"Sam Tung Uk Museum, komplek perumahan tempo doeloe ala Hong Kong ini merupakan salah satu situs sejarah peninggalan masa lampau yang menggambarkan kehidupan masyarakat Hong Kong, khususnya masyarakat klan Hakka (marga Chan) yang berasal dari propinsi Guang Dong, China. ," lanjutnya.
Tai Ping Shan merupakan daerah Sheung Wan bagian atas. Area ini terkenal sebagai tujuan pecinta seni dengan aneka galeri serta barang-barang antiknya. Sehingga tak salah jika Sheung Wan menjadi salah satu pusat grafiti di Hong Kong.
Pantai Teleng Ria berada di teluk Pacitan. Ini adalah salah satu pantai yang menjadi jargon tanah kelahiran presiden SBY. Tanah berumput hijau terhampar luas sebelum mencapai bibir pantai. Bunga bakung ungu menyembul di antara rerumputan itu. Ada juga segerombol pohon cemara jarum dan tunas kelapa yang mesih rendah. Wow, indah bukan buatan.
Sweet gum bukanlah mapel. Bentuk daunnya ada yang menjari 3, 4 dan 5. Ukurannya pun berbeda sesuai dengan musim di mana pada musim semi, daunnya lebih lebar.
“Let us
hang on to our dreams, high in the sky. Even if we fail, we will have fallen
down on to the bright stars.”
Nature inside (of me).
Anik Dwi Kumalasari is from Malang city, East
Java of Indonesia (situated around 869 km from Jakarta). She has been living in
Hong Kong as a domestic helper since 2003. This was so that she could earn
money to continue her studies university, and help her mother out as her father
passed away when she was 8.
In Hong Kong, she lived with a family and took care
of their four children. She found life to be very difficult and uncomfortable
as she couldn’t speak, hear, nor read Cantonese. These are similar problems
faced by other domestic helpers. No friends, no families and only one holiday a
month. She cried every night. She coped by writing her feelings down into a
diary.
One day, one of the children had an accident at
home. Blood was everywhere. Anik was so scared when she heard that the kid had
to go through a surgery treatment because of the wound. She packed her clothes,
anticipating that her employer would terminate her work contract.
Her employer found her and chided her.
Indonesia - Hong Kong (Doc. Lensational)
“What have you done? We are still need you. Silly.”
Times went on. She improved her language skills by
watching cartoon films. Her employer gave her free time to watch video channels
after finishing her work. Besides the language skills, good communication was
very important.
In 2009, Anik went back to Indonesia for good. At
home, she followed and watched an adventure television programme which was
hosted by a female presenter. She dreamed of meeting the presenter one day.
Her chance came. The TV station organised a big
mountain camping programme that took place for a few days. Anik did not care
about the programme, and just wanted to meet the presenter to take a photograph
together. And, she did.
From then on, she acquired many amazing experiences,
friends and new passions. She has fallen in love with nature, mountains,
hiking, and also camping.
Crazy part I (Doc Anik)
Crazy part II (Doc Anik)
Crazy part III (Doc Anik)
As an amateur female hiker, Anik was treated well by
seniors. They supported and took good care of her, especially when they hiked
to Tambora mountain (2581 mdpl) in Sumbawa, Lombok Island. It was famou” as it
cooled down to a temperature for 9 degrees it when exploded a century ago, in
1915. After the expedition, Anik transformed into the “crazy” hiker.
Two years ago, she came back to Hong Kong again. In
the early 2014, she joined Lensational for Holga session of photography classes
led by documentary photographer Simon Wan.
She learned much about photography.
She is proud to know the Lensational founders and
volunteers, they are not only young but they inspired every student to be more
confident, and supported every student’s dreams. Simon Wan also “injected” her
with other “crazy hiking viruses”. Both of them love hiking.
“I am
big and noisy, hahaha,” she explains about herself.
Georgeous in traditional costume, 'kebaya'
Yeah, she is tall. She acts like big sister who
always take care of her two little “crime partners”, Sinna (me) and Asti, while we pursued our “insanity” in taking photographs.
Sisters (Doc. Indohikers)
The craziest thing that we have done is to dream
about holding a photography exhibition. Accidentally, Lensational and Simon Wan
supported us. We exhibited our photos in mid-August, 2015.
