[Nekad Blusukan] Sam Tung Uk: Hong Kong Tempo Doeloe

"Sam Tung Uk Museum, komplek perumahan tempo doeloe ala Hong Kong ini merupakan salah satu situs sejarah peninggalan masa lampau yang menggambarkan kehidupan masyarakat Hong Kong, khususnya masyarakat klan Hakka (marga Chan) yang berasal dari propinsi Guang Dong, China. ," lanjutnya.

[Nekad Blusukan] Lei Yue Mun, Eksotisme Wisata Kampung Nelayan

Orang bilang: foto-foto cantik itu biasa, foto-foto ekstrem itu barulah luar biasa.

[Nekad Blusukan] Sheung Wan: Pusat Graffiti di Hong Kong

Tai Ping Shan merupakan daerah Sheung Wan bagian atas. Area ini terkenal sebagai tujuan pecinta seni dengan aneka galeri serta barang-barang antiknya. Sehingga tak salah jika Sheung Wan menjadi salah satu pusat grafiti di Hong Kong.

[Nekad Blusukan] Plesir ke Pacitan

Pantai Teleng Ria berada di teluk Pacitan. Ini adalah salah satu pantai yang menjadi jargon tanah kelahiran presiden SBY. Tanah berumput hijau terhampar luas sebelum mencapai bibir pantai. Bunga bakung ungu menyembul di antara rerumputan itu. Ada juga segerombol pohon cemara jarum dan tunas kelapa yang mesih rendah. Wow, indah bukan buatan.

[Nekad Blusukan] Hong Kong Rasa Kanada

Sweet gum bukanlah mapel. Bentuk daunnya ada yang menjari 3, 4 dan 5. Ukurannya pun berbeda sesuai dengan musim di mana pada musim semi, daunnya lebih lebar.

2015-04-25

[Curcol] Tersesat Tak Selamanya Kiamat

Tersesat Tak Selamanya Kiamat

Malu bertanya sesat di jalan, kebanyakan tanya memalukan. Jika tersesat betulan, rasanya sungguh menegangkan.

Nah, seperti itulah yang saya alami beberapa waktu lalu. Sore itu, saya harus mengantar kedua krucil-krucil yang sudah saya asuh sejak satu windu terakhir ke tempat lesnya di daerah Tseung Kwan O. Mereka berdua memang agak lemot untuk urusan matematika. Untuk memacu daya kerja otak mereka terhadap mata pelajaran satu itu, ndoro majikan sengaja mengganjar mereka dengan soal-soal yang dijejalkan di hadapan mereka dari tempat les. Keadaan ini mengingatkan saya pada masa-masa sekolah dulu yang selalu keok jika diadu dengan angka-angka matematika_kecuali angka yang tertera dalam mata uang.

Biasanya, saya segera pulang setelah saya masukkan mereka dalam 'neraka' dunia itu, begitu mereka menyebut tempat lesnya lantaran muak dengan menu-menu soal matematika yang bejibun jumlahnya. Namun tidak dengan hari itu. Karena ada waktu satu jam menunggu les selesai, saya berniat untuk jalan-jalan di supermarket yang menyatu dengan tempat les di lantai 3. Tapi, fikiran saya malah tertuju ke warnet di toko Indonesia di lantai dasar guna mengecek UPS eh ... maksudnya USB saya yang error. Namun, rencana itu tidak saya ambil lantaran warnet sudah penuh. Teringat dengan ucapan teman bahwa ketika matahari terbenam adalah waktu yang tepat mengejar senja, maka saya segera keluar dari warnet itu.

Rencananya, saya akan ke Tseung Kwan O Sportground (TKO-S) untuk memanjakan kamera saku merk 'unyil' (ulehe nyilih) dengan jeprat-jepret di situ. Bila malam tiba, pijar lampu stadion yang menyala ribuan watt itu mampu menarik pesona pecinta photo. Biasanya sih pemandangan di stadion itu bisa saya nikmati dari balkon apartemen ndoro juragan bersama kelap kelip lampu gedung apartemen di seberang sana. Tetapi, sejak apartemen baru sebanyak 5 blok yang telah berdiri megah di sebelah tempat kerja saya, pemandangan itu hilanglah sudah. Dan ketika kesempatan memanfaatkan waktu itu tiba (bahasa halus dari mencuri waktu) maka saya ngeloyor ke TKO-S.

Bermodal nekad, saya telusuri apartemen dan pasar tradisional di TKO hingga akhirnya saya menemukan tempat yang saya tuju. Sial, undak-undakan utama yang menjadi pintu masuk stadion ternyata tutup. Saya segera putar otak dan putar langkah untuk mencari pintu masuk lainnya dengan bergerak ke jalan pintas di samping stadion. Benar, di sana saya menemukan sliding doors. Sayangnya, saya melihat ada tempelan kertas yang berisi tulisan gedheg alias aksara China dan tanda panah di pintu kedua dari kiri.

Sebenarnya saya ingin mendobrak saja pintu itu. Tapi melihat ruangan yang tembus pandang itu sunyi senyap membuat nyali saya menjadi ciut. Tak kurang akal, saya berusaha mencari jalan masuk lain. Maka, saya memilih jalur memutar hingga 180 derajad di belakang stadion. Di sana ada jalur sepeda dan jalur lari sehingga saya tak merasa takut meski di kiri kanan jalan terlihat seram dengan pohon-pohon yang agak menjulang ditunjang kondisi senja makin gelap dan lampu jalanan belum menyala. Toh saya masih berpapasan dengan beberapa orang yang sedang jogging dan cycling.

