[Nekad Blusukan] Sam Tung Uk: Hong Kong Tempo Doeloe

"Sam Tung Uk Museum, komplek perumahan tempo doeloe ala Hong Kong ini merupakan salah satu situs sejarah peninggalan masa lampau yang menggambarkan kehidupan masyarakat Hong Kong, khususnya masyarakat klan Hakka (marga Chan) yang berasal dari propinsi Guang Dong, China. ," lanjutnya.

[Nekad Blusukan] Lei Yue Mun, Eksotisme Wisata Kampung Nelayan

Orang bilang: foto-foto cantik itu biasa, foto-foto ekstrem itu barulah luar biasa.

[Nekad Blusukan] Sheung Wan: Pusat Graffiti di Hong Kong

Tai Ping Shan merupakan daerah Sheung Wan bagian atas. Area ini terkenal sebagai tujuan pecinta seni dengan aneka galeri serta barang-barang antiknya. Sehingga tak salah jika Sheung Wan menjadi salah satu pusat grafiti di Hong Kong.

[Nekad Blusukan] Plesir ke Pacitan

Pantai Teleng Ria berada di teluk Pacitan. Ini adalah salah satu pantai yang menjadi jargon tanah kelahiran presiden SBY. Tanah berumput hijau terhampar luas sebelum mencapai bibir pantai. Bunga bakung ungu menyembul di antara rerumputan itu. Ada juga segerombol pohon cemara jarum dan tunas kelapa yang mesih rendah. Wow, indah bukan buatan.

[Nekad Blusukan] Hong Kong Rasa Kanada

Sweet gum bukanlah mapel. Bentuk daunnya ada yang menjari 3, 4 dan 5. Ukurannya pun berbeda sesuai dengan musim di mana pada musim semi, daunnya lebih lebar.

2015-07-30

[Octivity] Tentang sebuah Citizen Journalism ala BMI Hong Kong dan di Sebaliknya

Tentang sebuah Citizen Journalism ala BMI Hong Kong dan di Sebaliknya

Mungkin ini bukan tulisan serius. Tapi aku pribadi menuliskannya dengan sangat serius. Memang, ini hanyalah pengalaman pertama untuk aku yang hanya seorang kungyan. Tapi berbekal pengalaman menulis jurnalistik ala jurnalis warga dan fotografi serta projek film pendek, aku sedikit punya rasa percaya diri. Semoga bisa membantu meski grogi setengah mati.

Dan biasanya, hal-hal pertama itu lebih berkesan ketimbang pengalaman serupa yang terulang. Ada satu hal yang membuatku berkesan meski telah melakukannya berkali-kali. Mencintaimu, iya, mencintaimu setiap hari selalu membuatku berkesan ç ceritanya nggombal, hahaha.

Hari itu, minggu-minggu awal Juli aku mendapat info dari teman via FB. Katanya ada sebuah stasiun teve yang tengah naik daun membutuhkan tukang foto/tukang video untuk melengkapi reportase mereka. Ada tiga kandidat yang akhirnya akulah yang mengambil kesempatan itu.

Akhirnya aku dihubungi oleh Mr. A (yang ternyata produsernya) untuk menjelaskan apa dan bagaimana gambar yang dibutuhkan. Selanjutnya, aku ‘dilempar’ ke reporter, Ms. B, di mana dia ini yang memfollow kegiatanku dengan calon narsum, Ms. C (yang seorang BMI).

Sabtu itu aku ke pasar Quarry Bay tempat Ms. C belanja sekaligus melakukan wawancara. Aku mencatat dalam buku ‘pusaka’ apa saja yang harus aku tanyakan. Entah karena insting atau apa, aku melakukan improvisasi, hahaha. Biar hasil videonya enak dilihat secara aku hanya mengambil gambar Ms. C saat berada di Hong Kong. Soalnya ybs akan mudik ke Indonesia dua hari lagi.

Tidak ada halangan berrati hari itu kecuali kesalahan teknis setingan kamera di M yang ternyata beda banget hasilnya bila digunakan untuk foto dan merekam video. Balik deh ke setingan A, hahahah.

Lumayan menyenangkan sih tapi setengah hari kerja lapangan dengan cuaca di atas 32 C ternyata membuatku lemes. Setengah hari sesudahnya aku habiskan tiduran (dan tidur beneran) di kamarku mumpung bu bos sekeluarga loihang ke London. Buka puasa rasanya kurang bergairah yang hanya aku isi dengan makan mie. Padahal nggak biasanya lemes gini. Ah, mungkin karena semalam ada lemburan sehingga kurang tidur.

