[Nekad Blusukan] Sam Tung Uk: Hong Kong Tempo Doeloe

"Sam Tung Uk Museum, komplek perumahan tempo doeloe ala Hong Kong ini merupakan salah satu situs sejarah peninggalan masa lampau yang menggambarkan kehidupan masyarakat Hong Kong, khususnya masyarakat klan Hakka (marga Chan) yang berasal dari propinsi Guang Dong, China. ," lanjutnya.

[Nekad Blusukan] Lei Yue Mun, Eksotisme Wisata Kampung Nelayan

Orang bilang: foto-foto cantik itu biasa, foto-foto ekstrem itu barulah luar biasa.

[Nekad Blusukan] Sheung Wan: Pusat Graffiti di Hong Kong

Tai Ping Shan merupakan daerah Sheung Wan bagian atas. Area ini terkenal sebagai tujuan pecinta seni dengan aneka galeri serta barang-barang antiknya. Sehingga tak salah jika Sheung Wan menjadi salah satu pusat grafiti di Hong Kong.

[Nekad Blusukan] Plesir ke Pacitan

Pantai Teleng Ria berada di teluk Pacitan. Ini adalah salah satu pantai yang menjadi jargon tanah kelahiran presiden SBY. Tanah berumput hijau terhampar luas sebelum mencapai bibir pantai. Bunga bakung ungu menyembul di antara rerumputan itu. Ada juga segerombol pohon cemara jarum dan tunas kelapa yang mesih rendah. Wow, indah bukan buatan.

[Nekad Blusukan] Hong Kong Rasa Kanada

Sweet gum bukanlah mapel. Bentuk daunnya ada yang menjari 3, 4 dan 5. Ukurannya pun berbeda sesuai dengan musim di mana pada musim semi, daunnya lebih lebar.

2014-10-20

[Curcol] Nastar Ekstrem

Nastar Ekstrem

Kue lebaran yang sering kita temui ketika silaturrahmi keliling salah satunya adalah kue nastar. Kue isi selai nanas dengan aroma cengkeh dan kayu manis ini juga menjadi sajian khas di rumah nyonyah majikan ketika imlek tiba, yang diletakkan berdampingan dengan tong guo hap. Hal ini dikarenakan mertua nyonyah majikan (yeye) adalah yan nei wah kui alias orang China yang lahir dan tumbuh berkembang di Indonesia.

Nah, yeye ini baru kembali ke Hainan-China sekitar tahun '64 setelah pemerintahan era Soekarno berakhir. Meski telah meninggalkan Hainan dan menetap di Hong Kong, yeye masih memegang rasa 'keindonesiannya'. Hal ini tercermin dari pola makannya yang tidak aci kalau tidak makan nasi. Juga selera pedasnya ketika ia makan. Bisa dikatakan, ia tidak bisa makan kalo tidak ada cabe.

Selain itu, masakan ba tung ngau yuk, ka le kai, ku lu puk, ka le tok, ka to ka to maupun sambal ta la si bukanlah makanan aneh dari planet antah berantah ketika makan bersama di rumah yeye. Yeye memang pintar masak. Dan kecintaan dengan menu Indonesia ditularkan kepada anak-anaknya beserta para menatunya. Maka tak heran apabila nyonya kepincut dengan nastar yang rasanya sebelas dua belas dengan bo lo so, oleh-oleh khas Taiwan. Yang membedakan hanyalah tampilan nastar yang nampak lebih imut.

Idul fitri kemarin saya juga bereksperimen membuat nastar. Tak ada niat lain di hati saya selain memanfaatkan fasilitas/peralatan membuat kue yang lumayan lengkap di rumah nyonyah. Toh nyonyah siap menjadi kelinci percobaan untuk mencicipi hasil karya saya yang sering kali trial dan error.

Kebetulan, nastar pertama saya sukses (tepuk tangan dong, penggemar. Plok plok plok ... Tengkyu). Rencananya, kue itu akan saya bawa ketika libur Minggu tiba. Naas, satu toples hampir ludes ketika saya tinggal antar les sehari sebelum libur tiba. Yasud, saya hanya nyengir kuda dan berkata 'aku ora papa' meski sejatinya 'aku radak papa'.

Beberapa waktu kemudian, nyonyah rikues untuk membuat nastar lagi. Kata nyonyah, nastar ini akan dijadikan hantaran untuk Mbokdhe di blok sebelah. Padahal, beberapa hari sebelumnya Mbokdhe sudah saya gorengin krupuk udang satu pak. Sebagai kungyan yang tunduk pada mandat nyonyah majikan, semangat 86 pun membalut seluruh badan. Nggak apa-apa deh kerja rodi asal free listrik dan free Wi-Fi, batin saya.