Anehnya, ketika saya telah menyelesaikan putaran sebanyak 3/4 stadion, saya malah terpesona dengan sebuah terowongan pendek yang merupakan jalan tol/jalur layang TKO-LOHAS park. Saya pun masuk hingga ke seberang sana. Keinginan untuk mencari pintu masuk alternatif stadion, saya abaikan. Padahal, petang benar-benar di depan mata. Suara binatang malam yang suka mengerik terdengar dari semak-semak di kiri kanan jalanan di seberang terowongan.

Saya terus maju. Saya fikir, setelah melewati jalur itu, saya akan menemukan area memancing sekaligus tempat parkir sampan-sampan kecil di TKO sebagaimana yang saya lihat dari balkon apartemen ndoro juragan (bentuknya semacam teluk tetapi tidak  luas). Nyatanya saya malah tersesat dari  tujuan awal, tersesat jauuuh sekali dari stadion.

Sudah kepalang tanggung, saya merunut saja trotoar di sepanjang jalur yang dilalui suttle bus untuk menuju apartemen. Padahal, jika memakai bus itu, perjalanan ke tempat les anak perlu ditempuh selama 10 menit. Dan sekarang, saya harus menempuhnya dengan jalan kaki!

Anehnya, saya malah menikmati jalan yang saya ambil. Saya bisa mengobati rindu kampung halaman yang riuh dengan suara jangkriknya. Pun di dekat sebuah studio production, saya menikmati jajaran ilalang yang tinggi menjulang seperti kebun tebu dengan bunganya. Saya membelokkan langkah untuk menikmati pemandangan di jalur sepeda TKO-LOHAS park. Meski terlihat dekat tapi bila ditempuh dengan jalan kaki ternyata bisa keringetan juga. Kaos oblong yang saya pakai jadi basah. Aroma 'wangi' tiba-tiba menyeruak. Kurang puas, saya ciumi ketiak saya sendiri. Kepala saya berkunang-kunang, rasanya mau pingsan.

Begitu sampai di lantai dasar apartemen, waktu hanya menyisakan sepuluh menit sebelum krucil-krucil yang saya asuh selesai waktu lesnya. Saya bukannya naik ke apartemen, tapi malah antri diantara calon penumpang suttle bus. Saya tak peduli bagaimana reaksi orang yang duduk di dekat saya ketika aroma tubuh saya tak beda jauh dengan kambing yang tak pernah mandi. Prengus sekali.

Untunglah saya tiba di tempat les tepat waktu. Sehingga si krucil tidak komplain dengan kebiasaan jam karet yang kadang masih saya pelihara di Hong Kong ini. 

Slamet, slamet. Ternyata, tersesat tak selamanya kiamat. Hati hati, jangan sampai Anda menjadi korban selanjutnya

Sinna Hermanto.

***
Artikel terkait.


2015-04-23

[Curcol] Sabun Sirih Naik Pangkat

Sabun Sirih Naik Pangkat

Yang namanya wanita, dari usia anak-anak, remaja, dewasa hingga manula selalunya ingin terlihat memikat dan sempurna. Kemolekan wanita menjadi daya tarik tersendiri. Oleh karenanya, banyak sekali prodak kecantikan bertebaran selayaknya musim hujan yang penuh cendawan. Nah, prodak ini tidak hanya untuk perawatan tubuh bagian luar tetapi juga dari dalam. Entah itu berupa serbuk, pil, ataupun cairan.

Salah satu prodak kecantikan ini adalah untuk perawatan daerah kewanitaan, yakni sabun sirih. Sabun yang berbentuk cair ini mencantumkan gambar daun sirih dalam desain kemasan botol plastiknya. Bagi pekerja Indonesia (BMI) di Hong Kong yang cinta produk Indonesia - meski berada di luar Indonesia, sangat mudah mendapatkannya. Toh sabun lokal yang telah go international ini banyak dijual di toko Indonesia atau toko yang menyediakan prodak-prodak negara Asia Tenggara.

Demikian yang dialami Umi, kawan kita yang berasal dari kota Patria. BMI yang telah kenyang asam-garam-gula-cabe-bawang-lengkuas ketemu di belanga ini adalah sosok yang doyan banget dengan perawatan diri. Eit, bukan berarti doksi suka ngeluyur ke salon untuk tritmen pedikyur menikyur loh tapi doksi lebih memilih perawatan alami. Selain murah, doksi paham kalo toh harus menggunakan prodak pabrik, setidaknya prodak itu telah berstempel BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Keamanannya lebih terjamin, katanya.

Nah, hari itu ia sengaja membawa uang lebih saat belanja. Maklum, stok sabun sirih sudah habis sejak beberapa hari lalu. Ia segera menuntaskan niatnya saat menyisir sebuah pasar tradisional di ujung Hong Kong bagian utara. Tidak perlu berlama-lama berada di toko yang dimaksud. Ia sudah menyelesaikan tugas mai sungnya tanpa perlu perpanjangan waktu gingkai-gingkai atau ajojing goyang-goyang di 'diskotik' kelas dasar (maksudnya toko tersebut berada di lantai dasar dan menyediakan sewa ruangan karaoke).