Minggunya kembali aku mengambil video Ms. C yang lagi liburan bareng teman-temannya di Victoria Park, Causeway Bay. Nggak banyak sih lah sudah 7-7-8-8 hari Sabtunya. Aku sendiri lagi menyiapkan pameran foto Agustus besok. Jadi memang harus bagi-bagi waktu bila ada janjian di hari Minggu.

Pulang ke rumah, aku seperti kena suntikan adrenalin. Aku langsung mengedit video dan langsung menyimpannya dalam HD. Dan… sial!!! Lepiku heng. Padahal sampai jam 2 pagi loh. Akhirnya aku sahur dulu dan mulai edit video ‘parodi’ untuk menghilangkan kegalauan gara-gara heng tadi.

Setelahnya, aku mulai lagi editing citizen journalism video dengan tempo yang lebih cepat mengingat bagian-bagian yang dijahit sudah aku pilah. Begitu selesai, aku langsung posting di web teve itu. Iya, sih, nunggu approve dari admin. Setelahnya, aku lupakan, hahaha, sampai sekarang.

Yang aku ingat, aku menanyakan pada Ms. C, bagaimana ia bisa terpilih menjadi sosok utama dalam program teve mereka. Ia mengatakan bahwa ia mendapat tawaran dari organisasi perburuhan yang konsisten di bidang advokasi, tempatnya bergabung selama ini. Organisasi ini menyerahkan beberapa nama berikut kisahnya dan nama Ms. C ini terpilih. Hal yang sama aku tanyakan pada Ms. B, kenapa memilih Ms. C? Jawaban yang luar biasa kudapatkan, mana saya tahu, mbak, itu urusan editor. Aku langsung membayangkan betapa kerennya pekerjaan editor itu. Gokilll... Nggak salah bila aku pengen banget menekuni bidang multi media, someday sih, soon be better.

Sebagai orang yang sudah satu dasawarsa ngungyan di Hong Kong apalagi lumayan aktiv di berbagai kegiatan BMI (tahun Des 2010- Feb 2014) sebelum akhirnya fokus sekolah sambil nyambi di dunia fotografi dan traveling, ada yang kurang sreg dengan pemilihan Ms. C ini. Sebelumnya aku antusias sekali ‘menguliti’ kisah hidupnya. Tapi kok kayaknya lebih banyak kisah yang lebih miris dari dia. Kerjaan berat, tidur jam 12, nggak boleh ngomong sama sesama BMI … Hello, ini bukan jaman penjajahan kalee. Tahun-tahun terakhir BMI banyak mendapat kelonggaran berorganisasi, beribadah dan terutama menggunakan jilbab/niqob. Dia juga aktiv di organisasi advokasi, seharusnya dia berani ‘melawan’. Bila mengeluhkan pekerjaan berat, rata-rata BMI Hong Kong ritme kerjanya seperti itu - meski nggak semua sih. Tapi, seberat-beratnya pekerjaan akan terasa ringan jika tidak dikerjakan, hahaha, eh… pekerjaan akan ringan jika dinikmati tiap prosesnya. 

Belum lagi alasan dia tidak dikasih pulang ke Indonesia karena majikannya tidak ngasih ijin saat sebuah bencana menimpa keluarganya. Baca lagi deh aturan perburuhan di Hong Kong. Jangankan pulang, libur nasional saja tidak dikasih kok kalo belum genap tiga bulan di Hong Kong. Kecuali memang majikannya toleran dan gemati.

Saat ini dia menjalani kontrak kerja ke-3. Sesuai peraturan perburuhan di Hong Kong, setiap pekerja mendapat libur tahunan sebanyak 7 hari. Khusus kontrak pertama, libur ini baru bisa dinikmati setelah kontrak kerja habis. Bila berkaca pada peraturan ini, bukankah ada kesempatan menengok keluarga setelah kontrak pertama selesai? Kenapa nggak minta pulang? Itu hak pekerja loh.

Benar saja, setelah video itu diposting di FP, komen senada denganku banyak bertaburan. Mungkin aku keterlaluan jika mengatakan program itu ‘menjual kesedihan’. Hahaha, maklum, bad is good news. Kemudian aku ‘bertukar peran’ dan menempat posisiku di belakang layar. Percayalah, kita akan memahami kondisi ini.

