi. Tapi papi memang suka begitu. Sama Siti juga begitu, dulu.

Hingga suatu hari Silintail terlibat adu cekcok dengan mami. Hal ini dipicu oleh ulah Silintail yang ji ba ji wai(3). Akhir-akhir ini Silintail melakukan sembahyang di kamar Zai-Zai, berkali-kali. Zai-Zai adalah lelaki dewasa yang telah menginjak usia 20. Riskan. Kenapa Silintail melakukan ini? Padahal mami sudah menyediakan kamar khusus untuk kungyannya itu. Kamar tersebut dilengkapi dengan kamar mandi. Kamar Silintail lebih lebar dari kamarku. Aku iri.

Yang membuat mami geregetan adalah ketika tanpa sengaja mami melihat dompet Silintail tergeletak di meja kamarnya. Mami membukanya. Di dalamnya ada foto Zai-Zai.

*

Sejak sebulan terakhir, Silintail enggan kemana-mana. Untuk urusan belanja kini menjadi tugas papi. Bahkan turun ke lantai dasar yang terhubung dengan jalan raya untuk pergi ke laundry pun Silintail enggan. Kenapa?
Di rumah, Silintail makin malas bekerja. Di mana-mana kotor. Rambutku yang rontok tercecer di mana-mana. Semula aku senang dengan keadaan ini. Berarti Silintail punya banyak waktu untuk bermain-main denganku. Tapi nyatanya tidak. Ia sering menutup diri, mengunci pintu.

Aku menunggunya membuka daun pintu. Ketika kesempatan itu datang, aku menyelinap masuk ke kamarnya. Kulihat ia terduduk di lantai sambil menyandar di ranjang. Matanya sembab. Sisa air mata masih meleleh di pipinya.

“Bobby, aku … ” Matanya kembali berair. Tangan kirinya megelus kepalaku lalu memelukku erat. “Papi meniduriku.”

Aku mencakar Silintail. 

***

Catatan:
1. pekerja/ pembantu
2. puas
3. seenaknya sendiri

2014-08-22

[Curcol] Papi Ngarit!

Papi Ngarit!

Harga jengkol, cabai dan bawang yang melambung tinggi hingga mencapai Rp 100.000/kg membuat anak bawang dan anak bau jengkol menduduki peringkat teratas tangga OKB alias Orang Kaya Baru di negeri khatulistiwa, negeri saya. Kenapah? Karenah hanyah horang-horang kayah sajah yang mampuh membelih bahan makanan yang mahal ituh (ini bacanya sambil ngunyah cabai sekuintal).

Bahkan, bulan Juli yang seharusnya masuk musim kemarau, di negeri saya sana hujan masih saja mengguyur dengan deras. Tak heran, anak ingusan tersebar di berbagai tempat mengingat wabah flu datang bersama imunitas yang menurun akibat cuaca yang tak menentu.

Lain di tanah khatulistiwa, lain pula di tanah bauhinia. Ada teman kita yang berasal dari Semarang ini bertemu dengan OKB di atas bus 968, yang kala itu membawanya dari Yuen Long menuju Causeway Bay. Sebut saja namanya mas "Bagong ndak suka bohong tapi bahagia hidup di Hong Kong".

Indera pendengaran mas Bagong ini lumayan tajam. Pisau, silet apalagi sembilu pasti kalah bila diadu dengan kedua telinganya. Tiba-tiba, ditengah asyiknya melamun hal-hal ngeres (karena ingat lantai rumah bosnya yang penuh debu belum disapu), ia mendengar perbincangan dua orang berbahasa Indonesia. Biasalah, mbak-mbak BMI di mana pun berada, mereka terkenal berbicara kencang yang kadang tidak sadar telah menjadi sumber polusi suara di sekelilingnya.

Bila yang diperbincangkan masalah selingkuhan di fesbuk atau chatting dengan TKI Korea Selatan, tentu hal itu tak begitu membuat gatal telinga mas Bangong. Tapi, dengan gaya kemayu sok unyu-unyu, mbak-mbak ini berbicara layaknya pejabat yang memiliki rumah bertingkat dan mobilnya berjumlah empat. Rasa-rasanya, karena super duper kayahhh, sah-sah saja memeperbincangkan atau menimbun harta dunia selayaknya hidup abadi tanpa mengenal kiamat atau akhirat.