Ada sebuah perasaan yang meletup-letup ketika saya mulai mengerti
bagaimana memanfaatkan Multiple-Exposure(ME)-nya D90. Ya, salah satu
pertimbangan ketika saya memilih kamera ini adalah karena ia dibekali ME. Jadi,
ketika beberapa orang hanya terpaku pada merek, bingung menentukan seri,
ketir-ketir dengan budget, saya malah mewek-mewek karena harus menguras
tabungan selama tiga tahun hanya untuk melamar panjenenganipun bebeib Ni**n. Maaf, bukan promosi
merek, hawong
saya ndak dikasih komisi sama yang
jualan kok.
Hingga suatu waktu, pada senja yang datang tanpa terburu-buru, saya
dan beberapa teman dari Indografer Hong Kong ‘menculik’ pak ketua, Ari Mahardhika, untuk bersama-sama mengabadikan salah satu sudut metropolis Hong
Kong. Meski tidak ada kelas privat fotografi, tetapi beliau bersedia berbagi
ilmunya untuk sesama WNI yang berniat belajar. Admiralty, begitu kesepakatan
tempatnya.
Senja dan blue hournya memang selalu memesona. Kami segera ambil
posisi dan mengeluarkan senjata masing-masing. Agak kebangetan memang, karena
ketika belajar rana lambat, tangan yang tidak steady sangat perlu bantuan
tripod. Kami-kami tidak membawanya. Yang ada malah ‘merampok’ tripod pak ketua,
hahaha. Sebagian dari kami, saya juga termasuk di dalamnya, memanfaatkan pagar-pod untuk
mengurangi goncangan.
Saya pribadi memang agak susah menjinakkan panjenenganipun bebeib. Sering kali terbersit keinginan untuk
berganti hati karena faktor BB – berat body - tapi selalu terganjal dengan
faktor F - fulus. Lalu, di tengah kegalauan itu, di mana kami juga beda-beda
‘agama’, saya teringat tujuan awal saya ketika meminang panjenenganipun bebeib, yakni berkreasi dengan ME.
Singkat kata, ilmu itu saya serap. Saya langsung jatuh hati. Pada
beberapa kesempatan, saya mencobanya, entah saat di rumah majikan, saat cycling
atau pun hiking. Kamera saya hanya bisa ‘menumpuk’ 3
gambar. Tetapi saya lebih sering ‘numpuk’ 2 gambar saja. Tidak ada pilihan
warna ‘instan’ pada ME sebagaimana kamera tetangga. Sedih? Enggak. Udah syukur
banget sayanya bisa ngutik-ngutik ME.
Untuk mendapatkan gambar tumpuk ini, saya klik: menu - shooting menu pilih multiple exposure - pilih number of shots - saya pilih 2 - OK. Maka, status multiple exposure yang tadinya "OFF" akan berubah menjadi "ON". Lalu, saya mulai berkreasi. Klik pertama pada objek/siluet benda (shape) dilanjut klik kedua sebagai tekstur/background dari objek klik pertama. Mau ngambil teksturnya dulu kemudian shapenya juga boleh. Suka-suka kita. Dan, taraaa... jadi deh.
Sebenarnya paragraf ini tidak ada saat ngedraft. Yang namanya ilmu, kalo nggak diikat - baca: ditulis, bisa lupa sayanya. Faktor U - usia. Untuk hasil akhir dari ME itu sebenarnya masalah selera. Kembalikan lagi ke
pribadi masing-masing ya, sehingga suatu waktu bisa mengatakan:
“Yeah, this is my cake.”
Ah, jadi inget pesan pak Ari sebelum acara penyerahan hadiah lomba
fotografi bertema ‘Kegiatan BMI di hari Minggu’ yang diadakan oleh Indografer
Hong Kong (23/8). Bahwasaya, fotografi adalah seni. Penilain estetika foto
begitu subjektif, tergantung dari si penilai. Jadi, ketika ada foto yang belum
beruntung dalam kompetisi ini, bisa jadi foto tersebut menang di tempat lain.
Yup, setuju, pak. Nah, teman-teman, nggak ada salahnya gabung
Indografer Hong Kong. Banyak ilmu gratis di
sana. Jangankan di kelas, ngobrol aja nambah wawasan. Misalnya Minggu kemarin
(23/8) ketika saya ngobrol tentang editing dalam fotografi di stand pameran
foto KJRI-HK bersama pak Andi Andreas.
Pak Andi bilang, fotografi itu setengahnya adalah foto murni dan
setengahnya lagi adalah editing. Memang, setiap ‘aliran’ fotografi memiliki
‘keleluasaan’ tersendiri dalam editing. Foto jurnalistik nggak bisa diedit
‘sehancur’ foto model, gitu. CMIIW.
Oh ya, berikut adalah beberapa foto ME yang kadang bikin teman saya
bilang:
“Gek poto opooo, kui. Aku
gak mudheng”.
