[Nekad Blusukan] Sam Tung Uk: Hong Kong Tempo Doeloe

"Sam Tung Uk Museum, komplek perumahan tempo doeloe ala Hong Kong ini merupakan salah satu situs sejarah peninggalan masa lampau yang menggambarkan kehidupan masyarakat Hong Kong, khususnya masyarakat klan Hakka (marga Chan) yang berasal dari propinsi Guang Dong, China. ," lanjutnya.

[Nekad Blusukan] Lei Yue Mun, Eksotisme Wisata Kampung Nelayan

Orang bilang: foto-foto cantik itu biasa, foto-foto ekstrem itu barulah luar biasa.

[Nekad Blusukan] Sheung Wan: Pusat Graffiti di Hong Kong

Tai Ping Shan merupakan daerah Sheung Wan bagian atas. Area ini terkenal sebagai tujuan pecinta seni dengan aneka galeri serta barang-barang antiknya. Sehingga tak salah jika Sheung Wan menjadi salah satu pusat grafiti di Hong Kong.

[Nekad Blusukan] Plesir ke Pacitan

Pantai Teleng Ria berada di teluk Pacitan. Ini adalah salah satu pantai yang menjadi jargon tanah kelahiran presiden SBY. Tanah berumput hijau terhampar luas sebelum mencapai bibir pantai. Bunga bakung ungu menyembul di antara rerumputan itu. Ada juga segerombol pohon cemara jarum dan tunas kelapa yang mesih rendah. Wow, indah bukan buatan.

[Nekad Blusukan] Hong Kong Rasa Kanada

Sweet gum bukanlah mapel. Bentuk daunnya ada yang menjari 3, 4 dan 5. Ukurannya pun berbeda sesuai dengan musim di mana pada musim semi, daunnya lebih lebar.

2016-04-13

[My Diary] Port Folio A5: Antara Ana, Ani And Ane

Doc. Fiksiana Community

[My Diary] Port Folio A5: Antara Ana, Ani And Ane
_________________________________________

Dear Diary.

Minggu ini di Fiksiana Community ada iven nulis di diary. Mana Ane jarang nulis. Gitu kok berani-beraninya ndaptar! Apa cobak yang bakal ane curcolin?

Pengen sih ane jualan isu seksi yang gak jauh-jauh dari dunia anak TK. Iyes, dunia TK-W, dunia TK-I! Apalagi kalok bukan mbahas masalah human traffickinglah, ulah TKW yang kena scamlah, kelakuan bejat sama bule atau si hidung mancunglah, meninggal karena sakitlah, atau … mereka yang kena siksa majikan. Duh, Ane udah ngeri duluan, Di.

Ente tau gak, Di, TKW gak selama menderita. Banyak kok TKW yang hidupnya lempeng-lempeng aja. Alhamdulillah hidup ane gak gitu bergelombang. Bila iya, pora wes basyah lembaranmu, Di.

Sebenernya, banyak loh dari TKW ini yang berprestasi, misal: jadi penulis, penyanyi, mahasiswi, relawan, dll. Tapi ya … itu tadi. Isu positif gini kurang seksi. Gak layak jual. Gak ndongkrak klik media onlen. Bahkan, horang-horang itu kayake emang tebang pilih. Kasus narkoba yang menimpa Mary Jane, iku loh arek Pe-eL, ate Philipinas, bikin geger dunia nyata dan dunia maya. Semua-mua mbahas ate Mary, semua-mua merasa Mary Jane adalah kita. Lah ngopo kasus serupa yang terjadi pada Mbak Rita Krisdianti, mantan TKW Hong Kong dan Macau yang kedapatan bawa narkoba di Penang, Malaysia, beritanya koyok kelakuan mas mantan yang gagal jadi manten: anyep njejep! Ane kagak bisa diginiin. Ane lelah. Pukpuk me, Di.

1 Januari 2016 katanya kita mulai masuk Masyarakat Ekonomi Asia. Lalu lintas jual beli barang dan jasa wes campur bawur, termasuk komoditi bernama pekerja migran. Halah, kejeron, kejeron. Trus, hal itu juga dikocok sama penyetopan pengiriman tenaga kerja ke luar negeri tahun 2017. Eh amit, salah ding. Bukan distop tapi ditata ulang penempatannya dengan fokus pada tenaga kerja formal. Mbabu 'kan sudah diganti dengan istilah tenaga kerja nonformal, penata laksana rumah tangga. Trus nanti, jobdesknya dipertegas. Khusus kerja sebagai koki, hospitality, nanny atau merawat lansia.