Setelah sampai rumah, doksi beberes belanjaan. Tak lupa ia taruh sabun sirihnya di kamar mandi. Doksi memang suka kerapian (kebalikan banget dengan penulis yang suka ngasal_sambil nunjuk hidung sendiri).

Malam pun menjelang. Pak boss pulang duluan, mau ngajarin anaknya mengerjakan PR. Umi masih sibuk gerilya di dapur untuk sajian makan malam. Berhubung cuaca hari itu lumayan gerah, sampai di rumah, pak boss segera mandi. Tak lupa cuci-cuci dari ujung kepala hingga kaki. Umi masih belum peduli.

Hingga pak boss ke dapur untuk kros cek menu apa yang sedang diolah Cecenya itu. Umi menoleh. Dilihatnya rambut pak boss yang basah, baunya wangi sabun mandi. Umi sedikit familiar dengan aroma ini. Ia pun bertanya, apakah bu boss sudah beli sampo? Pak boss menjawab bahwa sudah ada botol baru di antara jejeran botol lama dan meng-klaim kalo itu adalah botol sampo. 

Umi segera berlari ke ji so, diangkatlah botol sabun sirihnya yang terasa lebih ringan, kira-kira hilang 1/5nya. Segelnya telah tiada.

"Pak, koen nggawe sampo sing botole ijo kae tah?" kira-kira begitu pertanyaan Umi setelah ditranslate dalam bahasa Jawa sekembalinya ia dari kamar mandi. Pak bos mengiyakan.

Umi menyunggingkan senyum, menahan tawa yang hanya mampu dilepaskan dalam otak saja. Mau jujur dengan mengatakan bahwa sampo yang digunakan itu adalah sabun untuk daerah kewanitaan, ia tak punya nyali, ia tak tega. Bisa-bisa di apartemen itu terjadi perang dunia ketiga. Ia hanya bisa memaklumi lantaran kemasan sabun sirih itu menyertakan gambar dedaunan plus memakai bahasa Indonesia. Otomatis pak bossnya tidak paham dengan kalimat yang tertera di sana.

Akhirnya ... Sabun sirih bisa naik pangkat, ya!

Sinna Hermanto

***

Artikel terkait.


2015-04-05

[PDKT] Egg Tart vs Bubble Tea


“Uti… Uti,” pundakku digoyang-goyang. Aku menoleh pada sosok di sampingku dengan sedotan yang masih menancap di mulutku. “Kamu apa sih minum bubble tea kayak balita gini?” Aku pun menghentikan aktivitasku dan meletakkan minuman yang tinggal separuh itu di atas meja, di depanku.

“Kenapa, Sin?”

“Eh, eh, lihat di arah jam 12.”

“Jamku pake angka digital.”

“Haishhh, kampret! Tuh … Tuh … Lihat,” Tangan Sinna menunjuk sosok lelaki prenagen yang penampakannya tidak hanya six-pack tetapi malah one-pack. Ia berjalan sendiri menuju warung bubble tea, tempat mangkalku sore ini. Ia tidak dapat melihatku dengan jelas karena terhalang bebungaan yang tumbuh di balik kaca tembus pandang.

Aku jadi bingung harus bagaimana. Jantungku berdebar-debar. Dalam hati aku bertanya, kenapa ia tiba-tiba muncul di tempat dan saat seperti ini? Well, hari ini aku memang ultah. Biasanya, orang-orang yang sedang ultah itu menraktir teman-temannya makan. Perbaikan gizi, gitu. Tapi aku kan orang anti mainstream. Makanya ketika aku ultah, aku malah menodong jatah traktiran dari teman-teman. Salah satunya teman satu kosku, si Sinna ini.

“Uti, kamu kan tahu sendiri kalo kita ini anak kos yang makan nasi padang di awal bulan, makan mie instan di tengah bulan dan makan angin di akhir bulan. Hatiku juga lagi patah terbelah-belah gegara Oppa jadian sama Desol Bae. Tahu kan siapa Desol itu? Itu loh, salah satu personal FCK48. Hari ini kita ke warung bubble tea sebelah kosan aja, ya, ngadem otak.”

Aku hanya nyengir mendengar Sinna yang ndleming gegara otaknya kurang seons setelah jidatnya kebentur bibir bintang utama City Hunter, Lee Min Ho. Sosok satu ini memang tidak pernah ada normalnya. Gara-gara temenan sama dia, tidak perlu setengah tahun, kegilaannya sedikit menular padaku. Kalo keadaannya sudah gini, aku pengen ngucap hancikkk dengan lafal Suroboyoan yang fasih dan sesuai makhroj.

Ya siapa yang percaya dengan kisah anak kosan versi Sinna. Lah wong kami teman kerja dan kami juga sama-sama akan dimutasi ke anak perusahaan di Hong Kong.

“Uti… Uti,” kali ini giliran lenganku digoyang-goyang. “Ffff… Ffff …”

Sosok itu makin dekat.

*

Sudah seminggu ini aku nyari waktu yang tepat untuk mencari alasan biar bisa ngobrol sama Putri. Kesempatan itu muncul saat aku searching-searching dan sekrol-sekrol temlen akun fesbuk sosok anggun nan baik hati yang akhir-akhir ini telah merampas mataku untuk senantiasa memperhatikannya. Aku menemukan daftar teman-teman fesbukku yang ultah bulan ini. Salah satunya si Putri.