Hahaha, nggak papa. Orang absurd kayak saya memang suka yang
abstrak-abstrak. Enjoy.
All photos and text by me.
Support GO-JEK syariah for Muslimah. Eh
We are going to Switzerland and South Korea (rock you, snowy land).
DraKor Addict: BOY OVER FLOWERS (dedicated to little handsome 'sipit' boy)
I’ve never imagined that I would be able to gain a “behind-the scenes” look at print media in Hong Kong. I’ve always seen the South China Morning Post in my employer’s house. My employer’s daughter, who is in third grade now, brings them home weekly for her school projects. I read it too, but I don’t understand it sometimes. Ah, as you know, my English is horrible. I compare my articles (in English) with those of younger writers. Oh, their work is so much better than mine. How come? They make me feel so jealous.
Today is one of the most amazing days in my life. I met Wendy and Putri from the BMI (Buruh Migran Indonesia, an association for migrant workers) library, Robin and Christina from SCMP, Sunnie from Lensational and Asti, my ‘partner in crime’. They are very nice, friendly and professional.
Lensational gives opportunities to migrant workers in Hong Kong who want to be different, more confident, skilfull and empowered in photography. This non-profit organisation not only teaches us how to improve at photography, but also provides training for: volunteering at Hong Kong events, going on photo hunts with professional photographer, editing or post-processing of photos.
One thing I remember most from the first time I joined Lensational is that photography is the process of how to fall in love with photographs.
I tell to my friends about my experience. One of them said that she hasn’t got a camera. How can she take photographs? Another said, I can’t speak English, I can’t speak Chinese.
I am not good enough in photography now. But Iwill study harder and harder so i could be better soon. Do you want to study together with me?
I am not good enough in photography now. But Iwill study harder and harder so i could be better soon. Do you want to study together with me?
Then, the five of us walked to SCMP office in Wanchai. We went to the third floor. And … OMG, this is the newsroom with all the editors. So silent here, only a few person who were sitting on chairs and working. If somebody asked me how to describe the room, I would answer: spooky. It is a fact: people under the pressure of deadlines, blended with the cool aircon feels spooky.
One other journalist looked at Asti and I strangely, like he just saw aliens landed on earth (yaaaa, these aliens will destroy you, guys). But when he turned his eyes to Christina, he didn’t care of us anymore. Christina told us that most of the journalists were out to hunt for news. They will come back later in the afternoon. She brought us to the room, and Robin prepared everything for the interview of me Asti and I.
Recording on progress
I am not so confident with my English, but Robin helped me to speak better. Also, Sunnie and Asti helped me too.
After that, we went back to the ground floor for another interview, and took pictures before leaving. Robin showed us many kinds of ‘war equipment’ used by journalists: cameras and video recorder. OMG, I can’t imagine how I would feel if I had my own.
Look the way they stare each other ... Eaaaakkk
'Monyong' is my state
But then I saw my bag….
Yes, of course I had one.
I had my own camera.
There is no need for me to imagine getting one more for now. There is nothing that I want to do now, except to share this story with you.
Entah harus mengucapkan syukur atau syukurin tatkala bu bos mbak Siti kena getah atas ulahnya sendiri. Sebagai bos besar yang memiliki beberapa lapak di sebuah pasar basah / pasar tradisional, ndoro juragan ini agak hiperbola alias berlebihan dalam urusan makanan. Puo-puo kalo dalam istilah Jawa.
Bagaimana tidak, untuk sekali jam makan saja yang hanya untuk empat makhluk pemakan segala, Siti ini musti nyuci sang choi dan bak choi masing-masing dua kati. Padahal, menu ini belum termasuk daging, ikan dan kuah hingga pencuci mulut, baik berupa irisan buah, jus, atau es krim. Kalo dipikir-pikir, itu perut atau karung goni, ya, bisa muat segitu banyak.
Suatu waktu, sahabat kita yang gajinya dinaikkan sembilan puluh dolar atas kesepakatan tau sama tau alias dari mulut ke telinga (kalo dari mulut ke mulut kok kesannya jorok ya!), ia mendapat tugas bikin jus jeruk. Bagi kita sih bikin jus jeruk mah enteng, tinggal dipotong jadi dua, diperas, tuang dalam gelas, beres! Lain halnya dengan sahabat kita ini, bu bos memberinya mandat yang tidak tanggung-tanggung. Ngejus sebanyak 35 buah hanya untuk empat orang.
Bayangkan, banyangkan!
