[Nekad Blusukan] Sam Tung Uk: Hong Kong Tempo Doeloe

"Sam Tung Uk Museum, komplek perumahan tempo doeloe ala Hong Kong ini merupakan salah satu situs sejarah peninggalan masa lampau yang menggambarkan kehidupan masyarakat Hong Kong, khususnya masyarakat klan Hakka (marga Chan) yang berasal dari propinsi Guang Dong, China. ," lanjutnya.

[Nekad Blusukan] Lei Yue Mun, Eksotisme Wisata Kampung Nelayan

Orang bilang: foto-foto cantik itu biasa, foto-foto ekstrem itu barulah luar biasa.

[Nekad Blusukan] Sheung Wan: Pusat Graffiti di Hong Kong

Tai Ping Shan merupakan daerah Sheung Wan bagian atas. Area ini terkenal sebagai tujuan pecinta seni dengan aneka galeri serta barang-barang antiknya. Sehingga tak salah jika Sheung Wan menjadi salah satu pusat grafiti di Hong Kong.

[Nekad Blusukan] Plesir ke Pacitan

Pantai Teleng Ria berada di teluk Pacitan. Ini adalah salah satu pantai yang menjadi jargon tanah kelahiran presiden SBY. Tanah berumput hijau terhampar luas sebelum mencapai bibir pantai. Bunga bakung ungu menyembul di antara rerumputan itu. Ada juga segerombol pohon cemara jarum dan tunas kelapa yang mesih rendah. Wow, indah bukan buatan.

[Nekad Blusukan] Hong Kong Rasa Kanada

Sweet gum bukanlah mapel. Bentuk daunnya ada yang menjari 3, 4 dan 5. Ukurannya pun berbeda sesuai dengan musim di mana pada musim semi, daunnya lebih lebar.

2016-07-07

Lebaran: Kampungku, Kampung yang Kekota-kotaan


Kampungku, Kampung yang Kekota-kotaan

Ini cerita tentang kampungku, sebuah kampung yang ada halamannya, halaman yang masih berupa rumput maupun halaman yang telah dibeton biar kuat dan kokoh kayak hati jomblo yang dibombandir pertanyaan wajib tiap mudik: "kapan nikah?", "gandengannya mana?", atau … "masih sendiri?". Kampungku ini bukanlah kampung di pelosok. Tetapi, ini kampung modern, sebuah kampung yang tidak ndeso, yang bisa juga disebut kampung yang kekota-kotaan. Bila kamu sempat mampir di kampungku, barangkali kamu bakal menemukan horang-horang kampungan. Ya … gimana nggak kampungan, di saat cuaca sedang hot potato-potato (panas ngenthang-ngenthang) atau pun tung-bing-bing (dingin menggigit) tetapi ada yang memakai jaket kulit dan boot setinggi lutut plus celana gemes. Kadang-kadang di punggung ada tato alami bergambar tulang ikan (bekas kerokan). Kalau beneran ketemu, tolong disapa. Itu aku. Biasalah, prinsipku 'kan: biar menderita asal memesona!

Dulu, bertahun-tahun lalu, sholat idul fitri selalu dilaksanakan di halaman yang luasnya seperti lapangan bola yang berumput. Jamaahnya selalu membludak. Berbanding terbalik dengan jamaah sholat wajib di mushola yang jaraknya hanya lima menit jalan kaki dari tanah berumput itu. Sekarang sih sholat id-nya lebih tersebar di beberapa tempat dan tidak terkonsentrasi di tanah berumput saja. Alhamdulillah ya, sesuatu. Semua berjalan lancar berkat panitia yang sigap dan pak polisi yang siap sedia mengawal kelancaran ibadah.

Usai sholat idul fitri, kami akan antri bersalaman, halal bihalal, dengan 'Bapak dan Ibu'. 'Bapak dan Ibu' punya 'anak' buuuanyak. Makanya, negara kami sedikit terbantukan. 'Kan banyak anak banyak rejeki. Semakin banyak anak-anak yang bermigrasi, semakin banyak pula devisa yang mengalir ke kantong-kantong pendapatan non migas di dalam negeri. Kembali berbicara banyak 'anak' ini, kami perlu membuat antrian yang mengular (gak pakai tangga) demi sebuah silaturrahmi dan berjabat tangan bonus nasi kotak dan sebotol air mineral. Gini amat, yak?