Saya pun berangkat ke supermarket di lantai 3 bawah apartemen, membeli nanas glondongan, utuh. Menurut resep yang disajikan oleh mbah gukgel, nanas itu diparut dan dimasak untuk selai. Sambil ngelamun (iya ... ngelamunin kamu), tangan kiri saya mengaduk wajan anti lengket dan tangan kanan saya menakar butiran-butiran pasir putih nan lembut yang nantinya akan dimasukkan ke dalam wajan. Tidak tanggung-tanggung, timbangan digital itu menunjukkan angka 150 gram.

Blebeb, blebeb, isi wajan itu bergolak. Aroma kayu manis merebak. Saya ambil sendok untuk mencicipi sambil membayangkan betapa harum dan legitnya selai itu jika sudah matang nanti. Hanya dalam hitungan sepersekian detik setelah mencicipinya, lidah saya langsung terjulur paksa. Rasanya ... wow, bener-bener cetarrr menggelegar.

Rasa nanas yang manis, asem, wangi dan gurihn yang menjadi isi nastar itu sih mainstrem. Tapi bila rasa nanasnya asin selayaknya air lautan, barulah itu nastar ekstrem!

Begitulah, pembaca Nekad Naked tercinta, butir-butir pasir tadi ternyata bukan gula tetapi garam iodium yang membuat acara masak-memasak saya gagal total. Dengan berurai air mata dan mengurut dada, saya hanya melambai dadadada ketika akhirnya nanas itu berakhir di tempat sampah. Saya pun bergegas turun ke supermarket untuk menggantinya. Sibbb, munasib.

***

2014-10-16

[Curcol] Gembreng Seng

Gembreng Seng

Minggu pertama bulan Juni ini, pengguna jejaring sosial di kalangan teman-teman di Hong Kong dihebohkan dengan tulisan sebuah akun yang merendahkan status pekerjaan sebagai TKW (Tenaga Kerja Wanita). Tak ayal, teman-teman di Hong Kong langsung meradang. Kemarahan mereka segera tersulut. Screen shoot tulisan beberapa baris itu segera tersebar dari beranda satu ke beranda lainnya. Adu komentar pun terjadi. Grup-grup obrolan online yang biasa diunduh dari HP Android juga menjadi lahan penyebaran.

Beberapa pekerja migran asal Indonesia di negara penempatan lainnya pun turut geram. Seandainya mau sedikit membuka mata, tentu penilaian miring itu tidak digeneralisir untuk seluruh TKW. Toh semua itu tergantung dari pribadi masing-masing, bukan?

Marilah kita tengok lebih dekat bagaimana kondisi sebenarnya dari TKW Hong Kong itu sendiri. Mereka adalah wanita-wanita hebat, tangguh dan kreativ. Banyak diantara mereka yang memanfaatkan satu hari liburnya tiap minggu untuk sekolah, kuliah, kursus, berkreasi di dunia fesyen dan modelling, menyanyi, olahgara, advokasi dan banyak lainnya termasuk di dunia fotografi. Kemudahan menyalurkan bakat dan hobi khususnya di dunia fotografi ini kemunginan besar disebabkan oleh banjirnya gadget, yang didukung dengan gaji bulanan yang lumayan besar. Maka jangan heran jika di seputaran lapangan victoria, kita akan menemukan mbak-mbak cantik berkalung kamera.

Saya sempat berfikir, jika mbak-mbak fotografer berkalung kamera, apakah mbak-mbak penulis juga berkalung lappy? Secara lappy adalah salah satu pendukung dunia literasi. Hohoho, stop, stop! Fikiran itu segera saya tepis, toh itu hanya sekedar imajinasi kebablasan seorang TKW Hong Kong yang mencoba peruntungan mendapat gaji tambahan dari sebuah tulisan untuk menambah biaya hidup dan dana pendidikan (pengakuan jujur sambil nunjuk hidung sendiri, eh!).

Demikian juga dengan teman saya, Nanik. Ia adalah salah satu pecinta dunia foto, bukan sebagai sosok di belakang kameranya tetapi sebagai objek jepretnya. Setiap ada kesempatan, ia akan bergaya paling ehem-ehem, jos gandos, top markotop dan sip markusip. Memang, ia memiliki latar belakang sebagai seorang "pewarta foto" selfie, yakni sosok yang selalu mewartakan segala aktivitas pribadinya dengan potret lalu mengunggahnya di jejaring sosial. Entah itu makan, minum, masak, belanja, berangkat mandi, maupun tidur. Cita-citanya sungguh mulia. Yaitu: menjadi model yang cukup disegani. Dalam bahasa Jawa, disegani berarti diwenehi sega (dikasih nasi)!

Maka ketika mimpi ke arah sana mulai kelihatan jalannya, aktivitas sebagai "pewarta foto" selfie pun dikurangi. Kini ia lebih sering beraksi di depan kamera fotografer. Dalam menjalani aktivitas barunya ini, selain make-up, ia pun harus ganti-ganti kostum. Penampilannya disulap lebih jling. Wajahnya yang eksotis khas Melanesia didempul dengan bedak yang lumayan tebal. Pipinya dimerah-merah, kelopak matanya dibiru-biru, tapi saya memohon kepada Anda untuk tidak membayangkan wajahnya seperti habis kena jotos, ya. Meskipun saya mendeskripsikannya 11 12 dengan luka memar.