Well, aku mengenalnya saat ia pindah di gang Fiksiana. Dulu aku memang sering mbribik anak gadis pemilik kos bu Langit, yaitu si Connie, sebelum akhirnya ia menikah dengan Rahab dan pindah kewarganegaan di planet Bekasi. Aku patah hati saat itu. Tetapi luka yang menganga itu terkaver dengan kejadian yang sangat aneh.

Ah, kamu tidak akan percaya bahwa dunia ini memang selebar daun kelor. Meski tidak mendapatkan anak gadisnya, setidaknya aku bisa mbribik anak kosannya. Ide siapa lagi kalo bukan ide kolektif – mantan –grup boybandku dulu yang digawangi oleh Erri, Ando dan Granito. Mak Selsa, mantan manajerku, juga mengamini ide ini.

Dan tahukah kamu bila niat jelek itu ditolak langit? Ya, aku kena batunya. Aku malah makin tergila-gila dengan Putri. Saking gilanya, hari ini aku akan menembaknya tepat di hari ultahnya yang saat ini aku tenteng di tangan kananku.

*

“Uti, aku pulang dulu ya.”

“Jangan, Sin. Temenin aku lah.”

“Maksudnya aku jadi obat nyamuk, gitu?”

“Ya enggak?”

“Sori ya, Ti. Aku nggak bisa nyamar jadi botol kecap atau tusuk gigi agar bisa nemani kamu di sini tanpa ketahuan si Ffff.” Sinna segera menyambar tasnya dan berlalu, menjauh dariku bahkan sebelum aku menjawab kalimatnya. Mataku menangkap Sinna bergerak lincah keluar warung. Ia berpapasan dengan lelaki prenagen itu.

*

Aku melihat Sinna buru-buru keluar dari tempat ini. Jadi benar Putri di sini? Kulihat tadi akun fesbuknya kena tag dari Sinna yang baru saja apload foto narsis dengan gelas-gelas bubble tea.
Mataku menyapu warung yang tak seberapa luas ini. Meski namanya warung tapi konsep interiornya mirip cafe corner yang minimalis. Ketiga sisi dindingnya berupa kaca transparan. Yang membuat menarik dari warung bernama Sekar ini adalah bunga-bunga yang tumbuh di balik kaca-kaca itu.

Aha! Kutemukan sosok yang kucari. Aku segera menuju ke salah satu sudutnya.

“Hai, sendiri?” Putri mengangguk. Ketakutanku akan jawaban aneh telah terpatahkan. Misal: mata lu ditinggal di rumah? Gue di sini tidak sendiri tetapi barengan sama pengunjung warung Sekar dari dunia nyata dan dunia lelembut. Ngerti?

“Boleh duduk di sini?” Putri masih mengangguk. “Putri, selamat ulang tahun ya. Ini buat kamu. Meski tidak ada kue tart, egg tart pun ngggak apa-apa kan?” Ahhh, kenapa kalimat ini yang keluar? Di mana kata-kata yang telah aku rancang sejak tadi?

“Te… Te… Terimakasih,” wajahnya nyengir nggak jelas. Aku semakin stress, aku takut sekali PDKTku ini gagal.

“Kamu baik-baik saja?”

“Ini nih, bonnya Sinna ditinggal gitu aja.”

“Ya sudah, biar aku yang bayarin. Setelah itu kita pulang yuk. Bukan pulang ke kosanmu loh, tapi pulang ke rumah calon mertuamu. Orang tuaku menunggu.” Kali ini senyum simpul terbit dari bibirnya. Pipinya memerah.

***
Untuk membaca karya peserta lain silahkan menuju akun Fiksiana Community dengan judul : Inilah Hasil Karya Peserta Event Fiksi Fantasi atau bergabung di FB Fiksiana Community.

2015-04-04

[Nekad Blusukan] Sheung Wan: Pusat Graffiti di HK




Lagu berbahasa Korea milik Tae-Yang vs G-Dragon yang berjudul “Good Boy” mengalun keras di salah satu gang di Tai Ping San Road, Sheung Wan, Minggu (15/3). Musik nge-beat itu berasal dari handphone milik seorang pria Hong Kong yang dicolokkan pada speaker mini. Di depannya, dua orang pria, asal Italia dan Korea Selatan, sedang menggambar di tembok.

HK Wall, begitu nama event-nya. Menggandeng sponsor Agnes B, kegiatan ini diadakan pada 14-15 Maret 2015 dan diprakarsai sekelompok bomber, sebutan untuk seniman grafiti, dari berbagai negara. Selain Hong Kong, beberapa diantaranya berasal dari Filipina, Italia, Spanyol, Kanada, dan Korea Selatan, di mana mereka mengenal satu sama lain melalui internet.

“Ini event pertama kali dan saya berharap semoga ada lagi di tahun-tahun mendatang,” ucap Suk, bomber asal Seoul, Korea.

Suk telah berkecimpung di dunia ini selama 14 tahun. Selain Hong Kong, ia dan timnya telah menggambar di beberapa negara. Antara lain: Jepang, Taiwan, Filipina dan tentu saja di Korea Selatan yang menjadi negara asalnya. “Sama seperti dia, saya sudah menggambar selama 14 tahun. Kami satu tim,” lanjutnya, sambil menunjuk seorang pria yang sedang menggambar smiling shark menggunakan pilox.