Nah selanjutnya, 'pesta Hari Raya' sesunggguhnya baru akan dilaksanakan pada hari Minggu pertama di bulan Syawal. Kami bakalan memakai baju terbaik (bahkan termahal, terbranded, terkini, ter- ter- dan ter- lainnya)_tentu aku  termasuk di dalamnya, kan horang kayah. Makanannya pun angujubile banyaknya, bejibun banget macamnya. Seolah-olah, rayakan hari kemenangan ini karena esok harus kerja rodi lagi. Saking kemaruknya, ketika lambung sudah tidak muat dengan aneka kue kering dan basah, aneka minuman instan atau racikan dan beraneka menu lebaran lainnya, sisa-sisa makanan akan terbuang percuma di tong sampah, khususnya masakan bersantan yang tidak kuat melawan pengapnya cuaca terik di musim panas. Cepat basi, sih. Itu tuh, opor ayam yang sedianya diguyurkan di atas potongan ketupat … eh … lontong. Kadangkala, untuk makan 10-20 orang tapi porsi masaknya untuk kondangan orang satu RT. Puo-puo, gitu tetangga sebelah menyebutnya. Kalau dinalar, berapa piring sih lambung kita mampu menampung makanan dan minuman (plus udara)? Takut kurang, mumpung kumpul sama keluarga, mumpung ada rizki… gitu?

Sebenarnya, kampungku adalah kampung yang paling komplit di planet bumi. Mulai dari jenis makanannya, agamanya, rasnya, sukunya, bahasanya, kelakuan horang-horangnya, termasuk alat pertukaran yang biasa disebut mata uang. Semua ada. Bahkan kami bisa menciptakan percampuran-percampuran dikarenakan kebhinekaan tersebut. Banyak pula yang keminggris dan gembritish tapi pakai cengkok acha-acha are-are, pakai logat ngapak, bahkan f--k (faik) yang dipadu pisuhan janukc. Kalau kamu denger orang ngomong begitu, cubit saja. Itu aku, aku gak akan melaporkan ke polisi. Beneran.

Jangan mengira kampungku seburuk yang aku kisahkan. Itu sebenarnya kisah keburukanku saja. Banyak banget kegiatan positif yang terkonsentrasi di halaman berumput maupun halaman beton ini yang berdurasi sekian jam, seharian, dua mingguan atau kegiatan rutin lainnya. Entah itu pameran, lokakarya, yoga, pentas seni, pengajian, peragaan busana, latihan beladiri, demonstrasi, dan masih banyak lagi. Soalnya, kalau ditulis semua, sehari semalam pun belum tentu selesai.

Oh ya, kampungku itu bernama Kampung Jawa, yang terletak di taman Victoria (HK), kampung keduaku setelah tanah kelahiran. Sebuah kampung yang fenomenal, yang gaungnya sudah kedengaran bahkan ketika kakiku belum menjejak tanah asing di negeri asing ini. Kalau ditanya lebaran ini mau mudik ke kampung mana? Aku pilih mudik ke hatimu.

Tsah!
***

2016-07-06

[Fiksisme] Dee #8 : Aku Cemburu

D

Aku Cemburu 

Hai, Dee. Semalam saya mimpiin kamu. Hahaha. Pasti kamu ketawa sampek tersedak remahan rengginang. Yaa, gapapa sih. Kan DL_derita loe.

Secara gitu loh. Tiba-tiba ada WA dari kamu. Mana PP WA kamu bikin saya cemburu. Lama gak nyapa tiba-tiba pamer foto berdua. Kamu bilang dia adalah sepupu. Yakin sepupu? Atau … 'sepupu'? Lagian, hey … sejak kapan kamu hobi foto mesra sama sepupu? E cie … sepupu atau sesusu? Paha atau dada? Eh, jadi kayak pesen makan di KeeFCi. Duh, cemburu ini jadi menggebu. Tau nggak, kesayangan orang, yang kamu lakukan ke saya itu … jahat. Sooo jahad!

Lagipula, saya ini sudah jadi anak baik-baik, rajin menabung, nurut sama orangtua, gak pacaran! Tapi tiyang seperti saya malah fotonya sama tiang listrik. Kan kampret.

Tak ada tiyang asli, tiang listrik pun jadi.

Kamu katakan ke saya kalok kamu udah keren. Kalok boleh tau, sudah level berapa kerenmu? Level lokalan, tingkat kotamadya atau ibukota propinsi? Trus, trus, udah bisa buat apa, sama siapa dan ke mana aja? Berarti abis UAS nanti kita (ehem …) bisa halan-halan ke mana gitu kan, ya? Dan kayaknya, ini deh sumber mimpi itu. Saya lihat kamu melakukan sa'i, berlari-lari kecil dari jalan ini menyeberang jalan menuju ke sana dengan latar belakang lampu bangjo yang udah kedip-kedip. Tapi saya cuma lihatin kamu aja, gak pake nyapa. Toh kamu sudah mulai sehat dan dalam keadaan baik-baik saja. Masa kritismu sudah terlewati bersama saya. Tinggal masa pemulihan saja. Dan … tambah ada 'sepupu' yang bisa diajak selfie. Yaaa, saya jadi tahu diri … asudahlah. Saya paham maksudnya.