Untuk ukuran sedang, satu cangkir 150 ml itu kira-kira membutuhkan 3 buah jeruk. Bila 4 cangkir, maka memerlukan 12 jeruk. Jika 3 buah jeruk seharga 12 dolar, maka 12 jeruk seharga 48 dolar. Tapi, buat apa bikin jus dari 35 buah itu? Ah, biarin nggak nyambung, emang sengaja buat nambahin paragraf aja kok. Plis, hargailah usaha penulis yang harus melakukan eksperimen dan observasi dulu sebelum menuliskan bagian ini.
Maka, bisa diprediksi secara terang benderang macam batu akik usai digosok dan ditahtakan pada cincin emas 24 karat, sisa air perasan jeruk itu harus diinapkan dalam botol – bekas – air mineral sebelum dimasukkan dalam lemari sejuk aka kulkas.
Bagi pecinta makanan atau minuman asem manis sebagai peluntur lemak-lemak di perut, jus ini adalah menu wajib sehari-hari. Lain halnya bagi Siti yang udah dari sononya dianugerahi tubuh seksi meski makan banyak sekali. Entahlah kemana perginya lemak-lemak itu. Kondisi ini akan membuat kita mikir, dia lagi kena busung lapar atau penyakit gizi buruk? Jus jeruk yang udah asem ini makin asem apabila melihat wajah Siti yang juga asem. Belum lagi peluh kerja keras dan rajin yang menjadi ciri khas yannei cece menambah keasemannya pada tingkat maksimal.
Anyway busway subway, penyerapan lemak pada system metabolism tubuh Siti yang zero persen ini sebenarnya idaman banyak wanita terutama para mahmud anas (mamah muda anak satu) yang mengalami kenaikan berat badan secara signifikan serupa nilai kurs dolar HK terhadap rupiah akhir Juli ini. Banyak dari mereka yang mengeluh, minum air bening saja bisa jadi lemak, apalagi minum jus buah atau air putih (baca: susu / milk)?
Minggu pun berganti, stok jus jeruk dalam botol-botol – bekas – air mineral itu pun menyusut secara pelan namun pasti. Hingga tibalah pada stok terakhir yang menjadi inti dari kisah ini.
Bu bos yang baru pulang dari sidak lapak-lapaknya di pasar bawah rumah, tanpa babibu langsung nyucup botol jus jeruknya tanpa mengetes dulu kelaikan untuk dikonsumsi. Siti yang sibuk beberes sayuran menu makan malam tidak memperhatikan lebih detail lagi bu bosnya itu. Dipikirnya, bu bos akan membantu beberes isi kulkas yang mirip gudang penyimpanan stok orang mantu ketimbang kulkas rumah tangga pada kondisi tiap hari belanja. Yaaa, siapa tahu saja bu bos sedang kerasukan jin ifrit yang baik hati dan tidak puo-puo sehingga sukarela meringankan pekerjaan kungyannya. Tapi ini adalah hal mustahil, buru-buru Siti menambahkan.
Betapa kagetnya Siti manakal bu bosnya gibas-gibas macam kambing kena flu seusai nyucup botol jus jeruk tadi. Rupanya, jus itu pin co laa alias berubah jadi merek kadal (iya, kadaluarsa). Ah yang namanya kungyan, yang meskipun benar, tetapi akan tetap salah. Tragedi jus jeruk yang sudah kadaluarsa itu adalah salah kungyang yang tidak membuangnya. Padahal, gaes¸Siti sudah mengingatkan agar segera menghabiskan jus itu sesaat setelah selesai dibuat untuk mempertahankan kesegarannya.
Kalo sudah begini, solusi terbaiknya memang harus bikin jus sesuai kebutuhan atau sesuai besar kecilnya ukuran lambung masing-masing spesies. Jangan sampai malah jadi bumerang yang menyerang balik kita sendiri. Senjata makan tuan, deh.
Hingga lebaran tahun 2015 ini, setidaknya aku telah merasakan 13 kali lebaran jauh dari keluarga. 12 diantaranya di Hong Kong, sisanya di sebuat PJTKI di Bekasi.
Dulu, tahun 2002, selepas menamatkan SMA, aku langsung pergi ke Hong Kong dengan harapan bisa mendapatkan uang agar bisa kuliah. Lebaran di PJTKI terpaksa aku pilih karena tidak punya uang jaminan. Peraturannya, calon TKI tidak diperkenankan meninggalkan penampungan tanpa seijin pihak PT. Semisal mau pulang kampung, harus ada uang jaminan sekaligus jaminan tidak hamil apabila kembali ke PT.
