[Nekad Blusukan] Sam Tung Uk: Hong Kong Tempo Doeloe

"Sam Tung Uk Museum, komplek perumahan tempo doeloe ala Hong Kong ini merupakan salah satu situs sejarah peninggalan masa lampau yang menggambarkan kehidupan masyarakat Hong Kong, khususnya masyarakat klan Hakka (marga Chan) yang berasal dari propinsi Guang Dong, China. ," lanjutnya.

[Nekad Blusukan] Lei Yue Mun, Eksotisme Wisata Kampung Nelayan

Orang bilang: foto-foto cantik itu biasa, foto-foto ekstrem itu barulah luar biasa.

[Nekad Blusukan] Sheung Wan: Pusat Graffiti di Hong Kong

Tai Ping Shan merupakan daerah Sheung Wan bagian atas. Area ini terkenal sebagai tujuan pecinta seni dengan aneka galeri serta barang-barang antiknya. Sehingga tak salah jika Sheung Wan menjadi salah satu pusat grafiti di Hong Kong.

[Nekad Blusukan] Plesir ke Pacitan

Pantai Teleng Ria berada di teluk Pacitan. Ini adalah salah satu pantai yang menjadi jargon tanah kelahiran presiden SBY. Tanah berumput hijau terhampar luas sebelum mencapai bibir pantai. Bunga bakung ungu menyembul di antara rerumputan itu. Ada juga segerombol pohon cemara jarum dan tunas kelapa yang mesih rendah. Wow, indah bukan buatan.

[Nekad Blusukan] Hong Kong Rasa Kanada

Sweet gum bukanlah mapel. Bentuk daunnya ada yang menjari 3, 4 dan 5. Ukurannya pun berbeda sesuai dengan musim di mana pada musim semi, daunnya lebih lebar.

2014-12-19

[Sekitar] Galang Dana Untuk Banjarnegara

Sebagai bentuk kepedulian terhadap bencana tanah longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah, Kelompok Belajar (Pokjar) Mahasiswa Mandiri Universitas Terbuka Hong Kong (UTHK) Non-Sipas mengadakan penggalangan dana di daerah Causeway Bay (17/12/2014). Acara yang dimulai pukul 12 hingga 2:30 siang itu berhasil mengumpulkan bantuan sebesar HKD 750 dan langsung disalurkan melalui lembaga sosial Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK). Pihak financial DDHK, Fajri, menerima langsung bantuan tersebut di kantor yang beralamat di Man Man Mansion, Causeway Bay.

Mahasiswa Sastra Inggris semeser 4 sekaligus penanggung jawab kegiatan, Eni, menyatakan terimakasih atas kepedulian teman-teman pekerja migran di Hong Kong khususnya mahasiswa UTHK. Meski ia datang terlambat karena ada urusan di agensi, ia mengajak tantenya, Salmini, untuk menggantikan keberadaannya di awal acara.

"Tanteku mau gabung," ucapnya melalui whatsapp.

Ia juga mengatakan bahwa keluarga dari pihak suaminya juga tertimpa musibah ini. Namun tidak sampai jatuh korban jiwa. Sampai berita ini ditulis, setidaknya ada 86 orang meninggal dan puluhan lainnya belum ditemukan. (Risna)








2014-12-14

[Curcol] Pengobatan Alternativ untuk Hengpun

Pengobatan Alternativ untuk Hengpun


Kabar gembira, kabar gembira. Gadget merek "nanas" ada ekstraknya.
Ya .. mungkin sebagian kita bakal terheran-heran dengan gaya hidup bangsa kita sendiri, bangsa manusia - bukan bangsa lelembut, yang entah keracunan kecubung atau salah minum obat, kok bisa-bisanya antri berhari-hari demi sebuah gadget. Itu loh, hengpun (HP) merek "nanas" yang mengeluarkan seri baru. Harian berbahasa Inggris "De Stand-Art" pun mengulasnya pada pertengahan September lalu.