Menurut Nanik, ia sangat menikmati kegiatan itu. Adiktif yang positif, katanya. Ia makin familiar dengan asesoris fotografi seiring dengan seringnya bersinggungan dengan benda-benda itu. Hari Minggu itu, ketika ia sedang on duty, seorang teman memegang benda pipih nan lebar, masing-masing dua sisinya berwarna emas dan perak dengan pinggiran hitam. Benda itu senantiasa diarahkan ke muka Nanik. Sampai-sampai mata Nanik ikut tersiksa karena silau.

Oleh karenanya, kegiatan pun dipause, break, istirahat atau apapun kata sepadan yang memiliki makna serupa. Selain untuk melemaskan otot-otot yang kaku, ngobrol dengan sesama tim ternyata bisa mendekatkan dan mengeratkan hubungan pertemenan. Sesekali bercanda, minum atau ngemil makanan ringan. Bahkan obrolan tidak penting pun menjadi bumbu pemanis suasana hari itu.

"Itu apa sih kok kayak gembreng seng?" tanya Nanik tiba-tiba.

Haaahhh? Gembreng? Sekelompok wanita pekerja migran yang sedang belajar fotografi itu tertawa serempak tanpa aba-aba. Mata mereka langsung tertuju pada reflector yang disandarkan pada tembok. E... lhae.

2014-10-11

[Curcol] Bahasa Inggis Jongkok

Bahasa Inggis Jongkok

Pentingnya penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, di era serba canggih seperti sekarang ini adalah hal mutlak. Bahasa komunikasi internasional satu ini memang menjadi momok bagi saya yang kemampuan berbahasa Inggris sangat rendah. Oleh karenanya, saya terpaksa ikut les gratisan pada suatu lembaga non-profit milik pemerintah Hong Kong untuk mengup-grade diri.

Tak hanya itu, saat menyebut kosakata bahasa Inggris yang grathul-grathul, seringkali saya menjadi perhatian teman-teman. Termasuk salah menyebut eyebrow untuk alis. Untunglah teman-teman saya pada jago Inggris. Sehingga mereka mengoreksi pembenaran saat itu juga. Kekurangan saya ini tidak hanya membuat keprihatinan tapi juga guyonan ketika menikmati waktu liburan. Sudahlah, paling tidak saya menginspirasi teman-teman saya agar tetap ceria meski dengan segala kekurangan yang ada.

Kesadaran akan minimnya berbahasa Inggris ini sebenarnya terdeteksi saat berada di bandara Adi Sutjipto, ketika hendak kembali ke Hong Kong beberapa waktu lalu. Saat itu, saya membaca flight time 01:15 sebagai waktu penerbangan, bukan lamanya penerbangan. Alhasil, saya sudah standby di bandara sejak pukul 12 siang meski pada penerbangan domestik menuju Jakarta tertera pukul 19:40.

Ketika kertas tersebut saya tunjukkan kepada petugas yang gagah perkasa memesona seluruh wanita di bandara Yogyakarta itu beliau meluruskan pemahaman saya yang ternyata bengkok sebengkok-bengkoknya. Ya ampun! Artis Hong Kong kok bahasa Inggrisnya jongkok, sepertinya begitu makna dari tawa renyah yang dilemparkan kepada saya dan rombongan.

Tak perlu mungkir, sobat Nekad Naked. Saya ini memang artis yang berperan menjadi pembantu. Akting saya bisa dilihat sebuah TV yang bernama CCTV dan disiarkan secara live di lift apartemen.
Akhirnya, dengan lagak sok cuek, saya mengucapkan terimakasih kepada bapak tadi dan segera menitipkan koper di loker bandara. Maksud saya sih untuk menutupi rasa malu dan berharap bapak tadi tidak mengenali saya ketika masuk gate malam nanti.

Untuk menghabiskan waktu hampir setengah hari itu, saya dan saudara yang mengantar saya muter-muter Yogyakarta dengan Trans Jogjanya. Kami hunting oleh-oleh di Taman Pintar dengan jejeran toko dan koleksi bukunya yang bikin ngiler, menikmati pempek di Ambarukmo barulah kembali ke bandara.

Ah, ada untungnya juga kejadian waktu itu. Dengan begitu, saya jadi lebih greget untuk belajar bahasanya si David Beckamp meski harus mengalami kejadian memalukan.

***

2014-10-03

[Curcol] Terkunci di Kuburan

Terkunci di Kuburan

Hari yang paling dinanti para pekerja migran sentero tlathah Bauhinia selain hari gajian adalah hari libur. Memang, hukum perburuhan di Hong Kong memberi waktu istirahat 1 hari dalam seminggu bagi pekerjanya. Bila beruntung, libur ini akan didapatkan tiap hari Minggu dan hari libur nasional lainnya yang berjumlah 12 hari setahun. Dalam kenyataannya, banyak pekerja migran yang hanya mendapatkan libur 2x sebulan atau malah 1x sebulan.