Pertama, ketidak mudahan mengakses data tokoh (dalam hal ini BMI) untuk kemudian diseleksi mana-mana yang pantas dijadikan tokoh utama. Kedua, tidak selalu tersedia SDM di daerah domisili tokoh tersebut (dalam hal ini di luar negeri/ Hong Kong) untuk membantu menginput bahan sebelum ‘dijahit’ dengan bahan yang diambil di daerah asli (di Indonesia). Ketiga, kerelaan tokoh tersebut untuk dijadikan nara sumber. Nggak semua mau masuk teve apalagi sisi pribadinya dipublikasikan. Yang nggak percaya alasan ketiga ini pasti belum pernah disemprot narasumber, hahaha. Dan yang keempat, BMI di lugri itu terikat kontrak kerja dan aturan tidak terlulis sesuai kondisi tempat kerja masing-masing. Standarisasi pekerjaan di tiap keluarga tidak sama. Yang terpenting bagi BMI adalah adaptasi. Dan yang kelima, kita tidak tahu alasan utama si Ms. C ini tidak pulang yang mungkin hanya dia, Tuhan dan malaikat saja yang tahu. Who knows?

Well, setidaknya out put program ini sempurna sekali. Beberapa teman saya sempat mewek bawang bombai gara-gara nonton videonya. Ada hal positive kok yang bisa kita ambil.

“Pulanglah. Jenguklah orangtua selagi mereka masih ada di dunia.”


Mohon maaf atas ketidak nyamanannya. Semoga ada kerjasama lagi di waktu-waktu mendatang. Terimakasih. [Risna Okvitasari]