Lalu, dalam mimpi saya selanjutnya, saya melihat kamu datang ke rumah saya, menemui ibu. Duh, apa maksudnya cobak? Mau silaturahmi memohon maaf lahir batin atau menafkahi lahir batin?

Oh ya, bagaimana dengan rencana ke Spore buat ngetes jengglish (jawa-english)? Ayolah! Sekali seumur hidup kamu harus menjejakkan kaki di tanah asing, minimal satu negara. Yang low budget gapapa, backpackeran/ ngegembel gitu. Biar kebuka pandangan kita (cie kita…). Beneran, sodaraku yang pernah ke Thailand, Msia dan Spore (pas jaman kuliah) pikirannya lebih terbuka ketimbang yang baru jelajah lokalan, apalagi yang cuman diem di rumah. 

Kan tadi kamu sudah keren. Hawong dulu kamu packing ke semeru aja langsung cuzzz gitu kok. Ajak 'sepupu' yang cantik itu juga boleh. Asal mandiri, gak cengeng dan gak alay. Tolong tanyain, lipennya itu merek apa? Harganya berapa? Belinya grosiran atau ketengan? Saya kepingin.

Eh.
***

2016-06-16

[Fiksisme] Mini Drama : 16-6-16 Cita-cita Adek Mantan Mesin Cuci

Doc. Pri

Mini Drama

1. Judul : 16-6-16

Langkah kakinya pelan, seolah gesekan dengan lantai tidak boleh meninggalkan suara. Sekarang tanggal 16-6-2016. Ini tanggal cantik, secantik wajah seseorang yang selalu memenuhi isi hatinya … dahulu kala. Ia mengambil HP lalu mengetik pesan singkat.
"Hai, apa kab…." Tekan tombol hapus.
"Hai, kamu sehat? Lagi ap …." Tekan tombol hapus.
"Hai, kesayangan … orang. Sekarang tanggal cantik loh. Nggak pingin ngomong apaaa gitu? Bagaimana kalau kita balikan." Tekan tombol kirim.
Di seberang sana …
Unfoll. Unfriend. Blocked.
"Tamat."
***

2. Judul : Cita-cita Adek

"Adek, kalo gede mau jadi apa?"
"Adek mau jadi tiga. Jadi pilot di angkasa. Jadi pilotnya kereta api. Jadi pilotnya taksi. Biar bisa antar dedi dan mami jalan-jalan ke Hong Kong dan Bali."
"Tapi dedi dan mami maunya keliling dunia."
"Adek nggak tau jalannya, Mamiii. Kita keliling Monas dulu aja, ya. Kan tinggal belok kanan, kiri, kanan, kiri … gitu."
***

3. Judul : Mantan

"Meski kita udahan, jangan putus komunikasi, ya."
"Hmmm."
"Kok hmmm? Kamu lagi apa? Di mana sekarang?"
"Belanja. Di pasar bunga."
"Kamu masih suka beli bunga segar, ya? Kebiasaanmu nggak berubah. Selalu mengganti bunga setiap Sabtu."
"Enggak, aku cuman mau ngirimi kamu karangan bunga."
***

4. Judul: Mesin Cuci

"Bisa kerja nggak, sih? Nyebokin adek aja ngak bersih."
"Maaf, Nyah."
*
Satu jam kemudian ….
"Adek tidur ya, kok sepi amat?"
"Enggak, Nyah. Adek lagi dibersihin. Tuh, di dalam mesin cuci."
***


2016-06-14

Kumpulan Fiksi 7 kata

Doc. Pri

Fiksi 7 Kata

1. Kawin ~ Semalam, pinanganmu membuat jantungku dag-dig-dug tak menentu.

2. Adonan Cinta ~ Mengaduk jodoh dalam adonan sukro dan alien.

3. Cangkir kopi keempat ~ Terpikat. Cairan ini merambat hangat dalam pekat.

4. Mantan ~ Ziarah kenangan, sesak napas di pangkal tenggorokan.

5. Mantan ~ Kiranya rindu datang terburu-buru tanpa permisi dulu.

6. Barista ~ Sensasi dalam secangkir latte tawarkan cinta memble.

7. Jones ~ Tiada tiyang kakung, tiang listrik pun jadi.

*

2016-06-04

[Fiksisme] Dee #7: No News Is A Good News

D

No News Is A Good News
__________________________


Hey, kamu. Kabar baik 'kan?