Mas Bagong ini mencoba bermain nalar. Apa iya, horang kayah kok mau menjadi kacungnya orang China?

Di tengah kegalauan dengan alam fikirannya sendiri, mas Bagong dikagetkan dengan sapaan salah satu dari mereka. Otomatis mbak ini agak asing melihat makhluk berkromosom XY dan berhormon testosteron bebas berkeliaran di Hong Kong. Sebagaimana diketahui, kebanyakan BMI di sini adalah perempuan. Paling tidak, say hi dan menanyakan asal muasal tanah kelahiran di Indonesia adalah bahan perbincangan pokok pada percakapan paling pertama dari sebuah komunikasi.

Mas Bagong serasa mau mati gemas menghadapi gaya bicara mbak-mbak ini bila perbincangan mereka tidak terputus paksa oleh dering telefon. Rupa-rupanya, salah satu dari mereka menerima telefon dari suaminya. Dan ndilalah, speaker mode pada HP itu masih on. Otomatis, apa yang mereka perbincangkan terdengar sampai ke telinga tetangga, termasuk telingan mas Bagong ini.

"Halo, Papi sedang apa?" Mbak itu kembali bersuara.

"Lagi ngarit," jawab dari seberang.

Weladalah... Ternyata si papi horang kayah ini sedang ngarit alias mencari rumput untuk pakan ternak. Well, mungkin saja si papi ini adalah juragan sapi. Atau... si papi ini adalah sapiderman yang tersesat di daerah khatulistiwa setelah menumpas angkara murka Sang mafia sapi.

Ealah, papi ... papi ... Happy ngarit day, yes.

***

2014-08-14

[Curcol] Kain Lap Segitiga_Sama_Kaki

Kain Lap Segitiga_Sama_Kaki

Hingar bingar perayaan Imlek tahun kuda ini menyisakan kisah menyesakkan bagi Elly yang ngurus sebuah keluarga di daerah Diamond Hill. Antara seneng dan senep, ia terjebak dalam serentetan kesibukan imlek. Mulai dari bersih-bersih rumah kecil sak upil, akting di depan kamera yang dipasang di ruang tamu, nyungsep di lantai dapur buat nyolong istirahat hingga nginthil ndoro juragan dalam acara makan bersama tutup tahun dan buka tahun. Orang Hong Kong menyebutnya sik tuen nin fan.

Sewaktu makan penutupan tahun itulah kisah ini terjadi. Elly dan keluarga juragannya makan di rumah gaufu (pak dhe). Di sana ia tidak perlu bantu-bantu masak. Toh di rumah gaufu sudah ada tukang masaknya. Ia cukup membantu beberes dan cuci mangkuk di dapur rekaman. Kenapa disebut dapur rekaman? Konon, aktivitas di dapur juga direkam oleh lirikan mata juragan Elly. Takut si Elly daulan (malas). Dih, segitunya!

Nah, usai makan-makan, Elly menjalankan tugas dan kewajibannya. Ia nyuci piring, ngelap kompor dan tembok, hingga ngepel lantai. Tiba-tiba makanan yang sudah bercampur acyd di dalam lambung Elly bergolak minta dimuntahkan kembali. Pasalnya, saat ngucek lap, ia merentangkan lapnya tadi.

Tahukah apa yang terjadi, saudara-saudara pecinta SUARA?
Bentuk lap itu adalah setangkup dengan segitiga sama sisi. Dan ketika Elly memerhatikan lebih detail, lap itu ternyata bekas CD (celana dalam) dengan merk Bos*n*. Pikiran Elly kembali pada beberapa menit lalu di mana lap CD itu digunakan untuk mengelap perangkat memasak oleh tukang masak di rumah gaufu.

Elly keluar ke ruang tamu, tempat para anggota keluarga ngumpul dan ndelongop di depan TV. Ia pun protes. Tak dinyana, tukang masak malam itu malah merangkul Elly dan mengajaknya masuk dapur sambil menjawab dengan kalimat fantastis.

"Em ba lah (nggak papa lah). Cuma buat ngelap pantat wajan aja kok. Kan sudah dicuci bersih." Toenggg, perut Elly mungkuk-mungkuk pingin muntah.

Tragis banget kamu, El. Duh.