2015-07-29

[ Nekad Blusukan ] Sam Tung Uk Museum: Hong Kong Tempo Doeloe

TSUEN WAN | HONG KONG – Hong Kong terkenal dengan kota metropolitan. Gedung-gedung bertingkat nan mewah banyak kita jumpai. Apartemen tinggi menjulang pun bertebaran. Namun, kita masih bisa menikmati komplek perumahan tempo doeloe di distrik Tsuen Wan, New Territories.
Sam Tung Uk Museum, komplek perumahan tempo doeloe ala Hong Kong ini merupakan salah satu situs sejarah peninggalan masa lampau yang menggambarkan kehidupan masyarakat Hong Kong, khususnya masyarakat klan Hakka (marga Chan) yang berasal dari propinsi Guang Dong, China. Sam Tung Uk dibangun pada tahun 1786 dan mengalami pemugaran setelah tahun 1981.
Ketika kita sampai di tempat ini, pepohonan besar nan rindang yang menyatu dengan area museum akan membuat kita merasa sejuk dan damai. Sejenak kita akan terlupa dengan hiruk pikuk Hong Kong.
Sam Tung Uk Museum 2 (sinna hermanto,apakabar plus)
Museum ini menempati area seluas 2000 meter persegi. Dengan tiga pintu utama, hanya pintu tengah saja yang berfungsi sebagai pintu keluar/masuk. Begitu kaki kita melewati papan bertuliskan huruf China pada pintu utama, kita langsung disambut dengan ruang resepsionis di sebelah kanan dan ruang pameran di sebelah kiri yang berisi gambar-gambar perubahan Sam Tung Uk sebelum, saat, dan sesudah pemugaran. Termasuk, memamerkan miniatur museum dalam boks kaca transparan serta gerabah-gerabah kuno. Tepat satu garis lurus dengan pintu masuk adalah ruang pertemuan keluarga dan ruang sembahyang yang disekat dengan pintu berdaun empat. Tetapi, yang terbuka hanya pada dua daun pintu bagian pinggir saja.
Sam Tung Uk Museum 4 (sinna hermanto,apakabar plus)
Tata letak bangunannya terkotak-kotak simetris. Terdapat empat model rumah yang tersentra di komplek tengah mengelilingi ruang keluarga dan ruang sebahyang tadi. Model tiap rumah adalah setipe dengan ciri khasnya: dapur di bagian depan sebelah kanan, gudang dan tempat alat-alat pertanian di sebelah kiri depan, kamar keluarga di tengah belakang, kamar serbaguna di kanan belakang, dan kamar tidur di bagian kiri belakang. Bahkan, ada kamar khusus di lantai atas yang terbuat dari papan. Namun, para pengunjung tidak bebas masuk kamar-kamar tadi dan hanya bisa melihat sampai batas yang telah ditentukan pihak pengelola museum. Pada salah satu rumah, terdapat perlengkapan upacara pernikahan yang terletak di ruang keluarga.
Yang unik, begitu memasuki rumah-rumah tadi, kita akan menemukan lantai yang model pembangunannya lebih rendah sekitar 10 sentimeter dari kelima lantai kamar sekitarnya. Menurut penjelasan seorang staf, itu kepercayaan feng shui untuk melancarkan aliran udara. Oleh karenanya, kita harus hati-hati agar tidak terjatuh saat memasuki komplek perumahan bagian tengah ini. Keunikan lainnya, setiap grendel pintu bentuknya sama dan terbuat dari besi kuningan. Ada tulisan ‘hei’ (dari kata ‘siong hei’_double happiness) dalam huruf China yang memiliki makna kebahagiaan.
Pada komplek luar di sisi kanan yang memagari keempat rumah tadi, terdapat masing-masing empat ruangan yang menggambarkan musim bercocok tanam masyarakat pada masa itu. Sedangkan di komplek luar sebelah kiri terdapat ruang galeri seni untuk memajang lukisan dan gambar dewa-dewa kepercayaan penghuninya.
Sisa empat ruang di bagian belakang museum ini difungsikan sebagai toilet umum, ruang staf (tertutup untuk umum), ruang teater, dan ruang kaleidoskop Tsuen Wan. Di ruang teater, kita bisa menikmati video tentang kehidupan masyarakatnya: petani yang gemar membuat kerajinan pahat. Sedangkan di ruang kaleidoskop, kita bisa melihat peralihan dari masyarakat petani menjadi masyarakat urban, khususnya kehidupan pekerja pabrik tekstil tahun 1950-an hingga abad milenium.
Memutar dari kiri ke kanan, perubahan itu bisa kita rasakan. Mulai dari peralatan sehari-hari hingga foto-foto yang dicetak hitam-putih, sephia, dan warna tentang peristiwa-peristiwa penting, termasuk saat masuknya Mass Transit Railway (MTR) jalur Tsuen Wan pada tahun 1982. Bahkan miniatur peta 3 dimensi pun bisa kita bandingkan pada abad 19 dan abad 20. Sebelum kita pergi, kita bisa menuliskan pesan dan kesan yang bisa kita tempel di ruang ini. Sttt…! Ruang inilah satu-satunya yang menyediakan wifi gratis.
Apabila beruntung, kita bisa menjumpai pasangan pengantin melakukan foto pre-wedding di halaman museum atau orang-orang yang membakar hio maupun dupa saat sembahyang untuk leluhur. Ada sebuah makam di halaman depan bagian kiri.
Kita bisa mengunjungi museum ini secara gratis, baik perorangan maupun kelompok dengan atau tanpa pemandu wisata. Museum ini tutup pada tahun baru Imlek hari pertama dan kedua, serta setiap Selasa (kecuali hari libur umum).
Sam Tung Uk Museum 3 (sinna hermanto,apakabar plus)
Untuk bisa mencapai tempat ini dengan mudah, kita bisa menempuhnya menggunakan MTR Tsuen Wan exit C, tepat di dekat gerbong kereta yang ke-8. Tanpa naik ke concurse, kita langsung berjalan selama 5 menit ke arah kiri.
So, Kamu tertarik melihat Hong Kong tempo doeloe? Datang ke Sam Tung Uk Museum! [Sinna Hermanto]

2015-07-17

[Fiks-isme] Maluku Pulang Padamu [FR]



*

Gedibal. Jongos!
Dua kata itu mengiang di telingaku. Ada sesak yang tetiba berdesak. Ada getir dan air mata yang mulai mengalir.
Sekolah tinggi-tinggi, SSSS. Percuma kalo akhirnya cuma jadi tukang cuci.
Mulutku terkunci. Bekuku terpaku dalam kumparan waktu. Sendiri, di sudut bumi pertiwi.
Seharusnya, kamu pulang ke sini dengan ilmumu, dengan pengalamanmu untuk kamu amalkan, untuk kamu praktekkan dalam kehidupan. Aku saja yang hanya lulusan Sekolah Teknik bermental insinyur kok. Bagaimana mungkin kamu yang sarjana malah bermental babu.
Dan aku memang babu. Tapi, Pak, dengan aku menjadi babu, aku bisa menyekolahkan adik.
Ya itulah kamu! Dinasehati malah berdalih. Bapak tidak pernah mempermasalahkan rengking kelas. Tapi Bapak hanya tak mau anak-anak Bapak jadi jongosnya Cina, gedibalnya Arab. Lagipula, adikmu itu dapat sponsor di Cambridge, sekolah tinggi di negerinya Lady Di, di luar negeri.
Maafkan aku, Bapak, Ibu.