Seni menggambar di tembok ini biasa dikenal dengan grafiti. Selain cat semprot (pilox), para bomber menggunakan bahan material lain berupa acrylic dan spidol permanen (marker pen). Ketika mereka menyapukan kuas atau menyemprotkan cat, kita tidak tahu apa yang akan mereka hasilkan. Maka, keesokan harinya kita akan menemukan tembok yang berwarna-warni dengan gambar abstrak, pop art, realis, hingga naturalis.


Grafiti difungsikan sebagai media komunikasi sosial dan respon terhadap lingkungan. Bagi bomber pemula, biasanya mereka menggambar di atas kertas. Namun, dengan kemajuan jaman, banyak juga yang berkarya menggunakan komputer dengan software tertentu, coreldraw misalnya.

Tai Ping Shan merupakan daerah Sheung Wan bagian atas. Area ini terkenal sebagai tujuan pecinta seni dengan aneka galeri serta barang-barang antiknya. Sehingga tak salah jika Sheung Wan menjadi salah satu pusat grafiti di Hong Kong. Berkat kreativitas para bomber inilah tembok-tembok berdebu disulap menjadi festival seni jalanan yang menakjubkan.

Untuk ke sana, kita bisa datang menggunakan kereta (MTR) dan turun di Sheng Wan exit A2. 

2015-03-21

[Nekad Blusukan] Plesir ke Pacitan


Minggu pagi di bulan Maret itu cuaca sangat bersahabat. Matahari bersinar terang. Langit mengamini indahnya alam Indonesia dengan membentangkan warna biru yang memesona. Jarum jam baru saja bergeser dari angka tujuh. Saya mengayuh sepeda ontel menuju terminal bus Seloaji (terminal baru)-Ponorogo. Hanya perlu 10 menit saya telah sampai di sana.

Setelah menitipkan sepeda di utara terminal dengan biaya Rp 1000/hari, saya bergegas membeli bekal makanan kemudian menyeberang jalan untuk mencari bus jurusan Pacitan. Keberuntungan masih berada di pihak saya ketika bus yang saya maksud sudah ngetem di ruas jalan. Sebenarnya bukan pemandangan rapi selayaknya terminal bus di Hong Kong. Tetapi saya diuntungkan karena tidak perlu berjalan terlalu jauh ke bagian dalam terminal. Saya mengeluarkan uang RP 14.000 untuk biaya perjalanannya.

Kengerian bermula dari sini ketika bus yang saya tumpangi harus menunggu penumpang hingga 30-an menit. Ada rasa bosan ketika menunggu begitu lama terlebih handphone saya kehabisan pulsa, tidak ngerti cara ngisi pulasanya pula (hahaha kampungan!) dan saya tidak membawa buku. Komplitlah.

Hingga akhirnya bus itu berangkat juga. Di beberapa pinggir jalan, sesekali bus berhenti untuk menaikkan penumpang. Saya lega. Akhirnya "pecah telur" di tahun 2013 lalu. Perjalanan jomblo ... eh solo pertama saya dimulai. Namun, hanya berjalan beberapa km, tepatnya di daerah Paju-Ponorogo, bus itu ngetem lagi. Saya fikir ini tidak lama. Nyatanya pak sopir malah turun dari bus dan mampir di sebuah warung kopi. Ia hanya duduk-duduk di bangku depan warung dan berbincang dengan beberapa lelaki di sana. Beberapa penumpang mengeluh tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Ibaratnya, perjalanan ini kan ada dalam kuasa pak sopir.

Bus pun berjalan lagi. Di sepanjang perjalanan antara Ponorogo dan Pacitan, mata ini disuguhi pemandangan yang luar biasa. Rumah-rumah penduduk banyak yang berada di bukit atau tanah yang lebih tinggi dari ruas jalan. Sawah-sawah terlihat berwarna hijau segar. Terasiring nampak seperti tangga berundak. Nyiur pohon kelapa dan gubug di tengah sawah membuat hati menjadi adem ketika memandang. Jalan sempit dan berkelok yang penuh dengan turunan maupun tikungan tajam, sedikit membuat hati berdesir, ngeri. Tapi inilah seni perjalanan di Indonesia. Maka, bila Anda yang saat ini merantau dan berencana kembali ke kampung halaman, jangan sampai heran dengan pelayanan transportasinya.

Belum puas mata ini dibuai alam yang masih perawan, bus berhenti, ngetem lagi. Kali ini sudah masuk daerah Tegal Ombo-Pacitan. Beberapa waktu sebelumnya, baliho selamat datang di kabupaten Pacitan dengan gambar wajah presiden menyambut bus yang saya tumpangi. Amboi, keren sekali.

Yang membuat tidak keren adalah ulah sopir. Sembari menurunkan dan menaikan penumpang, ia turun dari jok lalu memesan secangkir kopi di warung seberang jalan. Tak hanya itu, seusai menikmati coffee time-nya, ia berjalan di beberapa lapak buah. Mata saya terus mengawasi gerak-geriknya yang sesekali memetik rambutan yang menjadi komoditi pedagang. Bila mengingat hal itu, saya hanya terkekeh dan merasa geli.

Bus non-AC yang saya tumpangi terasa pengap. Aroma bensin, keringat, dan bau ayam yang dibawa masuk oleh pedangan bercampur menjadi satu. Panas yang menyengat membuat kelembaban semakin tinggi. Mendung putih pucat mulai mewarnai langit biru. Sepertinya mau hujan.