Bila mereka yang pulang bisa menikmati kebersamaan dengan keluarga, aku hanya bisa menikmatinya dengan 9 orang CTKI yang sengaja disisakan untuk.tugas piket bersih-bersih. Dan saat itu, aku manut saja ketika dilarang keluar ketika ingin sholat ied. Maklum, aku masih cupu.
Di PJTKI, tidak ada makanan khas lebaran. Menunya tetap sama seperti hari-hari biasa. Sayur kangkung, oyong, dan sayur asem Jakarta yang dirolling tiap hari, begitu terus selama 5 bulan di sana. Perbaikan gizi adalah saat ada syukuran teman yang mau terbang dengan menu "sambel tomat lele goreng lalap mentimun".
Begitu di Hong Kong, tahun-tahun pertama terasa sangat kehilangan momen lebaran. Malam takbir hanya diisi dengan kegiatan nyupir (nyuci piring) dan lamat-lamat gema takbir yang aku lantunkan pelan, lirih, seolah hanya aku saja yang boleh mendengarnya. Begitu terus hingga bertahun-tahun kemudian.
Namun, di sebaliknya, aku bersyukur karena kelurga majikan membolehkanku puasa atau pun sholat. Yang mereka pahami, puasa itu tidak makan dan minum di siang hari. Mereka tidak mengenal sahur sehingga aku selalu menyisipkan "zhu tsai bao" alias salted bun di balik selimut. Jika tengah malam aku bangun, roti itulah menu sahurku ditambah sebotol air minum. Aku sahur di bawah selimut. Jangan sampai aku membuat suara / berisik. Bisa-bisa membangunkan orang serumah. Maka, ketika di tanah air umat Muslim teriak-teriak agar menghormati orang puasa, aku malah kasihan sama mereka. Di Hong Kong sini malah orang puasa yang harus menghormati yang tidak puasa.
Makin ke sini, aku makin kebal dengan kesendirianku melewati lebaran di tanah rantau. Ketidaknyamanan ini saling berbenturan sehingga menimbulkan kebiasaan, terbiasa sakit, terbiasa sendiri, terbiasa sepi dan jauh dari keluarga. Namun, aku tidak sendiri. Masih banyak teman-teman BMI lain yang senasib. Bahkan, tak jarang kondisi mereka lebih buruk dari aku. Di antara mereka ada yang harus lebaran di shelter ataupun di penjara. Mereka terjerat ketidakberuntungan.
Tetapi, tahun ini aku dituntun oleh Tuhan. Dia menulis sepenggal perjalananku di Hong Kong ini semakin berwarna. Pertengahan Ramadhan, majikan sekeluarga pergi traveling ke Eropa. Aku ditinggal sendirian di rumah sendirian meski harus menjalankan tugas-tugas tertentu agar pembantunya ini tidak nganggur. Hal ini membuatku memiliki sedikit banyak waktu untuk melebarkan kreativitas.
Ya, aku menyiapkan materi/ bahan untuk 'SOUL EXHIBITION' yang diadakan pertengahan Agustus 2015 ini. Bahkan, awal Juli lalu, aku disodorkan sebagai salah satu kandidat kontributor sebuah video CJ (Citizen Journalism). Ada tiga kandidat yang akhirnya akulah yang terpilih setelah sang produser melihat contoh video yang aku unggah di youtube. Aku yang kadung jatuh cinta dengan fiksi, fotografi danvideografi seperti menemukan 'rumah'.
Aku bertemu dengan orang-orang hebat, muda, panuh semangat dan selalu menularkan enegri positif. Entah dari sebuat TV di Indonesia, tim wartawan koran berbahasa Inggris di Hongkong dan majalah dari Spanyol hingga para fotografer andal yang asli Hong Kong serta teman-teman dekatku sesama mahasiswa atau sesama fotografer. Lebaran penuh kejutan di mana aku harus menunggunya selama lebih dari 12 tahun dan jauh dari keluarga.
Tuhan sayang sama aku tapi Dia menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkannya padaku. Mimpikudijawab hampir bersamaan. Menulis, memotret, membuat video CJ, kuliah, pameran foto ... ada dalam pelukanku.
Aku tidak malu mempercayai mimpi-mimpiku. Akuterlalu gila untuk membuatnya menjadi nyata. Biarlah aku menggantungkan cita-citaku setinggi langit. Jikalau aku jatuh, pasti jatuhnya di salah satu bintang bersinar terang di atas sana.