Banyak faktor yang menyebabkan adanya kasus semacam ini. Entah karena perjanjian di awal kontrak kerja, ketidaktahuan hukum perburuhan, atau memang sebentuk pembodohan berjamaah antara segitiga maut antara lopan, agen dan PeTe. Bahkan pekerja itu sendiri yang hooh-hooh saja menerima keputusan tersebut demi pengiritan karena berfikir libur itu habis-habisin uang transport dan uang makan. Belum lagi sepulang libur capeknya angudubillah dan kondisi tempat kerja yang mirip kapal pecah ketika ditinggal kungyan menikmati istirahat seharian. Ketika jelas-jelas hak liburnya disunat habis-habisan, sebagian mereka banyak yang mengeluh dengan sesamanya ketika berpapasan di pasar, di MTR, di jalan, atau paling keren ... curhat di fesbuk. Kalo penulis curhatnya di blog, eh ...

Bagi pekerja yang beruntung, mereka bisa memanfaatkan hari liburnya dengan mengikuti pengajian, seminar/ workshop, kursus-kursus hingga sekolah atau kuliah. Segelintir pekerja yang beruntung itu adalah Asti yang saat ini menginjak tahun pertama di rumah majikan barunya di Sheung Wan.

Asti ini termasuk pekerja nekad - bukan naked (seperti nama blog ini ya). Hehehe, kalo naked kan syerem banget! Sosok anggun (anak Nggunung) yang hobi mendaki puncak-puncak tertingggi di Hong Kong dan kalungan kamera segede ember ini memang suka dengan foto-foto. Berbagai aliran fotografi ia coba. Namun yang paing sering dilakukannya adalah s-e-l-f-i-e, selfie, memotret diri sendiri (termasuk penulis hihihi).

Dalam perjalanan dari lapangan Piktori menuju salah satu makam/ kuburan di Hong Kong, bersama teman-temannya, ia membahas tema "generasi menunduk" yang menjangkiti manusia-manusia modern hari ini. Mereka menunduk bukan karena menaruh hormat atau takzim dan tunduk, tetapi ini adalah gambaran generasi yang terhipnotis dunia maya yang disediakan gratis oleh gadget canggih yang saat ini menjamur di mana-mana. Dalam kondisi apapun, mereka akan fokus menunduk guna memelototi barang elektronik pipih nan slim itu. Meski ada teman di dekat, generasi ini lebih peduli dengan gadget canggihnya itu.

Kembali ke Asti, begitu sampai di kuburan, Asti segera melancarkan aksinya. Ia dan teman-temannya belajar memotret model bertema "beauty of spooky". Hehehe, keren kan temanya? Padahal beberapa waktu sebelumnya, Asti sudah ditakut-takuti bakal kena usir juru kunci alias penjaga makam. Bukan Asti namanya kalo gampang menyerah. Dengan aksi berpura-pura cuek berikut ransel segede gaban yang nangkring di punggungnya, ia dan temannya memasuki makam. Mereka terus ke bagian dalam hingga mentok ke tempat yang agak tersembunyi guna menghindari petugas yang sewaktu-waktu bisa mengusir penyelundup asing ini dengan paksa.

Saking asyiknya jepret-jepret, jarum jam pada arloji Asri telah menunjukkan angka 6 dan 2. Wah, gawat, itu tandanya sudah jam 6 lebih sepuluh menit! Dari pojok kiri makam menuju pintu gerbang, mereka pun berjalan dengan tergesa. Ada rasa was-was. Susah payah teman Asti menyembunyikan kamera di balik baju kebesarannya (baju yang ukurannya terlalu besar dari postur tubuh). Bahkan, sempat keluar ide melompat pagar kuburan jika pintu gerbang dikunci.

Dan benar! Pintu gerbang telah digembok. Waduh, nggak lucu kan kalau para tukang foto dan modelnya bermalam di kuburan? Cilaka dua belas nih!

Untunglah kantor/ ruang penjaga yang berhadapan langsung dengan pintu gerbang yang berjarak sekitar 3 meter di bagian dalam makam itu belum kosong. Seorang penjaga keluar. Hati Asti yang semula ketar ketir terkiwir-kiwir menjadi sedikit lega. Sebelum disemprot penjaga, Asti pasang wajah innocent dan tersenyum paling manis sejagad raya. Ia pun mengucap maaf berkali-kali.

Pak penjaga akhirnya membuka gembok dan memersilakan asti dan teman-temannya keluar. Tak lupa Asti diperingatkan bahwa makam itu tutup pukul 6. Sambil mengucapkan maaf dan tersenyum sekali lagi, Asti dan teman-teman pun pergi. Suasana seram tetap membuntuti ketika gelap mulai menggerayangi terlebih masih harus melewati makam katolik dan makam muslim yang terletak berjajar. Membayangkan terkunci semalaman di dalam makam benar-benar membuat ngeri. Hiii.