*

Aku berusaha tersenyum menyudahi percakapan di ruang tamu itu. Di luar sana, senja dari jendela kaca semakin tua. Pekat pun meraja. Awan sisik tersedot cakrawala, keabu-abuan.
Langkah kaki membawaku ke dalam kamar. Duduk aku di bibir ranjang. Koper metalik beroda empat menyambutku dengan pongah. Ada tenaga yang menggerakkanku mendekatinya, menariknya ke dekat lemari.
Aku berkemas.

*

“Nyonya, aku ingin secepatnya balik ke situ. Boleh nggak?”
“Ada masalah?”
“Nggak ada, aku hanya kangen Kacie dan Didi.”
Aku tahu, ini jawaban yang tidak masuk akal. Kangen anak orang? Aku tak tahu harus dengan alasan apa biar terlihat logis. Tapi otakku buntu. Sangat tidak mungkin aku bilang perihal percakapanku tadi sore. Aku nggak mau dicap sensi macam pelaku sosmed yang kelewat berisik rebutan Wahyudi, Remason, mata dajjal dan macem-macemnya itu. Kuakui, aku kurang berbesar hati.
Baru aku menginjakkan kaki di bumi pertiwi dua hari lalu. Tapi maluku bermanja-manja di pangkuannya hanya karena statusku babu.

Ibu pertiwi
Maluku pulang padamu

Tanganku penuh minyak babi
Bajuku terkena ludah asu
Aku hanya seorang babu

Bagaimanaku mensucikannya?
Dibasuh dengan apa?
Dibersihkan dengan cara apa?

*

Pagi masih terlalu dini. Tapi mataku terang benderang serupa purnama bulan ke-8 tahun Lunar meski semalaman tiada terpejam. Aku berjalan pelan menuju dapur. Bapak dan ibu sedang menikmati kopi.
“Bapak, Ibu, saya pamit, mau kembali ke kerja hari ini.” Mereka berpandangan. Ibu berdiri, mendekat padaku. Suaraku tercekat, napasku terhenti sesaat. “Semalam majikan meminta saya segera kembali. Nenek masuk rumah sakit.” Aku berbohong, dobel bohong.

*

Suara takbir menyeruak di antara toa-toa, bersahutan, di kota-kota yang aku lewati. Terang semakin garang.
Maaf, ibu pertiwi. Maluku pulang padaku karena aku babu.

 - oOo -
 Gambar: Fiksiana Community.

2015-07-15

【Fiks-isme] Pergi ke Bulan - FAPI

Pergi ke Bulan
*
*
Mas, bulan di langitku bulat sempurna. Ini adalah purnama kesekian kalinya aku menunggu kedatanganmu. Katanya kamu akan datang bersama rombongan untuk mengajukan proposal mimpi kita. Tapi hingga sekarang, kamu belum juga tiba.
Kalo kita sudah sah, kamu bilang akan membawaku pergi ke bulan. Di sana kita bermanja-manja, berdua saja. Tapi tentunya kita menggendong 'keril' segede kulkas. Isinya bukan stok logistik, tenda, nesting, webing, teve, lemari, kamar mandi atau koki. Namun, cukuplah cadangan oksigen saja. Bila cinta melanda, lapar pun tiada terasa.
Sambil bulan madu, kita praktek pelajaran biologi, katamu. Tapi aku lebih memilih pelajaran sosiologi. Atau… kita gabungkan saja dua mata pelajaran itu agar tercipta disiplin ilmu baru. Kita namai apa? Bisalogi, mungkin?
Untuk kelangsungan hidup keluarga kita kelak, kita jualan kue bulan atau buka kedai kue terang bulan. Pasti di sana tidak ada saingannya. Usaha kita bakal lancar jaya.
Oh ya, jangan lupa bawa alat-alat fotografimu. Bukannya kamu ingin melukis cahaya di bulan? Aku akan membawa pesawatku untuk mengantarmu menjelajah galaksi raya. Jangan kegenitan saat ketemu Saturnus. Kalo dia pakai cincin berarti dia tidak pacarable lagi.