Tadi kutinggalkan kata di bawah piringmu. Sudahkah kamu mengeceknya? Bukankah saat kamu makan itu lauknya adalah kata-kata dalam suasana chat?

Aku sadar, Kak Dee. Kamu sering ngilang akhir-akhir ini. Aku sadar sesadar-sadarnya bahwa tidak ada kabar darimu kuartikan bahwa kamu baik-baik saja. Bukankah kamu hanya datang saat membutuhkanku?

Tak ada kabar berarti kamu sedang tidak butuh aku. Dan itu juga berarti kamu bisa melakukan semuanya seorang diri. Bukankah itu berita baik? Aku ga bakal nethink ke kamu. Kakak punya kesibukan sendiri, kutau itu. Aku? Hehehe tak usah ditanya. Aku juga sibuk, sibuk mencari kesibukan, yang tak kutau si sibuk itu sibuk ngapain.

Aku belajar dari pengalaman. Rumahku memang selalu aku kunci. Saking lamanya dikunci, gemboknya sampai karatan. Gapapa dong karatan, kan 24 karat. Emas murni itu. Penggerak invest dinar juga paham hal ini. Ya … seperti pesan mendiang mas yang bisa ngasih emas-emas itu. Ah, jadi kangen doi.

Tapi kamu paham dong ya, kan aku dan kamu saling memahami. Kunci rumahnya ada di bawah pot kembang puring yang benihnya diambil dari pagar kuburan, iya, kuburan mantan (mantan calon anu yang gagal anu duluan karena anu).

Tapi aku sedang tidak baik-baik saja. Semoga Surabaya menjadi teman selanjutnya. Kota ini masih sama, masih bersahabat, tidak berubah. Hanya aku saja yang perlu berubah. Dan itu … sakit.
**

Doc. Pri: Kasih tak sampai

2016-05-31

[Fiksisme] Dee #6: Inisial D


Dee: Inisial D
_______________________________


Sebuah insial D, Dew Setyan, Sang Dew_pemilik mata jernih serupa embun_yang setia. Aku cemburu, Dee.

Enyahlah. Pergilah, membawa rasa yang kamu tinggalkan di sini, di hati ini. Bila perlu, belah saja dadaku, ambil hatinya sekalian biar ia tak baper melulu. Suer, Dee. Aku tuh nggak ngerti sama hati. Kenapa sih, dikit-dikit sok ngerasa, dikit-dikit kesinggung, dikit-dikit …asyudahlah.

Ingin sekali aku berbisik di telinga kananmu. "Ini semua karenamu, Dee."

Hati ini sudah nyaman dengan segala bekas goresan, sayatan, hunjaman dan pecahan-pecahan puzzle yang berserak. Kamu nggak perlu (pura-pura) peduli, mengumpulkan pecahannya, mencoba merangkai dan merekatkannya kembali bila akhirnya kamu hanya beralasan: BERCANDA.

Caramu bercandamu nggak lucu.

Sekarang kutanya padamu. Bekas luka di paha kananmu itu apakah masih ada meski sayatan itu terjadi bertahun-tahun lalu? Seperti itulah hatiku. Iya, luka fisik bisa saja meninggalkan bekas yang kasat mata, meninggalkan cerita kenakalan remaja. Tapi hati? Mengertikah bahwa luka di hati ini tak akan mampu kamu lihat. Mengertikah bahwa semuanya susah payah aku sembunyikan, susah payah aku sembuhkan?

What? You said you would help me? But you ruined everythings. Oh please! Donot say a word. Lemmie heal my self.

Tak perlu banyak bicara. Toh aku tak peduli lagi dengan alasanmu. Aku tak percaya lagi dengan kata-katamu. Kadang, aku tersiksa dengan … orang bilang sih … INSTING. Aku tak ingin memercayainya. Tidak, meskipun hanya sedikit. Aku hanya waspada, sepertimu wahai goldar A, yang senantiasa memerhitungkan segalanya. Aku belajar darimu, kok. Hanya saja … Dew … embun itu telah sukses menjawab keraguanku.

Yang mana … pada suatu hari… embun itu hinggap di ujung matamu, menawarkan penyejuk, yang tak mampu aku suguhkan di hadapanmu lantaran milikku telah menguap dalam belai angin yang berembus di antara jarak kita yang berhasta-hasta. Ini beneran, Dee, bukan berstand-up comedy.