***

2014-09-17

[Fiks-isme] Bun Yan Bun Maow


Foto doc.pri


Oleh: Sinna Hermanto (44)

“Kamu ke sini sekarang, ya. Ada yang mau interview.”

“Sekarang? Boss yang kemarin kita obrolin itu ya, Bu?”

“Bukan. Boss ini lain lagi. Anak-anak shelter lagi partime, cuma kamu tok yang available, buruan ke sini, Er.”

*

Erlina bergegas ke kamar mandi, beberes diri. Ia memilih kostum dengan atasan warna kuning. Bagi orang Hongkong, kuning yang dalam bahasa Kantonis ‘wong’ memiliki pelafalan yang sama dengan membawa keberuntungan. Sebenarnya Erlina tak begitu percaya dengan klenik atau semacamnya. Tapi ia hanya bertukar peran seandainya ia berada pada posisi orang Hongkong memandang budayanya.

Terlebih, Erlima telah berpesan kepada staf agen yang mencarikannya kerja, bahwa ia hanya bersedia interview kerja merawat lansia, bukan balita. Dan kebanyakan, lansia sangat teguh dengan karakteristik budayanya. Itulah mengapa ia memilih warna kuning.

Erlina baru setahun di Hongkong. Ia kena PHK lantaran majikannya yang dulu pindah kewarganegaraan ke Kanada. Satu setengah dasawarsa kembalinya Hongkong ke China ternyata banyak membuat warga Hongkong kurang puas dengan kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah. Demo gelombang besar sering terjadi meski dalam aksi demo itu ada indikasi permainan uang.

Yang paling utama adalah sistem pendidikan. Pada masa ‘jajahan’ Inggris dulu semua sekolah di Hongkong menjadikan bahasa Inggris aktiv-pasif sebagai bahasa utama dalam belajar mengajar, kini sekolah di Hongkong membaginya menjadi sekolah ‘Inggris’ dan sekolah ‘Kantonis’. Hasilnya, sekolah ‘Kantonis’ memiliki penguasaan bahasa Inggris yang buruk ketimbang sekolah ‘Inggris’. Hal ini sangat berpengaruh dalam persaingan pencari kerja. Itu pulalah salah satu penyebab majikan Erlina memecat dengan hormat pembantunya itu.

*

Shelter milik agen terletak di lantai 3 dan 5 bangunan lawas di seberang gedung kantor. Sebuah jalan raya memisahkannya. Meski begitu, Erlina harus memutar jalan di jembatan bundar khusus pejalan kaki lantaran tidak ada lampu lalu lintas di jalan utama.

Begitu sampai di kantor agen, mata Erlina disuguhi senyum tipis oleh seorang perempuan paruh baya yang duduk di depan Vanessa, staf kantor yang menelefonnya tadi. Keduanya saling mengangguk hormat. Vanessa mengajak kedua perempuan itu duduk di sofa bludru warna biru tua di pojok kantor.

Nei sik em sik kong kwong dong wa? (2)”

“Bisa, dikit-dikit,” jawab Erlina ketika Vanessa meninggalkan keduanya karena telefon kantor berdering.
Perempuan itu memperkenalkan dirinya bernama Sally. Ia menjelaskan bahwa ia membutuhkan pembantu hanya untuk bersih-bersih rumah dan ngurus kucing sebanyak 9 ekor. Iya, 9 ekor.

“Kamu punya kamar sendiri, bukan tidur bersama kucing-kucing itu. Aku jarang pulang makan, mungkin agak repot saat anakku yang sekolah di USA pulang liburan ke Hongkong. Pokoknya jobmu urus kucing-kucing itu. Gimana?”

“E … e … Lam ha sin aa, (3)” entah ini hanya taktik Erlina atau jual mahal saja.

“Kenapa? Kamu takut kucing?”

“Enggak.”

“Aku tau kamu bakal capek ngurus banyak kucing. Gimana kalo gajimu aku bulatkan jadi 5000?” Mata Erlina sedikit terbelalak, mulutnya sedikit menganga, jantungnya sedikit berdegup lebih kencang. “Tapi dalam kontrak kerja tetap tertulis seperti undang-undang. Ini hanya kamu, aku dan agen yang tau. OK?”

*

Memasuki apartemen Sally, Erlina langsung disambut meongan kucing. Apartemen ini terdiri dari 1 kamar utama, 2 kamar kecil, 1 kamar mandi serta dapur bersih yang menyatu dengan ruang makan dan ruang tamu.

“Kucing-kucing ini tidur di ranjangnya masing-masing, ada di kamarku. Aku tak peduli gimana kamu rawat rumah ini. Anggap saja rumah sendiri. Yang penting, kalo ada apa-apa, kamu laporan atau tanya dulu ke aku. Oh ya, kamar kamar kecil yang berhadapan dengan kamarmu itu jangan kamu diutak-atik. Biar aku yang urus. Mengerti?”