Entah karena prestis atau alasan bisnis, setiap barang keluaran baru memang sangat memikat hati, baik si empunya maupun tetangga. Pasalnya, bila tetangga ikut kepincut dengan barang milik kita dan dia ingin membelinya, terutama barang limited edition - one and the only, tentu kita bisa semena-mena menaikkan harga. Apabila dalam keadaan ceteris paribus (stabil), hukum ekonomi pun langsung bekerja. Di mana, jika barang sedikit dan permintaan banyak maka harga akan naik.

Sayangnya, masa-masa seperti itu bukanlah masa yang tidak terbatas. Lantaran, jika hengpun itu sudah 'munggah mesin' seperti hengpun milik saya yang keluaran Kroya, maka dikasih gratis pun jarang ada yang melirik (kecuali kalo kepepet). Yaaa gimana lagi, itu satu-satunya harta berharga saya yang meski sudah keluar masuk rumah reparasi, hidup saya sangat bergantung padanya. Kalo tidak ada dia, gimana saya uka-uka, gimana saya gingkai-gingai ria atau pun bergaya?

Sebenarnya saya sudah mati bosan dengan harapan palsu yang diberikan hengpun saya. Dia, si hengpon, kondisinya sudah lola (loading lama), kadang nyambung, selebihnya error. Mau beli baru, eee ... masih tersandung urusan fulus. Terpaksa deh dompet kosong yang dielus-elus.

Secercah harapan muncul ketika berbincang dengan teman saya saat menunggui anak asuh les Mandarin. Teman saya bilang, saya terlalu ceroboh ngrumat hengpun. Bahwasanya batrei bisa "bunting" alias melendung jika di-charge­ sambil digunakan, baik digunakan untuk menelefon, berselancar internet atau nge-game. Tidak hanya membuat batrei cepat drop, bisa-bisa hengpun pun ikut meledak, tegasnya.

Ia lalu menunjukkan sebuah tautan di tembok jejaring sosial, fesbuk. Berita itu menceritakan tentang ledakan Aiyfon yang mengakibatkan pemiliknya ikut meninggal dunia saat si pemilik menggunakan Aiyfonnya sambil di-charge. Ia juga berpendapat, apabila kita cerdas ngrumat hengpun, maka kecelakaan semacam itu bisa dihindari asalkan meng-off-kan hengpun saat batrei diisi.

Saya membenarkan ucapannya karena saya pun memiliki masalah yang sama, batrei mudah drop lantaran kebiasaan buruk saya yang sama persis apa yang diungkapkan teman saya. Rupanya, masalah ini berimbas pada aplikasi gratisan yang saya unduh dari play store. Aplikasi itu sering error dan layarnya ikutan heng. Hengpun minta diistirahatkan beberapa hari agar bisa sedikit normal.

Berbagai usaha sudah saya lakukan termasuk cara yang berbau klenik dengan memasukkan hengpun ke dalam gentong beras (eh busetttt). Hahaha ... Benar, nalar memang sering rusak karena kepepet - apalagi kepelet.

Teman saya yang sudah terpingkal-pingkal dengan dengan kisah klenik tadi, kini menyarankan untuk mencoba cara klenik lainnya. Sebenarnya ia hanya berbicara iseng. Tapi saya yang kelewat serius menanggapi ucapannya. Itung-itung sambil nunggu celengan jago saya penuh buat melamar hengpun baru, tidak ada salahnya kan dicoba, batin saya. Caranya: batrei disimpan dalam freezer selama dua hari dua malam.

Ajaib, setelah didinginkan (atau dibekukan ya?) dalam freezer, hengpun saya kembali normal. Beberapa aplikasi tak terselamatkan dan harus dibuang tetapi aplikasi lainnya masih berjalan normal. Hanya saja, saya harus rutin mendinginkan batrei bila tak ingin error-nya kumat lagi. Terimakasih Tong Kosong karena telah memberikan kabar gembira bahwa hengpun merek buah nanas ada ekstraknya dan bisa diaplikasikan untuk hengpun keluaran Kroya.

Sinna Hermanto.

2014-12-07

[Curcol] Bau Bacin Bikin Kapok Nikus

Dalam kamus uka-uka di antara teman-teman saya, nikus adalah istilah yang digunakan untuk menyebut tingkah kita yang suka ngemil secara sembunyi-sembunyi, di dalam kamar bahkan di bawah selimut. Hal ini terinspirasi dari ulah tikus yang memiliki ulah serupa, yakni makan sambil sembunyi-sembunyi.