Aku mikir, kenapa aku selalu berfikir bila fikiran itu dikit-dikit mikirin kamu. Klop banget sih sama hati yang … tetiba … nyemburuin kamu. Tapi aku akan tetap tertawa, minimal tersenyum agar ia menjadi obat penghambar.

Hampir saja cemburu ini membawaku mengikuti jalanmu. Pada senja itu … di tanggal yang cantik itu 16.5.16 … tabir di buka, menutup kisah sepasang malaikat yang menyaru jadi manusia, turun ke dunia fana, meninggalkan tingginya petala raya. Andai … iya, aku berandai-andai … embun itu muncul di hadapanku sekian waktu sebelumnya, aku kini tak lebih hanya sebuah … DATA.

Aku cemburu, cemburu yang terlambat.

***


End of may, 2016

Doc. Pri

2016-05-29

[Fiksisme] Goodbye, Gi.

Doc. D

Goodbye, Gi.


Langkahku ragu. Lorong ini terasa sempit, menghimpit. Tanganku tergenggam erat. Gi, kamu tenang, ya, batinku. Aku hanya bermaksud menenangkan diri sendiri.

Segala rasa bercampur jadi satu. Buku-buku jariku berair. Tapi aku lupa, di halaman mana kenangan denganmu kutuliskan, Gi.

Ruangan ber-AC ini mirip kutub utara. Aku sedikit menggigil. Kamu semakin berdenyut di dalam sana. Tenang, Gi, kita lewati hari ini bersama-sama sebagimana satu dasawarsa terakhir.

"Apa keluhannya, Nona." Lelaki berkacamata itu menyapaku. Kamu juga mendengarnya 'kan, Gi? Bantu aku menjawabnya, ya. E tapi, semisal tak dijawab, tidak perlu ada remedial 'kan? Ya … ujian ulang, mungkin?

Lalu aku telentang di atas benda berwarna biru muda.

"Kepalanya naikin dikit."

Gi, kepala kami berdua segaris. Seandainya ini gerhana matahari, mataku dan matanya hanya terhalang kacamatanya. Itu pun transparan. Aku memanfaatkannya untuk melihat kamu dari pantulan di kacamatanya itu. Tapi, kamu bersembunyi di pojok. Ih, kurang jelas, tauk! Aku ingin melihatmu juga.

Bangun dari posisi tidur, lelaki itu menanyaiku ini itu. Kepo banget 'kan, Gi? Dan akhirnya, ia memintaku mengikuti seorang perempuan yang sedari tadi menemaninya ke ruang sebelah. Aku senyum-senyum sendiri. Gi, kamu mau difoto. Cie yang mau difoto, cie. Widiw, mana butuh 30 detik pula buat satu kali jepret. Gapapa ya, Gi. Itung-itung foto keluarga besar.

Lalu, kita bersama-sama kembali ke ruangan tadi. Kamu mau aku kasih tau wujudmu? Hehehe, kamu lucu. Kakimu kenapa kayak mata kail gitu, ya? Sodara-sodaramu yang lain biasa aja, tuh.

"So, what's now, Miss?"

"Just do it, Doc."

*

Dengan kedua mata telanjangku, akhirnya aku melihat wujudmu, Gi. Tubuh putihmu berlumur cairan merah. Lelaki itu mengelap sisi luarmu. Kamu adalah Gi, Si Kacang Mede. Pernah lihat kacang mede 'kan? Iya, yang sering kamu lumat sama saudara-saudaramu. Seperti itulah kamu.

Ada gumpalan air di kedua sudut mataku. Kuseka dengan punggung tangan. Kamu tergeletak pasrah di sana.

Gi, terimakasih atas kebersamaannya. Aku sudah mati-matian mempertahankanmu. Aku tak mau berpisah, sebenarnya. Maafkan aku yang tidak mampu menjagamu dengan lebih baik lagi. Tapi, tolong, jaga diri setelah kamu punya rumah baru. Hari ini telah kita lewati dengan berdarah-darah. Perpisahan ini tidak sakit, Gi. Sungguh.

"Gigit ini tiga puluh menitan." Ia terus saja merepet kata-kata. Pikiranku tertuju padamu, Gi, meski pandanganku ke arahnya. "Minggu depan balik ke sini lepas jahitan, ya. Jangan lupa minum obat," lanjutnya.

Goodbye, Gi. Selalu ada good pada goodbye, 'kan?

***