Erlina mengangguk. Sesekali matanya mencuri-curi pandang pada kucing-kucing yang menatapnya. Ketika kedua matanya bersirobok, ia seperti melihat kilatan cahaya di mata kucing-kucing itu.

“Kenalin, ini Mo Mo, peranakan Turkis Anggora. Kedua matanya warnanya tidak sama, satunya kuning, satunya biru. Anak pertamanya 2, Suet Fa dan Siu Pak. Yang masih kecil ini Candy dan Ku Ku,” dua nama terakhir yang disebut Sally nampak masih lucu. Mereka berebut puting Mo Mo untuk menyusu.

“Yang ini triplet : Mori, Kara dan Nala. Nah, yang ini Tai Wong. Dia lagi sakit,” Melihat Triplet, fikiran Erlina melayang pada kucing telon peliharaannya di kampung. Benar-benar mirip dengan totol-totol tiga warna, abu-abu-kuning dan putih. Sedangkan Tai Wong mirip Garfield. Kepala Tai Wong memakai corong besar dari plastik. Kaki kanan-belakangnya diperban, jalannya agak pincang.

Lalu Sally menjelaskan bahwa kucing-kucing ini adalah binatang peliharaan suaminya. Ia dan suaminya sengaja mengadopsi kucing-kucing yang ditinggalkan atau dibuang pemiliknya dari SPCA (Society for Prefention of Cruelty to Animal). Tak jarang, binatang di SPCA banyak yang cacat karena mengalami penganiayaan. Tai Wong contohnya.

Anehnya, Sally sama sekali tak mengenalkan suaminya.

*

Hari ini Erlina sedikit bermalas-malasan lantaran Sally tak hanya tidak pulang makan tetapi tidak pulang ke rumah. Sally ada urusan bisnis di Macau. Terlebih, info BMKG-nya Hongkong mengabarkan datangnya bak ho fung gao (4) bernama Khalmaeni. Tiap bulan September, Hongkong selalu mendapatkan kiriman badai dari Filipina selayaknya Jakarta yang menerima kiriman banjir bila musim penghujan tiba.

Berita di TV juga menyatakan bahwa badai ini akan menyapu dataran Hongkong selepas jam 24 malam. Sebelum berangkat tadi, Sally berpesan agar menimbun stok logistik untuk dua hari. Kemudian memasukkan pot-pot bunga yang berada di balkon, mengikat kuat-kuat barang-barang di balkon dan melakban seluruh jendela kaca.

Saat malam semakin pekat, mendung yang memayungi tanah Bauhinia ini  mulai terlihat pekat. Gulungannya makin tebal. Lajunya makin cepat bercampur dengan titik-titik air yang semakin lama semakin deras. Hujan datang. Gelombang laut berakhir di bibir dermaga dengan buih putih. Dermaga itu nampak dari jendela kaca kamar Erlina di lantai 28. Ia mematung di sana.

Kemudian ia ingat bahwa jendela di kamar kecil yang berhadapan dengan kamarnya belum dilakban. Ia bergegas mengambil lakban dan gunting. Tai Wong dan triplet menunggu  di depan kamar kecil itu. Mo Mo, candy dan Ku Ku beriringan mengikuti langkah Erlina. Suet Fa dan Siu Pak berkelahi di bawah meja makan.

Ketika hendak membuka kamar itu, meongan ke-7 kucing-kucing itu bersahutan tiada henti. Suet fa dan Siu Pak berlarian mengelilingi kaki Erlina. Klik … Oi, kamar ini bisa dibuka? batin Erlina. Biasanya, Sally tak pernah sekalipun lupa mengunci pintu itu.

Pelan, tangan Erlina mendorong pintu. Kucing-kucing itu berebut masuk, saling mendahului. Erlina tertarik sebuah hembusan angin. Pintu tertutup kembali dengan paksa. Brakkk. Meongan berhenti.
Dalam gelap, sepasang mata nampak seperti bersinar, dua warna, toska dan emas. Mirip dengan mata Suet Fa. Hanya saja, mata ini berukuran lebih besar.

“Suet Fa … Suet Fa nurut ya. Ini aku, Erlina. Suet Fa …” tubuh Erlina gemetar.

“Whuaaarrrr … Wuarrr Wuarrr,” ribut sekali suara kucing-kucing itu. Entah seperti kucing mau kawin atau berkelahi. Erlina mencoba meraba dinding. Tangannya menemukan saklar. Klik.

Mata Erlina terbelalak manakala menemukan majikan perempuannya berada di kamar itu. Badannya berupa kucing dan kepalanya berupa manusia seukuran macan. Ia tak sendiri. Ia ditemani seekor kucing berkepala seorang lelaki dikelilingi 9 kucing-kucing kecil yang selama ini diurus Erlina. Sepasang bun yan bun maow itu menerkam Erlina.