Tibalah saya di terminal Pacitan. Dengan kondisi transportasi yang seperti itu, perjalanan yang seharusnya hanya membutuhkan waktu 3 jam harus molor hingga pukul 11:30-an. Beberapa tukang ojek menawarkan tumpangan. Saya pun menerimanya untuk mempercepat perjalanan saya menuju pantai Teleng Ria dengan biaya Rp 5000 meski saya bisa ke sana dengan jalan kaki.

Memasuki area pantai, setiap kepala dan kendaraan pribadi dikenai karcis masuk sebesar Rp 5000. Namun, ojek tetap bisa mengantar saya hingga ke bagian dalam di dekat arena penjual makanan, aneka olahan hasil laut, sale pisang (pisang yang dikeringkan), maupun sovenir. Terdengar musik dangdut dan campursari mengalun. Rupanya ada orkes live di sana. Tak menunggu tempo, saya berjalan ke arah pantai, mengenang masa-masa bermain bersama teman-teman saat masih berseragam abu-abu.


Pantai Teleng Ria berada di teluk Pacitan. Ini adalah salah satu pantai yang menjadi jargon tanah kelahiran presiden SBY. Tanah berumput hijau terhampar luas sebelum mencapai bibir pantai. Bunga bakung ungu menyembul di antara rerumputan itu. Ada juga segerombol pohon cemara jarum dan tunas kelapa yang mesih rendah. Wow, indah bukan buatan. Saya sempat kepikiran untuk camping di sini, hehehe.

Begitu sampai di lokasi, saya tidak buru-buru menceburkan kaki dalam air. Dulu, saya suka mengejar kepiting atau mencari kulit kerang-kerang kecil yang banyak bertebaran di sana. Sayangnya, saat ini semuanya seperti tertimbun oleh banyaknya sampah reranting pohon dan botol bekas minuman. Para pengunjung nampak cuek dengan sampah-sampah ini. Mereka sangat menikmati berbasah-basahan, berkejaran dan bermain air di sini. Mereka seperti terbiasa, terbiasa berdampingan dengan sampah. Miris.


Teleng Ria yang berada di jalan Pramuka ini memiliki bibir pantai yang lumayan panjang sekitar 3 km. Sebagaimana pantai selatan Jawa pada umumnya, pantai ini juga berombak besar. Sangat tidak disarankan untuk berenang di sana. Meski demikian, saya sempat melihat seorang penjaga pantai (life guard) berkostum merah yang baru saja menepi dari kegiatannya berselancar. Beberapa penjaga pantai lainnya berpatroli menggunakan sepeda motor.

Lalu saya berniat mencari kampung nelayan tradisional dengan menyusuri separuh pantainya ke arah barat karena di bagian timur tertulis 'danger area'. Warna pasirnya kuning kehitaman karena mengandung granit/ pasir besi dan teksturnya lembut. Berjalan ke arah barat, nampaklah sebuah muara, pertemuan air sungai dan air laut.



Di ujung muara yang berair dalam, terlihat bangkai kapal yang teronggok di perairan air tawar. Bangkai kapal ini seperti mengisahkan kerasnya kehidupan penduduk pesisir. Aroma ikan dan asinnya laut memenuhi udara. Aih, sedap sekali.

Selain pantai, Teleng Ria juga menyediakan arena permainan anak yakni Kampoeng Air (water park) yang berada di dekat pintu masuk. Dari jalur aspal itu terlihat beberapa kolam dan perosotan penuh dengan pengunjung. Di dekat pintu gerbang juga ada 'badut' tokoh kartun berkostum warna warni dan lucu menyambut pengunjung. Ini tentu menjadi kelebihan dari arena ini yang memang ditujukan untuk anak-anak.

Cuaca yang tidak menentu dan gelap yang hampir pekat, membuat saya harus kembali pulang. Kali ini saya tidak menggunakan ojek atau bus tetapi berjalan kaki menuju terminal bus Pacitan sembari menikmati suasana asli sana. Di ruas jalan Pacitan-Solo, di sekitar makam Kucur itu terpampang baliho besar dengan gambar putra presiden SBY berikut tulisan "Pacitan Kota 1001 Goa".

Meski kondisi perjalanan pulang menuju Ponorogo diisi dengan kengerian-kengerian ketika berpapasan dengan kendaraan yang berlawanan arah terutama pada bagian jalan yang sedang dalam perbaikan, tetapi pesona alam Pacitan sangat membekas dalam ingatan. Jika Anda berencana ke pantai Teleng Ria, lakukan bersama pasangan, keluarga atau teman-teman. Setidaknya ada yang mengawasi ketika kita kecapaian dan tertidur di atas kendaraan. Atau ... ingin mbackpaker solo seperti saya? Selamat mbolang.

Sinna Hermanto

2015-03-14

[Curcol] Kantuk Menyerang, Asti pun Terjengkang

Kantuk Menyerang, Asti pun Terjengkang

Teman-teman, sebelum melanjutkan baris demi baris tulisan ini, saya mohon seandainya Anda mengenal makhluk setengah waras dan setengah gila (tetapi bukan makhluk setengah jadi) bernama Asti, tolong segera sembunyikan koran SUARA ini. Lalu lanjutkan bacanya setelah Asti pergi. Nei wui lam em do fa sang mey si (Anda tidak akan bisa membayangkan apa yang bakal terjadi).