Tetangga saya di apartemen sebelah juga memiliki kebiasaan ini. Vivi, begitu nama panggilannya. Ia adalah pengikut setia golongan orang-orang yang hobi nikus. Suatu waktu, di malam-malam mendekati pergantian hari, sebuah SMS masuk handphone saya yang berbunyi tentang keluhan sakit perut. Tiada lain dan tiada bukan adalah SMS dari Vivi.

Saya segera membalas dengan isi SMS yang berisi agar Vivi segera mengoleskan balsem ke bagian perut yang sakit. Tidak perlu menunggu lama, ia pun membalasnya.

"Aku sakit perut karena lapar, balsem gak bisa dimakan. Kamu kira aku mumi yang diolesi balsem gitu?"

Eh, bukannya mumi itu dibalsam, bukan dibalsem? Sambil mikir antara balsam dan balsem, saya pun menyarankan agar ia segera ke dapur untuk searching dan browsing kue kering atau apalah stok makanan yang ada di sana. Setidaknya ngremuk mie instan dan dimakan mentah-mentah bisa menenangkan cacing kremi yang ngendon di perutnya agar tidak menggelinjang minta jatah konsumsi. FYI (For Your Information), ngremuk mie ini adalah trade-mark dan tagline anak kos generasi 90-an. Bahkan saat ngampus di PT (Perseroan Terbatas-Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia, bukan Perguruan Tinggi), mie instan diseduh dengan air kran mentah adalah sedikit hal ekstrem yang pernah saya lalui di daerah pinggiran Jekardah.

Tak berapa lama SMS Vivi muncul lagi. Nggak berani, begitu jawabnya. Bu bos sedang nonton serial drama Korea. Harus melewati ruang tamu dulu (sebelum mencapai dapur), lanjutnya. Akhirnya saya berpesan, sekiranya esok hari ke pasar, ia kudu nimbun stok logistik untuk mengantisipasi 'paceklik' di malam buta.

Lama tidak ada kontak dengannya, sebuah pesan masuk di wosap saya.

"Aku kapok nikus." Oiii, kabar dari Vivi.

Apa pasal? Rupanya saran saya dulu ia jabanin. Vivi suka nyetok makanan dalam kamar dengan alasan fong pin tik dan mudah dijangkau. Ia tidak menyimpannya di dapur. Namun, hal itu menjadi petaka ketika ia suatu hari ia membawa seporsi soto ayam sepulang libur. Ia batal memakan sotonya di dapur lantaran bu bos sekeluarga belum selesai makan malam. Soalnya aturan tidak tertulis di tempat kerjanya adalah ia harus sampai rumah dalam keadaan perut kenyang.

Begitu masuk kamar, Vivi segera menghabisi sotonya. Selesai makan, ia lanjutkan dengan beberes diri alias mandi sembari nunggu penghuni rumah lain menyelesaikan dinner. Ia musti bantu-bantu 'nyupir' alias korah-korah perkakas dapur. Ia tidak tega melihat dapurnya berantakan. Memang, rumah majikan di Hong Kong sebelas dua belas dengan kapal pecah saat ditinggal cece-nya libur. Vivi tergerak hatinya untuk mengumpulkan pecahan-pecahan itu karena bisa disulap menjadi lembaran dolar setiap awal bulan.

Entah saking capeknya atau terkena virus pikun selektiv, begitu acara beberes selesai, Vivi masuk kamar dan langsung merebahkan badannya. Hanya dalam hitungan menit, ia pun terlelap.

Selang beberapa hari, aroma busuk mulai tercium dari pojokan kamar. Ia pun teringat dengan sampah liburan Minggu kemarin yang entah ia taruh di mana. Tiba-tiba, tanpa signal tertentu, bu bos melakukan sidak ke kamarnya. Aroma busuk pun ikut-ikutan pecicilan ngunceki hidung bu bos. Vivi ngeles bahwa kemungkinan bebauan itu berasal dari luar yang dibawa masuk oleh hembusan angin. Bu bosnya hanya menjawab 'haimeh?' kemudian menitahkan agar merazia seluruh isi rumah untuk dibersihkan hingga meling-meling.