Whuaaarrr …

*

Hari berganti, bulan berlalu, nampak seorang perempuan menikmati sarapan. Ia duduk di sofa sambil menikmati berita Selamat Pagi Hongkong. Ia begitu lahap menghabiskan makanannya itu. Sebungkus pelet kucing dan sekotak susu segar menjadi makanan favoritnya.

“Hmmm, ibu hebat. Sarapannya dihabiskan. Habis itu dimakan obatnya ya, Bu,” seorang berjubah putih mulai meracik butir wara warni.

Di luar kamar itu, tepat menempel di tembok pagar, tertulis “San King Peng Yuen(5)”.

***

1. Manusia setengah kucing
2. Kamu bisa bicara Kantonis?
3. Aku pikir dulu ya
4. Taifung nomor delapan (T8)
5. Rumah sakit jiwa

2014-09-13

[Gallery] I'm Flying Without Wings

I'm Flying Without Wings


Kamu pecinta fotografi? Penikmat karya foto? Atau sekedar hobi gila-gilaan di depan lensa? Ahay, kamu tentu tau dong salah satu karya yang rame diperbincangkan diantara temen-temen sewaktu bikin foto bareng/ hunbar gitu? Itu tuh, foto levitasi.

Ini pakai bangkupod dan timer. Masih shake tapi udah kecapekan loncat.

Apa sih levitasi? Secara gampangnya, levitasi adalah pose dari objek yang kita foto dalam keadaan melawan arah grafitasi bumi. Karya levitasi ini bukan hasil manipulasi atau olah digital.

Misal kita motret model (orang). Nah, modelnya ini terlihat seolah-olah mengambang. Tapi inget, mengambang loh bukan meloncat. Kalo meloncat namanya jump shoot dong, hehehe.

Selain levitasi, ada juga semi-levitasi. Semi-levitasi ini pada prinsipnya sama seperti levitasi. Hanya saja, modelnya tetap menginjak tanah tapi posisi badan bukan tegak lurus garis horizontal tetapi miring sekian derajad, getchuuu.

Ini nih sedikit tips membuat foto levitasi:
1. Usahakan ekspresi model terlihat natural.
2. Manfaatkan continuous shooting, trus pilih gambar yang paling pas 'melayang'nya.
3. Bila s-e-l-f-i-e sambil ngambang, manfaatkan tripod dan timer pada kamera. Bila tidak ada tripod, boleh minta tolong orang lain untuk memegang kamera (orangpod), pagarpod, sepatupod, treepod, dll.
4. Gunakan peniti/jarum pentul untuk mengurangi gelembung pada baju. Boleh menggunakan hair spray/ jell rambut agar rambut lebih rapi.
5. Teknik shootnya: pakai hi-speed dan low-angle.
6. Cari tempat yang aman dan tidak mengganggu orang lain

Berikut hasil trial dan errornya.

Ini pakai orangpod dan timer. Kangen Jogja, hiks.

Ini pakai orangpod. Sttt ... the power of shadow.

Ini pakai orangpod. Nggak mau kalah narsis dari mbak model.

Nge-lev yuk. Yeahh, finally, I'm flying without wings coz I'm LOVE-VITATION. (Risna)

Teks & photos: by me.
***

2014-09-07

[Curcol] Mendadak Salon

Mendadak Salon

Teman-teman sejawat yang sama-sama ngawula alit di Hong Kong tentu sangat mahfum bahwa menjelang hari Imlek, rumah majikan harus dielus-elus hingga kinclong. Lantai rumah harus digosok hingga putih bersih. Bila perlu direndam dengan bleach atau pemutih. Semua laci dikeluarkan isinya lalu ditata ulang biar rapi. Minyak-minyak yang menempel pada perabot dapur harus 'say: hai, goodbye' sebelum hari raya China tiba. Pokoknya semua dibersihkan kalau perlu diganti yang baru. Bahkan seluruh benda dari kaca harus nampak bling-bling sparkling.

Sama halnya dengan saya. Saya pun mengelus-elus perabot tempat kerja saya. Ceritanya, hari itu saya membersihkan dapur. Karena kurang berhati-hati, saya malah memecahkan vas beling bening milik ndoro juragan. Vas itu baru saya bersihkan yang nantinya digunakan untuk menaruh bunga segar. Begitu selesai saya cuci, vas tersebut saya taruh di lantai agar tidak tersenggol tangan atau tidak jatuh lantaran masih ada beberapa perabot lagi yang menunggu giliran dibersihkan. Ah, memang sudah nasib vas beling nan malang itu harus tersenggol kaki. Dan pranggg, pecah!

Dengan memasang wajah tanpa dosa dan menenteng vas bunga yang pecah bagian atasnya, saya pun segera laporan kepada juragan. Kalau marah ya marahlah, toh saya salah, begitu suara batin saya. Rupanya, hari itu juragan harus berangkat ngantor lebih awal di hari terakhir kerja sebelum liburan hari raya tiba. Bahkan ia berpesan bahwa ia tidak pulang makan karena ia akan menghadiri pesta bersama teman kerjanya. Karena ia buru-buru berangkat ngantor, kesalahan saya memecah vas bunga diabaikannya.