Si Asti ini kan salah satu makhluk yang dikutuk imut seumur hidup. Ia akan senantiasa selalu dan always terlihat poreper sepentin alias serupa remaja berusia 17 tahun jalan (sisanya lari marathon 10K). Namun siapa sangka, pemikirannya sangatlah dewasa. Ia sadar, ngungyan di Hong Kong adalah sepotong puzle kehidupan. Di sini hanya mampir ngombe alias dringking (plus eating, shopping, hiking, dan -ing lainnya). Bahwasanya ia akan merangkai masa depan di tanah kelahiran, di Endonesyah sana.

Oleh karenanya, ia gabung dengan kelas entrepreneurship. Baik yang diadakan secara gratis atau berbayar hingga yang memakai sistem tatap muka atau pun kelas online. Kelas-kelas kursus juga dijajaki. Mulai dari menjahit, merangkai manik-manik, fotografi, dan memasak. Oleh karenanya, buku-buku modul pun tumpah ruah di kamarnya. Ia senantiasa mengisi waktu luangnya untuk membaca (dan fesbukan, beybeyeman, wosapan, maupun instagaraman). Alasan lain sih emang ndoro juragannya tidak mengijinkannya nongtong tipih. Jadi, jangan heran jika ia diajak ngomong Kantonis, dia hanya paham setengah-setengah (ya itu tadi, setengah waras dan setengah gila .... eh!).

Siang itu, bersama mendung dan kabut yang menyelimuti Hong Kong sejak minggu ketiga Februari lalu (bahkan hingga awal Maret), ia menunggu waktu masak makan malam dengan membaca buku di dapur. Lazimnya, membaca buku akan lebih afdhol bila disandingkan dengan secangkir kopi hitam legam nan pahit. Dan untuk mendapatkan afdhol kuadrat pangkat empat masih pakai akar sin cos tangen dan bilangan variabel x yang dikombinasi kalkulus dan logaritma, ia mengambil bebeb hengpun (HP) kesayangannya lalu memotret betapa serasinya persahabatan antara buku dan secangkir kopi kemudian mengunggahnya di instagaram.

Di situ kadang saya merasa huwaooow. Perjuangan untuk mendapatkan modal usaha di Endonesyah kelak juga diimbangi dengan ilmu. Ya ya, bolehlah sekolah berhenti sampai SMK tetapi belajar haruslah terus menerus dan tidak boleh putus, begitu sedikit gambaran tentangnya.

Rahasia umum, mata kita akan moncer serupa mbulan ndadari bila melototi fesbuk. Tetapi tiba-tiba lengket serupa kena pulut jika diajak membaca buku terutama buku-buku 'berat'. Jadi sepertinya, kopi itu tadi hanya alibi untuk mempercantik penampakan di instagaramnya Asti.

Sekira satu jam kemudian, Asti mengunggah lagi sebuah foto pojok dapur dengan kursi kosong. Captionnya membuat siapapun yang membacanya bakal terharu. Asal jangan menertawakannya loh, ya. Soalnya ia baru saja jatuh terjengakang dari kursi itu. Handle/pegangan pembuka pintu oven yang terletak di dekat tempat duduknya ikut-ikutan patah terkena hantaman kursi. Itu artinya ia sedang teraniaya. Bukankah doa orang yang teraniaya itu diijabah Gusti? Awas-awas ya kalo menertawakannya. Bisa-bisa Anda dikutuk kaya raya seumur hidup!

Olala ... Rupanya ia terjengkang karena kantuk yang tiba-tiba menyerangnya tidak mempan dihajar secangkir kopi. Dan ... Sampai tulisan ini dibuat, belum ada kelanjutan nasib handle oven. Tetapi yang bisa saya kabarkan adalah, Asti masih baik-baik sayang ... eh baik-baik saja, ding.

Sinna Hermanto/ Koran SUARA, Maret 2015. 

***

Artikel terkait.

2015-03-12

[Curcol] Langgar Aturan, Kena Semprit deh!

Aturan Itu Dibuat Untuk Dilanggar. Demikianlah! Entah pepatah keluaran mana, saya pernah mendengar 'mak semriwing' bahwasanya aturan itu dibuat untuk dilanggar. Namun, hal ini pernah saya baca dalam salah satu 'pelajaran komposisi fotografi' yakni break the rule(s). Ketika berbicara seni, kadang kala aturan itu adalah tidak ada aturan itu sendiri. Di luar seni, hati-hati saja jika berani melanggarnya.

Seperti Minggu keempat bulan Januari lalu, trio A (Anik, Asti, Asinn_sebut saja begitu) pergi ke Shatin untuk melihat pameran foto. Ketiga perempuan yang kadung kepincut dengan fotografi ini rela jauh-jauh dari kampung Jawanya Hong Kong hanya untuk membuktikan dengan mata mereka sendiri bahwa karya foto mereka dipajang di lobby salah satu kampus besar di Hong Kong.

Gimana ceritanya kok foto mereka bisa sampai di sana?

Begini, beberapa tahun lalu, sebuah organisasi non pemerintah (NGO) yang berkonsentrasi memberdayakan perempuan melalui fotografi, menggandeng organisasi pekerja migran, fotografer profesional dan beberapa sponsor untuk mengadakan workshop fotografi. Tidak tanggung-tanggung, workshop pertama bulan Oktober 2013 dan yang kedua Februari-Mei 2014 itu berbayar nol dolar alias gratis. 