Betapa kagetnya Vivi ketika ia mengenduskan hidungnya, aroma itu berasal dari dalam tasnya. Ketika dibuka, ia menemukan bekas bungkus nasi soto yang aromanya bacin banget. Ia pun membuang langsung sampahnya ke lap sap fong sambil mengendap-endap keluar rumah agar bu bossnya yang memelototi komputer di ruang sebelah tidak memergokonya.

"Bener-bener bikin senam jantung," tulisnya dalam wosap.

Dasar jore, jorok cekaleee!

***

2014-11-30

[Curcol] Ngantuk? Cuci Muka Pakai Kopi, Dooooong.

Ngantuk? Cuci Muka Pakai Kopi, Dooooong.

Tersebutlah Bunga, bukan nama sebenarnya, hanya nama di jejaring sosial saja. Ia sahabatku sejak pindah ke daerah pucuk MTR line ungu. Kami biasa bertemu saat libur atau saat antri suttle bus ketika pergi belanja. Maklum, di daerah sini tidak ada pasar, hanya dua supermarket yang kata juragan, apa-apanya mahal banget. Jadi, kami harus belanja ke 'desa' sebelah, di Tseung Kwan O sana, yang berjarak 10 menit dari rumah.

Papasan tanpa sengaja itu terjadi lagi ketika antri suttle bus. Terka saja apa yang terjadi jika dua orang yannei cece bersua. Mereka selalunya membuat polusi suara lantaran nggedubus tanpa sela tanpa jeda. Terlebih volume maksimal dipasang pada pita suara. Seolah-olah dunia milik berdua, yang lain tidak dihiraukannya. Pun mereka suka ngakak-ngakak kalau tertawa. Dan itu pulalah yang terjadi pada diriku dan Bunga.

Tidak seperti pagi-pagi sebelumnya, kata Bunga, ia mencoba sarapan dengan menu baru. Ia sengaja menyeduh kopi instan kopi sachetan dengan alasan kurang tidur karena ada lemburan. Ah, apalagi kalau bukan ngreyen hape baru dengan nglembur video-chat semalaman. Buktinya, di tangannya kedapatan memeluk hape baru, yang katanya hape gratisan hasil kiriman dari kekasih idaman, yang tinggal di negeri sebelah, yang terpisah daratan dan lautan!

Huwaow... Mendengar kata 'hape gratisan', daku sedikit iri dan sedikit dengki. Dipikir-pikir, kok nggak ada yang kirim buatku, gitu! Walau dikasih hape sebiji pun pasti akan daku terima dengan lapang dada dengan tangan terbuka. Daku kan termasuk golongan fii sabiilillah, yang sedang berjuang di perantauan dan layak mendapat hape gratisan. Kenapa cuma TKI formal G to G saja yang disangoni hape oleh pemerintah? Lah TKI non formal ini jangan dianak tirikan dong. Ah, embuhlah, karep-karepmu.

Kembali ke Bunga, ritual ngopi pagi yang tidak biasa ini memberi efek luar biasa padanya. Maklum, ia adalah peminum kopi pemula, kopi lover amatir, yang apabila cairan kopi itu berdiam di dalam lambung, ia akan merasakan sensasi derita tiada tara. Perut menjadi mulas dan kembung disertai degup jantung yang lebih cepat dari keadaan normal. Dada pun berdebar-debar. Eh, malah dikiranya itu efek jatuh cinta. Owalah, Bunga, Bunga ...

Bunga sadar akan efek tak mengenakkan itu bakal menimpanya. Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana mengusir kantuk yang ogak minggat dari matanya. Bahkan, ketika sedang menyeduh kopi tersebut, matanya setengah tertutup setengah terbuka. Ia mengambil sendok teh lalu mulai mengaduk kopi-gula-krimer itu menjadi larutan hitam kecoklatan. Entah karena masih kriyip-kriyip atau separuh jiwanya pergi dan bermigrasi ke hati sang kekasih, ia lupa mengontrol kecepatan adukan tangannya.