Mas, kamu kok nggak datang-datang? Aku telat datang bulan.
-oOo-



3M

Hi, there. The Moon up there was perfectly round. Its lite as bright as we saw last time. Hm… It means many times i m waiting for you.
"I will come with my honour," you said.

If Me plus Me become double we, just prepare our trip to the Moon. Remember, only two of us who allowed. We will hike all the tops of Moon, carry double size of cariel. Do you want to know what i put on? Yes! Oxygen. No need to bring tent, nesting, webbing, sleeping bag, bathroom, toilet, foods, stove, even the chef. Love makes us full, right?


“Shall we learn Biology?" I prefer Sociology. Or ... we blend them as we can create a new subject. What do you think about its name? Greatology, perhaps.

For our future, should us do some business there? Selling moon cake, maybe. Donot be affraid of sailor Moon. She will not come with her sailing ship as she is selling thousand cans of spinach with Popeye. This Moon is ours.

Do not forget to bring your camera. Our honey Moon will be the first human time travel. I will ride my time machine to bring you round galaxy. Do not be silly if you meet Saturn. It's wearing ring, wedding ring, now. It is not single and available anymore.

Hi, there. why do you -still- not come? You leave me without 3M, Money - Man - Menstruation.

2015-05-31

[Octivity] Indohikers: Circle of Friendship

Indohikers: Circle of Friendship

Bertepatan dengan hari buruh, Indonesian Hikers (Indohikers) memperingati hari jadi yang ke-3(1/5). Acara yang bertema "circle of friendship" ini bertempat di Clear Water Bay, Saikung. 

Menurut ketua Indohikers, Asti Maria, tema ini dipilih karena memiliki makna khusus. Persahabatan diibaratkan seperti lingkaran yang saling sambung-menyambung dan satu kesatuan. Persahabatan di sini tidak hanya antar teman tetapi juga pada alam sebagaimana slogan Indohikers, "go green, back to nature", lanjutnya.

Ia berharap agar terjalin persahabatan yang indah antar sesama Indohikers, sesama teman hiking maupun dari organisasi lain.

Acara diisi dengan aneka hiburan dari tamu undangan maupun dari anggota Indohikers sendiri. Antara lain: menyanyi dengan iringan petikan ukulele, baca puisi, stand-up comedy, drama, menari massal, aneka perlombaan dan bagi-bagi hadiah.

Tidak hanya bersenang-senang, Indohikers juga mengadakan galang dana untuk korban bencana alam yang terjadi di Nepal. Sumbangan yang terkumpul mencapai HKD 1700.

Risna Okvitasari.

2015-05-30

[Octivity] Lensational & Voltra Workshop Photography

Lensational & Voltra Workshop Photography

Belasan Buruh Migran Indonesia (BMI) mengikuti workshop Photography yang diadakan oleh Lensational (Lens and Sensational), sebuah organisasi non profit yang memberdayakan perempuan melalui fotografi. Workshop kali ini Lensational menggandeng Voltra (Volunteerism and travel), sebuah organisasi non pemerintah yang menggabungkan kekuatan kesukarelaan dan pertukaran budaya selama berwisata.

Kegiatan yang dimulai pukul 13:00-17:00 ini diawali dengan perkenalan antar anggota dengan mendeskripsikan diri sendiri seperti buah-buahan. Canda dan tawa mewarnai perkenalan awal pada workshop ini. Acara dilanjutkan dengan hunting foto di Kowloon Park dengan membaurkan antara peserta dan penyelenggara serta membaginya dalam grup-grup kecil. Tidak adanya ketentuan khusus mengenai genre foto yang diambil membuat peserta lebih bebas membidikkan kamera pada objek-objek yang dianggap menarik. Entah itu memotret hewan, bunga, manusia hingga membuat foto dengan objek mengambang atau yang disebut levitasi.

Dua jam kemudian, peserta workshop diajak berwisata di salah satu destinasi wajib bagi pelancong yang datang ke Hong Kong. Lokasi hunting foto dilanjutkan di Star Ferry. Para peserta begitu antusias manakala tim Lensational meminta menunjukkan hasil foto sekaligus menjelaskan kenapa foto tersebut dipilih pada akhir workshop.