Ndilalah, ketidak beresan kerja saya hari itu belum berakhir meski pagi tadi saya telah memecahkan vas bunga. Ketika saya membuat nasi tim, saya menggosongkan panci secara permanen. Artinya, dicuci dengan apapun, digosok dengan cairan apapun, diusek-usek dengan spon apapun, gosongnya tidak bisa dihilangkan.

Barulah keesokan harinya, saya membuat laporan bahwa saya menggosongkan panci. Selain pasang wajah innocent, saya bertanya trik membersihkan panci kepada ndoro juragan. Akhirnya YBS (Yang BerSangkutan bukan SBY, catet!) ... Akhirnya YBS meminta saya menggodog air dengan panci gosong tadi agar keraknya lepas. Sayangnya cara ini tidak sukses. Malahan, saya mendapat pujian yang memesona

"Kalau nggak ada aku di rumah, jangan-jangan kamu em co ye. Lihat tuh tuh, pas kamu co ye kamu malah ta lan ye". Duh, Gusti, paringana sabar, batin saya berbisik.

Teringat wejangan eyang ketika saya akan ke Hong Kong dulu, jika ndoro marah, rayu dia dengan memasak makanan kesukaannya. Tak kurang akal, malamnya saya membuat menu kesukaannya dalam porsi yang lumayan banyak. Sambal terasi pakai teri. Biasanya sambal ini dicocol ketika dia makan mie.

Syukurlah, berkat sambal tadi amarah ndoro juragan mulai padam. Malahan, ia meminta saya menjadi tukang salon dadakan. Ilmu mandadak salon ini saya peroleh secara otodidak ketika beberapa waktu yang lalu ia meminta saya membantunya mengerjakan PR sekolah/ les hair stylishnya. Ia merekomendasikan saya untuk ikut les itu karena biayanya gratis. Sedangkan obat-obat kimia dan peralatan penunjang belajar termasuk media peraga harus beli sendiri. Bahkan ia mengatakan bahwa banyak pekerja asal Indonesia dan Filipina yang ikut les di hari Sabtu atau Minggu.

Dengan halus saya menolak ajakan itu. Selain kurang berminat, saat ini saya sedang les bahasa Kanton. Untuk membuatnya tidak kecewa karena gagal 'menghasut' saya dengan kata gratis tadi, saya hooh-hooh saja ketika ia meminta saya memasang rol pengriting rambut sekaligus menuangkan cairan 'amat sangat bau banget' itu pada kepala manekin/ kepala boneka peraga. Saat itu saya merasa enjoy melakukannya atas dasar rela serela-relanya.

Khusus hari penyiksaan yang dibungkus dalam program acara 'mendadak salon' tadi, ndoro juragan menyiarkannya secara langsung di CCTV, yang dipasang di salah satu sudut ruangan. Kepada pambaca SUARA yang budiman, saya mengimbau: agar sekiranya jangan macam-macam dengan saya. Saya ini artis, loh. Serius, saya bukan masuk kardus TV tapi masuk TV beneran. Nama TVnya ya ... CCTV itu tadi!

Demi sebuah peran kecil-kecilan 'mendadak salon' tadi, saya tidak lagi nyalon memakai kepala manekin tetapi kepala asli ndoro juragan. Padahal, tugas mbabu saya masih banyak, bekas makan malam juga masih berantakan di atas meja. Tapi demi mandat YBS, saya siap melaksanakannya dan membereskan mangkok-mangkok kotor itu setelah acara nyalon itu selesai.

Mendadak salon seri dua ternyata masih menunggu. Buktinya, seusai sarapan di hari esoknya, ndoro juragan memanggil-manggil saya. Saya kira YBS akan memberi mandat membersihkan ini itu yang kemarin terlewat dielus-elus. Saya segera menganalisa sumber suara yang ternyata bersumber dari dalam toilet. Saya segera mendatangi sumber suara.

Dengan memakai baju tidur lengkap, ndoro juragan memanfaatkan toilet yang tertutup itu sebagai tempat duduk. Saya bertanya kalau-kalau ada yang bisa saya banting, eh maksudnya, kalau-kalau ada yang bisa saya bantu. Lalu mengalunlah sabda pandita ratu.

"Ce, tolong bantu saya ngecat rambut, ya" pintanya. Owalah, tadi saya telanjur suudon.

Pesan moral yang saya petik dalam program acara spektakuler awal tahun 2013 ini adalah: cara kerja saya yang trial dan error mendekati imlek tahun ular air ternyat bisa dihapus dengan mendadak salon seri 1 dan 2. Mulai hari itu, saya merasa seperti bermetafora menjadi pekerja salon beneran. Tiba-tiba saya ingin menirukan gaya banci kaleng di Taman Lawang.

"Kemon, cyin. Eike colourin rambut yey, ya?" Eh.