Oke,
yang namanya pemberi harapan palsu (PHP), pasti bikin hati gondok nggak
ketulungan. Eit, PHP bukan hanya untuk hubungan cinta, spesial cewek-cowok,
tetapi bisa ditempatkan pada masalah kompleks dan universal. Termasuk ulah
ndoro juragan saya yang ternyata salah satu penganut PHP garis keras.
Bulan
Juni ini sudah masuk bulannya liburan anak sekolah. Tapi, kakak yang sudah
esempe itu mencuri start libur lebih dulu ketimbang adek yang masih esde.
Alasan tidak masuk sekolah sama seperti alasan saya ketika masih berseragam
abu-abu putih dulu: tidak ada pelajaran. Ya iyalah nggak ada pelajaran, hawong masih nunggu tahun ajaran baru di
bulan September nanti kok. Guru-guru juga masih nyusun nilai rapot.
Untuk
mengisi hari-hari sepi itu, ndoro juragan sekeluarga mudik ke kampung halaman
mendiang kakek di Tailok sana. Emangnya cuman kita aja yang kenal mudik? Mereka
juga punya tradisi ini loh. Lebih-lebih menjelang konin atau tahun baru imlek.
Entah
mendadak atau bijimana, saya baru tahu acara mudik ini sehari sebelum
keberangkatan setelah diberi mandat untuk beberes isi koper kakak dan adik.
Beragam acara menari-nari dalam pikiran saya untuk menaksir kira-kira tugas apa
yang bakal dibebankan kepada saya agar tidak leha-leha selama 2 malam 1 hari
saat mereka meninggalkan Hongkong. Ah, kawan, saya ini kan kungyan teladan.
Mana berani saya macem-macem di rumah ndoro juragan. Camkan itu.
Pada
waktu yang telah ditentukan, tepatnya seusai makan malam, ndoro juragan
sekeluarga pergi. Tentu dengan titah maha dahsyat mengiringi kepergian mereka.
Padahal, bekas mereka makan saja belum saya bereskan. Ah, jangankan bekas
mereka makan, hawong saya sendiri
belum makan kok. Saya segera mengantar kepergian mereka hingga depan pintu.
Lalu menutup rapat, menguncinya dari dalam, sehingga tak ada kecoak seekor pun
yang saya ijinkan masuk.
Begitu
gembrengeng suara mereka di depan
pintu hilang bersamaan dengan bunyi ‘tiiing’
sebagai penanda lift telah datang, saya segera balik badan. Maklum, pintu rumah
hanya berjarak dua langkah dari pintu lift sehingga kuping ndeblengi saya bisa mengakap sinyal berfrekuensi rendah sekalipun
apalagi disekat beton cor-coran.
Setelah
itu, saya bergegas ke dapur untuk memanjakan lidah dengan menggoreng bistik
sapi. Khidmat sekali prosesi memasak malam itu. Seolah-olah saya ini chef
andalan yang sangat cucok disandingkan dengan Farah Quinn. Saya tak peduli
dengan korah-korahan yang menggunung.
Prioritas saya malam itu telah mengalami pergeseran.
Meski
suasana makan bistik sapi itu tidak seromantis candle light dinner seperti di teve-teve, tapi saya memperlakukan
menu makan malam saya selayaknya ningrat Eropa. Table manner puts ahead (apasih
ini?). Oleh karenanya, saya tidak lagi makan secara nyeker tetapi menggunakan garpu dan silet …
eh maksud saya, garpu dan pisau cukur (gimana sih salah ketik terus.
Ahsudahlah). Untuk menyerasikannya, minuman pendampingnya bukan air putih, es
teh manis, kopi sachetan 3in1 atau lo fo
tong tetapi air tajin yang saya sajikan di dalam gelas wine. Sudah, jangan ferotez!
Saya
memilih menikmati dinner yang skaral
itu sambil nonton channel wild life
ala natgeo. Aihhh, damai nian. Gaes,
nikmat mbabu manalagi yang didustakan?
Namun,
manusia memang hanya mampu berencana. 100% Tuhan yang menentukan. Di tengah
asyiknya gigi taring saya menyobek-nyobek bistik yang ulet seperti mengunyah ban truk gandeng itu, tiba-tiba bel rumah
ber-tingtong ria. Pikiran saya berkecamuk, hati saya tidak nyaman. Jangan-jangan
pak sekuriti mau ada urusan? Ah tidak mungkin, ini kan sudah kelewat jam 9
malam. Setan? Plis deh, ini bulan Ramadhan, setan-setan dibelenggu, iblis- iblis
dirantai, warteg-warteg ditirai, hotel-hotel kelas melati digerebeg efpeiy.
Hellowww?