Asti, misalnya. Ia menunjukkan foto lelaki yang memakai masker yang sedang menggendong anak kecil. Foto lelaki itu memiliki tatapan mata begitu tajam di mana ia tahu kalo sedang dipotret seolah-olah berkata bahwa ia melindungi anaknya dari bidikan kamera.

Seusai workshop, baik dari Lensational maupun Voltra melakukan evaluasi kegiatan termasuk apa saja kekurangan workshop kali ini sehingga workshop mendatang berjalan lebih baik lagi. Menurut salah satu anggota Lensational, Amy, workshop kali ini tidak terkendala oleh bahasa meski berkomunikasi dalam bahasa kantonis lantaran para BMI begitu fasih berbahasa kantonis. Sedangkan Venus dari Voltra mengatakan bahwa ia melihat kegembiraan dalam kegiatan ini. Di mana para peserta tidak terbebani dengan tema foto. Mereka menikmati workshop serupa berwisata.

"Senang. Bisa berbaur, belajar dengan orang lokal dan tidak ada gap antara kita," ucap Asti saat menyatakan kesannya mengikuti workshop ini.

Workshop hari kedua akan diselenggarakan pada tanggal 10 Mei pukul 13:00-17:00 untuk melihat wajah Hong Kong tempo dulu di Shek Kip Mei.

Risna Okvitasari.

2015-05-23

[Octivity] UAS 2015.1 Mahasiswa UT di Hong Kong

UAS Mahasiswa UT di Hong Kong


Sekitar 250 mahasiswa Universitas Terbuka (UT) mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) tahun akademik 2015.1 di Bayanihan, Kennedy Town Center. UAS ini berlangsung dua hari, yakni tanggal 3 dan 10 Mei 2015. Sebagain besar peserta UAS adalah Buruh Migran Indonesia dari Hong Kong dan Macao.

UAS yang dimulai pukul 9:00 hingga 16:30 ini dihadiri oleh pemantau UAS sekaligus dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Anto Hidayat. Dikatakannya, UAS berjalan lancar dan tertib. Peserta UAS pun begitu antusias dengan menaati tata tertib ujian serta mematangkan materi dari jauh-jauh hari.

"Kalau dikatakan kendala, ada beberapa mahasiswa yang tidak hadir. Sayang sekali, apakah (mahasiswa tersebut) sakit? Apakah tidak mendapat ijin dari majikan?" ucapnya.

Sehari sebelumnya (2/5), sembilan wisudawan mengikuti Upacara Penyerahan Ijazah di ruang Ramayana, KJRI-HK, yang dihadiri oleh Rektor Tian Belawati, Rektor Pembantu I Yuni Tri Hewindarti, dosen FISIP Anto Hidayat, pejabat KJRI dan tamu undangan.

UT merupakan universitas negeri yang memiliki sistem pendidikan jarak jauh. Dikatakan terbuka karena menjadi mahasiswa UT tidak mengenal seleksi masuk, perbedaan latar belakang ekonomi maupun letak geografis dan telah menjangkau hingga luar negeri. Setidaknya ada 38 Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) UT, dr Papua sampai Aceh plus UPBJJ Layanan Luar Negeri untuk mahasiswa yang berada di luar negeri, termasuk mahasiswa di Hong Kong dan Macau berada di UPBJJLLN ini.

Di UT ada skema layanan Sipas dan Non Sipas. Mahasiswa bebas memilih akses tersebut yang nantinya ada konsekuensi terhadap besaran biaya kuliah. Namun, mahasiswa tetap mendapatkan layanan inti yang sama. Karena, dalam pelaksanaan UAS nantinya tetap bersama. Dalam hal tertentu, pelaksanaan UPI misalnya, UT bermitra dengan dengan perwakilan Indonesia di luar negeri, salah satunya adalah KJRI.

Sedangkan untuk alumni, bisa bergabung dalam penyelenggaraan ujian sebagaimana pelaksanaan UAS tahun akademik 2015.1. Tetapi, mekanisme seleksi itu akan dibicarakan lebih lanjut.

Ketika ditanya mengenai ketidakhadiran peserta ujian, salah satu pengurus Pokjar, Wiwinda Harnanik, mengatakan bahwa tidak ada konfirmasi apapun dari mahasiswa yang bersangkutan. Namun, ia menyatakan memang ada seorang mahasiswa yang menumpang ujian di Bandung karena sedang dalam proses menunggu visa kerja.

Risna Okvitasari