Lhadalah, biyungalah! Cairan itu muncrat sampai sudut mata kiri Bunga. Dengan sebelah mata yang masih terpicing, ia meraba-raba tisu dapur kemudian mengeringkan cairan itu dari matanya. Dan ajaib, kantuknya sirna seketika sebelum cairan kopi masuk dalam tubuhnya.

Akhirnya daku percaya bahwasanya cairan kopi itu adalah penawar kantuk, terlebih jika diperlakukan selayaknya cairan pencuci muka. Silakan dicoba.

Sinna Hermanto

2014-11-21

[Curcol] Sagu yang Mirip Sagon

Sagu yang Mirip Sagon

Orang bilang, putus cinta atau patah hati  itu sakitnya setengah mati. Tetapi, pernyataan itu tidak berlaku untuk teman saya, Adeka Sari. Kata Sari, sakit paling sakit itu adalah sakit gigi. Maklum, si Sari ini adalah remaja yang menginjak dewasa yang ditandai dengan tumbuhnya gigi. Itu loh, empat gigi geraham paling belakang. Konon, apabila tulang rahang tidak cukup tempat untuk gigi baru, maka gigi baru itu akan mendesak gigi geraham sebelahnya sehingga terasa sakit luar biasa. Nah kan, nah kan, menjadi dewasa itu menyakitkan!

Bagaimana tidak, jika sakit gigi (terlebih ditambah membengkaknya gusi) maka ketika kita mengkonsumsi makanan apapun, rasanya tidak enak. Mau makan kering tempe, makan sate, makan rempeyek, makan rengginang hingga makan nasi pun bagai jauh di mata dekat di hati. Yang bisa dilakukan hanya makan bubur, agar-agar atau jeli.

Tetapi, perempuan asal Malang ini mengobati rasa bosan dan menuruti naluri kulinernya dengan pergi ke toko "Februari-Maret" yang menjual aneka produk Indonesia. Niatnya hanya melihat-lihat. Namun, saat matanya menangkap jajaran sagu berbentuk batangan, ia langsung membayangkan sepotong sagon yang ketika masuk mulut, serpihan-serpihan sagon itu langsung mabyur awur-awur, lumer di lidah. Lalu, ia mengambil sebungkus sagu dan menanyakan pada kasir, apakah sagu tersebut bisa langsung di makan?

Si kasir pun menjawab iya. Maka, sesampainya di rumah, segera setelah membereskan barang belanjaan dan mencuci tangan, sagu itu segera digigit dengan gigi serinya. Namun, apa yang terjadi, Saudara-Saudara?

Sagu yang mirip sagon itu ternyata keras sekali seperti cuwilan kuwali. Sudah gigi geraham sakit, gigi seri pun menambah penderitaannya. Duh Gusti ...

Ah, bukan Sari namanya kalo gampang nyerah. Dengan gigi senut-senut, ia mengambil ponsel pintarnya, bertanya resep dan cara menaklukkan sagu itu pada mbah gukgel. Dan benar, ia sukses membuat bubur sagu bersantan manis gurih semacam papeda untuk bekal libur mingguan yang telah direncanakan mbolang di salah satu sudut liar Hong Kong keesokan harinya.

Ternyata sakit giginya makin parah ketika mengkonsumsi papeda buatannya sendiri. Ia menyerah kemudian dada-dada dan melambai ke kamera. Hari Minggi itu ia putuskan untuk pulang cepat lalu wadul kepada sang lopan tentang gigi-giginya.

Selang dua hari, ia mewek-mewek hampir nangis darah di hadapan dokter gigi agar giginya dicabut paksa. Semula si dokter menolak lantaran gusinya masih bengkak. Tapi airmata perempuan hitam manis ini mampu meluluhkan pendirian dokter. Dan hingga kisah ini selesai ditulis, si Sari harus menerima kenyataan bahwa seusai cabut gigi, pipi kirinya melembung seperti ngemut es loli.

Cepet sembuh, ya, Sari.