Saya
bergegas menuju pintu lalu mengintip dari cermin yang ditempel menyatu pada daun
pintu. Namun, usaha ini gagal karena saya kurang tinggi. Kan sudah jadi rahasia
umum bahwa pertumbuhan saya ini dihambat gara-gara kekurangan pulsa.
Akhirnya
saya buka pintu. Dan… astaganaga! Yang tingtong tadi ternyata
ndoro juragan sekeluarga. Matilah saya dengan segala hal yang masih berantakan
di rumah ini. Apalagi bistik saya masih tersaji indah di atas meja plus gelas
wine berisi tajin tadi.
Sebelum
borok saya mendapat omelan, buru-buru saya membuat pengakuan dosa dan meminta
maaf karena masih makan malam. Dengan wajah ditekuk-tekuk, ndoro juragan hanya
ber-ohh dan masuk rumah sambil menarik koper dengan kasar. Wajah-wajah mereka
kusut masai. Saya bergegas membereskan makan malam saya yang baru saja dimulai
agar terhindar dari gencatan senjata. Bukankah mulut manusia itu lebih tajam
dari pedang? Sama pedang saja saya koid, apalagi sama kalimat-kalimat yang
menusuk ulu hati?
Lalu
kakak masuk dapur untuk mengambil air minum, yang entah karena ia haus atau
sekedar menghindar ceracau ndoro juragan yang sayup-sayup terdengar dari dapur.
“Co
me si, aa?” tanya saya.
“Wui heung ching milikku kan
belum jadi. Pasporku juga hampir kedaluarsa. Makanya aku nggak bisa masuk
Shenzhen. Kata mami sih bisa aja aku pakai visa turis. Tapi jalur yang pakai
visa dan wui heung ching kan lain.
Mereka tak mungkin membiarkankanku ko
kwan sendirian. Sebenernya aku mau balik ke Hongkong sendirian dan mereka
semua pergi Tailok. Tapi mereka nggak tega. Aku kan cewe,”
jelas kakak panjang lebar.
Aku
hanya tersenyum simpati. Ternyata, buka aku saja yang kena PHP, bisiskku pada
bistik yang tinggal separuh. ***
Artikel terkait.
Bagi kita-kita yang tidak berada di Indonesia, hari ini adalah awal dari liburan akhir pekan yang panjang. Tapi tidak dengan saya, Anik dan Asti. Tiga Buruh Migran Indonesia di Hong Kong ini malah sedang memulai babak baru. Ya, tanggal 15-17 Agustus 2015 ini, kami menyelenggarakan pameran foto yang diprakarsai oleh Lensational dan Simon Wan (founder of The Photocrafers). Pameran ini diadakan di Hong Kong Cultural Center, Tsim Sha Tsui (berada di sekitar Star Ferry dan Avenue of star) dan dibuka mulai pukul 10:00 sampai 19:00 WHK. Maka, bagi teman-teman yang sedang liburan ke Hong Kong, jangan lupa mampir, ya. Tiket masuknya gratis tapi tiket pesawat booking sendiri-sendiri.
Kami sengaja mengepaskan tanggal 17 Agustus adalah untuk memberi hadiah kepada Indonesia yang berulang tahun ke-70. Ketika banyak kalimat yang menanyakan, apa yang telah kamu lakukan untuk negerimu? Kami lebih memilih untuk tidak menjawab tapi menunjukkan.
Sedangkan Lensational sendiri merupakan organisasi non profit yang berkonsentrasi memberdayakan perempuan melalui fotografi.
Pada saat persiapan dan pengumpulan foto, Simon Wan mengasah kembali kemampuan menulis kami yang selama ini hanya tersalurkan via (status) facebook. Ia meminta kami mulai menuliskan keseharian kami pada diary. Menurutnya, menulis dan memotret adalah dua hal yang berhubungan. Ketika kami menanyakan lebih jauh, ia menjawab bahwa dahulu, saat ia masih berstatus sebagai pelajar, dipikirnya bahwa dengan cukup mengeklik kamera maka semua selesai. Tapi ternyata tidak.
Ia kemudian menunjuk sebuah poster anak lelaki berpakaian khas Nepal dengan latar belakang reruntuhan bangunan, yang tersandar di salah satu dinding studionya.
“Kalian lihat ini. Maka akan muncul komentar, oh iya, fotonya bagus, pencahayaannya tepat. Trus apa? Ini kan poster penggalangan dana untuk Nepal. Dengan mengetahui kisah di balik foto ini, maka foto ini kan semakin kuat. Anak ini adalah satu-satunya yang masih hidup saat gempa di Nepal beberapa bulan lalu. Seluruh keluarganya meninggal. Dengan kita mengetahui kisah di sebaliknya, hati kita terketuk, menilai sesuatu tidak hanya yang nampak di mata kita.”