Peserta tidak hanya berasal dari penduduk lokal Hong Kong tetapi juga pekerja migran Indonesia dan Filipina. Peserta workshop tidak hanya diajari jatuh cintrong pada foto dan fotografi tetapi dituntun untuk 'bermain-main' dengan negativ film (klise foto) di ruang gelap. Ya, mereka diajari mencuci cetak foto. Tidak hanya itu, mereka juga diberi pembekalan bagaimana menyiapkan pameran foto.

Kesempatan untuk memamerkan karya pun datang. Hasil foto-foto 'asal jepret' (karena tidak ada tema khusus yang dibebankan kepada peserta) itu dicetak. Kemudian semua pihak yang terlibat dalam workshop itu berdiskusi menentukan judul dan tema pameran. NGO sengaja mengajak peserta untuk lebur bersama saat pra dan pasca pameran.

Ketika hari H tiba, trio A makin penasaran, kira-kira karya mereka yang mana saja yang sesuai dengan tema pameran. Tak lupa, mereka bertanya kepada NGO, apakah memungkinkan bila datang ke pameran pada hari Minggu yang menjadi satu-satunya hari kebebasan trio A dari kungkungan pekerjaan. Nyatanya, kabar itu datang setelah melewati tengah malam pada hari Minggu dengan kalimat pemberitahuan yang isinya bahwa pameran esok hari akan dibuka pukul 8 pagi hingga  sore.

Entah karena terlalu exited atau apa, trio A mengasumsi bahwa esok yang dimaksud adalah hari Minggu (padahal, jika mau menelaah lebih teliti, saat pemberitahuan dikirim hari Minggu maka esok yang dimaksud adalah Senin, kan?). Maka, naked-lah ... eh nekadlah trio A ke tempat pameran.

Sesampainya di Shatin, trio A muter-muter kampus untuk mencari pintu masuk_yang semuanya terbuat dari kaca transparan, yang ternyata ditempeli tulisan closed. FYI, kampus itu berdampingan dengan hotel HYATT. Oleh karenanya, trio A keukeuh mencari jalur belakang kalau-kalau ada celah yang bisa disisipi. Pencarian 'jalur tikus' itu menuntun trio A hingga ke pelataran hotel. Dan nyatanya, celah itu sama sekali tidak ada bin nihil.

Menghibur diri dari kekecewaan itu, trio A segera selfie berbackground hotel itu. Sekali jepret dua jepret kurang puas, trio A mencari background dengan tulisan iconic hotel HY. Nahas, mereka kesulitan selfie karena tidak memiliki tongsis. Mereka hanya menggunakan tangsis (tangan untuk narsis). Tidak kurang akal, ketika menarsiskan wajah mengalami kesulitas, trio A rela glosoran di lantai demi motret kaki mereka di depan hotel itu. Tentu saja pemandangan nggilani ini mengusik ketentraman pihak hotel. Trio A didatangi sekuriti dan meminta mereka agar meninggalkan tempat sesegera mungkin. Yau jhe aa, hou ngai him. Ya iyalah, mereka dlosoran di jalur kendaraan!

Dalam perjalanan kembali pulang, trio A melewati kampus lagi. Salah satu dari mereka melihat beberapa orang bisa masuk-keluar dengan sebuah kartu. Aha ... ide nebeng orang agar bisa masuk bareng pun muncul. Perlu kesabaran ekstra menunggu momen itu. Dengan bahasa kanton yang lumayan memelas dan tangan menunjuk-nunjuk lokasi pameran, salah satu dari trio A memohon-mohon agar diijinkan masuk. Pasalnya, dari pintu kaca transparan itu foto-foto yang dipamerkan sudah nampak dari luar seolah-olah melambai-lambai minta disambangi.

Dan ... yihaaa, trio A diijinkan masuk. Dasar yannei kungyan yang kadang lepas kontrol kalau bicara, trio A pun kelewat berisik mengenali mana saja karya-karya mereka_tentu sambil narsis di dekat foto-foto itu. Tiba-tiba seorang ah sam (mbokdhe) tukang bersih-bersih menghampiri trio A.

"Kalian tau nggak kalo berisik. Suara kalian terdengar sampai atas. Siong bin yau yan siong kan tong aa. Lei tei em in koi yap lei, ming ci closed maa! (Di atas ada orang lagi belajar. Kalian tidak seharusnya masuk, kan sudah tau tutup!)"

Nah loh! Trio A hanya ingah-ingih prengas-prenges kayak monyet ketulup lalu keluar dari area kampus. Bukannya menyesal ataupun jera, ketiganya malah ngakak berjamaah. Tidak hanya sampai di situ, ketika hendak naik KCR pun, salah satu dari mereka berdiri terlalu dekat dengan pembatas 'selokan' rel kereta. Padahal ada garis kuning penanda maksimal 'parkir' kaki. Maka, terdengarlah 'halo-halo' dalam tiga bahasa (Kantonis-Inggris-Mandarin) dari pengeras suara yang memeringatkan penumpang KCR agar berdiri di belakang garis kuning. Nah loh, kena semprit deh.

Fiuhhh, bener-bener partner in crime.

Sinna Hermanto. 

***
Artikel terkait.