2014-11-15

[Even Surat Menyurat Fiksiana Community] Siluet Senja

Tanah Bauhinia, Oct 28th 2014


Hai, senja.

Aba kareba? Aku harap kamu senantiasa cerah ceria. Di sini sedang musim gugur. Kabut tipis menyelusup. Langitku pun berbingkai redup. Hangatku hampir lenyap, Senja. Tatkala kamu kembali ke cakrawala, siluet daun gugur pun meraja.

Bila kangen kamu, aku akan pulang kerja lebih awal. Kemudian keluar stasiun kereta dengan langkah tergesa menuju balkon rumah. Waktu-waktu seperti inilah yang menyatukan kebersamaan kita. Masih ingat ceritamu waktu itu?

“Nenek bilang, senja itu waktu yang ajaib. Waktu dimana para malaikat melesat ke langit. Malaikat membawa buku amalan. Malaikan membuat laporan kepada Tuhan.”

“Kakek bilang senja itu anugrah. Bias-bias cahaya bermain-main di petala raya. Ada melodi keheningan yang samar-samar menghapus lelah. Dalam hitungan singkat, jubah malam dibentangkan hingga fajar tiba.”

“Apa makna senja bagimu?” tanyamu waktu itu.

“Menurutku, senja itu kamu. Iya, kamu.” Lalu kamu mengerling nakal. Sorot matamu malu-malu selayaknya matari yang bermain petak umpet di antara gerombolan awan. Gemasku ingin mencubitmu, mencubit Senjaku yang genit.

Kemarin malam aku bermimpi tentangmu. Kita berdiri di pinggir dermaga, menatap lekat tergelincirnya matahari di garis horizon. Kita berjarak sedepa. Namun, kulihat dengan jelas tatap matamu. Di sana tersimpan rindu yang beku. Ada keluh yang lupa terseduh. Ada getir yang enggan terlincir. Ada airmata yang mulai mengalir.

“Ada apa?” tanyaku.

“Aku bosan dengan keadaan seperti ini, membiarkan waktu  hilang sia-sia hingga cahaya sirna?”
Ketahuilah, Senja. Aku telah lupa dengan rasa bosan. Bosan telah bosan membuatku bosan. Karena aku memilih setia. Setia dengan suasana senja.

“Ayo pulang bersama,” ajakmu. Aku menggeleng lalu memunggungimu, memainkan harmoni kelu. Dengan diam, kamu melangkah pergi hingga matahari tenggelam di ujung samudra. Hingga hari ini aku hanya punya alamat rumahmu. Harapku kamu belum pindahan sehingga kamu bisa menerima suratku ini.

Benar, saat itu aku sedang jatuh. Aku merutuki diri sendiri. Percayalah, aku tidak pernah menyalahkan keputusanmu. Cepat atau lambat, kita akan berada di jalan masing-masing. Tapi satu hal yang ingin kukatakan padamu.

Hal-hal yang membuatku mampu bangkit adalah kemauanku untuk bangkit itu sendiri. Manakala sang surya hilang, bulan dan bintang akan menuntun langkahku. Toh esok masih ada fajar. Dulu kamu bilang apa?

“Setiap hari adalah keajaiban, setiap saat adalah harapan”.

Terimakasih room mateku. Terimakasih atas waktu kebersamaan kita waktu itu. Maafkanlah atas segala khilafku. Sesama generasi 90-an, kamu paham ‘kan arti 4x4=16? Keluarga di Tanah Bauhinia merindukanmu. C U.


Peluk erat, Siluet.


NB:
Masih ingat dengan topeng ini? Ini adalah pemberianmu di ultahku yang ke-20, 6 tahun lalu. Salam hangat dari Teater Bauhinia.