Dalam suatu postingan di grup fotografi online, saya pernah membaca bahwa fotografer professional atau penulis andal sudah banyak di luar sana. Tetapi fotografer sekaligus penulis atau penulis yang fotografer masih belum sebanyak dua kategori sebelumnya. Demikian juga dengan jalan-jalan online. Mereka juga menginsiprasi saya untuk menuliskan destinasi-destinasi cantik dan ganteng di Hong Kong, lalu mengabarkannya kepada dunia, “kesinilah … tanah asing ini menunggu jejak kaki kalian”, kira-kira begitu. Jadi, kloplah ketika saya gothak gathik gathuk runtutan potongan perjalanan memotret saya selama ini. Saya bisa cuek ketika ada orang yang mengatakan saya confuse memilih antara menulis atau memotret. Kalo memang menyukai dua-duanya, nggak apa-apa kan? Atau … saya yang kemaruk? Ya, ada kalanya saya condong ke motret. Tetapi, akan tiba masanya saya akan lebih fokus ke nulis.
Mengenai persahabatan kami, memang, saya, Anik dan Asti saling mengenal satu sama lain lantaran fotografi. Tetapi persahabatan kami lebih dari itu. Kami biasa hiking bersama dalam komunitas Indohikers (Indonesian Hikers), pun dalam satu wadah Indograferhk (Indonesian Photographer in HK). Maka, ketika Asti pulang seterusnya ke Malang sana pada tanggal 3 Agustus lalu, saya dan Anik merasa sangat kehilangan. Seperti ada yang kosong di sini. Persahabatan kami lumayan aman dari riak-riak karena kami tau diri untuk tidak menginjak daerah privasi masing-masing terutama dengan pasangan. Terlebih, kami tidak pernah berurusan dengan utang piutang. Prinsipnya, ada makanan kita makan bersama, tidak ada pun kita menggila bersama. Sesimpel itu saja.
Dan bulan depan, Anik pun akan menyusul Asti kembali ke kotanya di Malang juga. Ah tidak apa, semoga sebelum akhir tahun bisa mudik dan menggila bersama (colek kakak Fera juga ah).
Kembali ke masalah pameran, kami sadar, kami memang belum menjadi fotografer profesional. Karya kami bukanlah karya yang menggemparkan dunia. Tapi kami berkarya dengan sepenuh hati, bahkan kami membuatnya di tengah-tengah ketatnya kondisi kerja ataupun saat kami libur seminggu sekali. Cukup dinikmati saja foto-foto dalam pamerannya, ya.
Mengutip prolog Simon Wan, ada tiga tipe manusia dalam fotografi;
Orang yang terlalu berambisi dalam misi penyelamatan dunia
Orang yang terlalu sibuk membuat foto sempurna atau berselfie ria
Orang yang menganggap dirinya seniman dan fotografi adalah seni
Kira-kira, kita ada pada kriteria yang mana?
Well, saya ucapkan terimakasih kepada seluruh kru Lensational (Bonnie, Peggy, Sunnie, Amy, Yuen Sin, Chloe, Michael, Tony, etc), The Photocrafters (Simon Wan), Indograferhk (pak Ari, Pak Iman, Pak Andi, Bu Tasha, dll), Indohikers (babe Bardiat, pak Yolvis, dan kambing-kambing lainnya_maya, bee, onie, juminten, riani, ega, jean, dll) dan grup-grup online yang menyediakan ilmu bagi silent reader seperti saya. Saya juga ucapkan terimakasih kepada NetTV (Mas Adrian dan mbak Luky) yang telah menggandeng saya sehingga bisa belajar tentang video citizen journalism.
Di tahun kambing ini (yeong nin), semoga kambing-kambing indohikers “yiu yeong yau ko yeoung, yiu mey yau mey, hei hei yeoung yeoung”.
Foto dan video milik Lensational. *Salam Mbolang *Salam jepret
Ya ya ya, udin kesekian kali ketemu daku di dunia nyata (atau yang masih ketemu di dunia maya), daku masih dikutuk menjadi manusia imut. Jangan tanya usia, itu pertanyaan sensitip (pakai 'p'). Secara gitu loh, usiaku kan masih 17 tahun jalan_sisanya lariii.
Apalagi ya?
Blog ini isinya masih macem-macem sih. Ya foto, ya curcol, ya kegilaan, semua-mua.
#gilatapibangga