2014-11-09

[Curcol] Kantong Maksiat

Kantong Maksiat


Lantaran bekerja di area domestik, terutama di Hong Kong, otomatis kita ikut-ikutan ritme/pola hidup nyonya majikan. Ada tipe majikan yang super ketat memberi aturan kepada Cece kungnyan-nya. Nah, Cece ini harus mematuhi tata tertib alias term of condition yang berlaku di rumah itu. Mulai dari bangun pagi hari ini hingga bangun pagi esok hari, semua pekerjaan harus beres. Debu sebesar tengu pun dilarang nempel pada perkakas rumah.
Namun, ada juga nyonya majikan yang memberi kelonggaran kepada Cecenya. Urusan rumah dan segala tetek bengeknya, termasuk mengasuh dan mendidik anak, diserahkan sepenuhnya kepada si Cece. Entah di tengah-tengah hari si Cece jungkril balik, koprol atau salto, entah si Cece bekerja 3 jam tapi online 7 jam, si majikan tidak peduli. Yang nyonya majikan tahu hanya menransfer gaji Cece tiap tanggal 1 atau berangkat pagi-pagi sudah ada sarapan dan ketika pulang kerja sudah ada makanan di atas meja.
Kalo sudah begini, yang kepedean tentulah si cece. Bagaimana tidak, rumah berbentuk villa di sekitar Taipo itu sudah mirip rumah miliknya sendiri, nyonya juragan dan suami hanya mengontrak. Asyiknya, tiap bulan cece pun dibayar sebesar HKD 4100,- sebagaimana kenaikan gaji buruh di Hong Kong untuk kontrak kerja per 1 Oktober 2014, versi aturan baru tentunya.
Inilah gambaran job desk Ani. Dia mengurus keluarga ‘cemara’, campuran antara bule Amerika dan Republik China plus Jawa (Jawa ini maksudnya si Ani tadi). Meski tiap hari selalu keminggris, tetapi Ngapakers medok ini tidak melupakan bahasa ibu/mother language-nya. Kata dia: nyong ora ngapak ora kepenak (ucapkan dengen menambah intonasi/penekanan pada huruf ‘k’).
Sepulang libur Minggu itu, dia mampir ke supermarket ‘Parkir & Belanja’. Kebiasaannya sejak dulu adalah membeli oleh-oleh untuk si anak asuh. Dengan disogok alias disuap dengan jajanan, si anak bakal nurut. Toh dengan adanya anak itulah ia dikontrak selama dua tahun ke depan. Ibaratnya, si anak inilah ‘ATM’ selama satu kontrak mendatang.
Nah, di tengah-tengahnya antri kasir, sepasang muda-mudi usia belasan tahun, bermata sipit, bergandengan sembari mendorong kereta belanja berisi kentang goreng dan air soda, memamerkan kemesraan di depan Ani. Ada rasa dongkol bercokol di hati Ani lantaran mereka mengingatkan Ani kepada lokung tercintanya di Endonesya sana. Sebongkah rindu berdegup kencang di dadanya. Ia sempat berujar dalam hati bahwa sekeluarnya dari supermarket itu, ia akan segera menelefon gandholane ati.
Saat si pemudi menyerahkan semua belanjaannya di depan kasir dan terdengar suara ‘tuut’, si pemuda mengambil kemasan karton berwarna dasar biru yang dilapisi plastik transparan dengan ukuran sebesar telapak tangan, lalu meletakkannya diantara belanjaan. Sialnya, uang untuk membayar seluruh belanjaan kurang! Akhirnya ia membatalkan pembelian kemasan karton tadi dan meletakkan kembali ke tempat semula yang berjajar dengan aneka kemasan permen karet, agar uangnya cukup untuk membayar belanjaan.
Ani memperhatikan bagaimana pemuda itu cengar-cengir nggak keruan sambil tengak-tengok ke arah antrian pembeli. Bahkan, mata Ani pun bersirobok dengan mereka sebelum akhirnya mereka melenggah jauh keluar.
“Syukurlah mereka gagal membeli kantong maksiat,” begitu tulis Ani saat berbincang dengan penulis. Tentu saja penggunaan kata kias seperti itu membuat tanda tanya besar yang muncul dalam kepala.
Menurut analisa Ani, ia hafal bagaimana gerak gerik pasangan yang ‘halal’ atau tidak. Ia manyatakan rasa kekinya tatkala muda mudi itu tidak jadi membeli sekotak k*nd*m. Whuatttt???
Oalah, Ni … Ani, sekotak kantong maksiat itu ternyata kantong maksiut toh. Eh!

***