Kalok di Hong Kong, seperti yang ente tau, Di, pokok kerjaan domestik ya semua kerjaan di rumah ndoro juragan. Ya masak, ya bebersih, ya ngurus anak, ya ngurus lansia. Bahkan ketambahan ngurus kirik. Ya … walaupun ada majikan yang tepa slira. Misal: majikan yang belanja, majikan yang khusus ngurus bayinya kalau mereka di rumah dan tak jarang pula mereka bantu-bantu kerjaan babunya. Langka juga, sih.

Dan jika pembagian kerja tharik-tharik tadi diterapkan di Hong Kong, berapa babu yang diperlukan tiap keluarga? Okelah jika kondisi tempat tinggal dan keuangan majikan gak ada masalah. Tapi bakal ribet kalo terjadi pada majikan yang ekonominya pas-pasan. Orang Hong Kong ndak semuanya tajir, gak semua tinggal di apartemen besar. Banyak pula yang tinggal di rumah-rumah pemerintah yang sempit pit. Property di Hong Kong itu mahalnya angudubilah, begitu keluhan (mantan) bu dosen yang sedang ambil doktoral di salah satu universitas di Hong Kong. Beliau bilang, nyewa satu kamar di pelosok Tai Po, Hong Kong bagian utara, jauh dari mana-mana, seharga 2000/ orang/ bulan.  Kurs Minggu kemarin 1690/HKD. Berapa cobak kalok dirupiahkan? Buanyak buanget, toh. Padahal, beliau sekamar untuk dua orang, bersama orang Myanmar. Sekali lagi, satu kamar ya, bukan satu apartemen.

Bayangkan aja bila tiga TKW kruntelan jadi satu di apartemen sempit bareng majikan. Mau jadi pindang?

Ah, paling-paling pas hari buruh 1 Mei gitu menuntut TKW stay-out. Nanti rame lagi karena TKW tidak live-in alias tidak tinggal di alamat yang tertera di kontrak kerja. Padahal stay-out melanggar aturan/ hukum perburuhan. Bila sampai deal, pemerintah Hong Kong harus menyediakan pemukiman khusus bagi TKW ini. Ribet maning, Di.

Siapa yang dirugikan? Ya, devisa negaralah. Bisa turun drastis remmitancenya.

Pengen banget ane nulis surat terbuka untuk ibu negara, Bu Ana Jokowi. Tapi ane gak punya nyali ngecurcol begini. Mas Kaesang Pangarep aja ditelpon beliau setidaknya sama seperti jadwal sholat, lima kali sehari. Berarti beliau ini perhatian banget sama jomblo, eh, sama anaknya yang jauh di mato dekat di hati. Siapa tau beliau punya perhatian yang sama kepada para TKW ini. Ya … seenggaknya, beliau paham bahwa TKW ini tak semudah beliau bila mau menelefon anaknya di kampung. Alasan utama tentu masalah finansial, emoh duitnya habis buat telpon terus. Alasan lainnya bisa karena HP disandera majikan dan hanya diberikan kalok jam kerja sudah selesai di malam hari. Bisa jadi tidak bebas menelefon karena seteru sama signal.

Tapi setidaknya tahun 2019 nanti bakal ada sosok yang mewakili kaum wanita buat nyapres. Iyes, Bu Ani Yudhoyono. Angin segar nih, Di, harus didukung. Alasan gender? Ya iyalah, kapan lagi Indonesia punya presiden wanita setelah Bu Megawati.

Sttt, kami  satu almamater, loh. Hati ane tergerak untuk menyerahkan suara bulat-bulat buat beliau. Ane dukung 1000%. Mau kumpulin KTP, HK-ID atau paspor? Sok atuh. Apalagi beliau ini terbukti mendampingi presiden keenem, SBY, selama 10 tahun dengan selamat dan sejahtera. Tidak ada suara-suara sumbang. Atau … ane aja yang kagak denger karena selama pak Beye memimpin, ane cuman merasakan kepemimpinan beliau selama 14 hari pas mudik dua tahun lalu?

FYI, Di, bu Ani ini jago motret. Ehem, bisa jadi ini adalah hawa segar bagi seniman cahaya. Sebagai fotografer dengan lensa segede tremos yang berwarna hitam putih kayak zebra, beliau pasti lihai melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda. Beliau mampu menyajikan keindahan dari fakta mengenaskan pun. Hebat loh ini, Di. Ane belon bisa kek beliau.

Secara di Hong Kong banyak TWK. Emak-emak ini gampang banget dikomporin. Cepet banget meleduknya. Maklum, Di, hormon perempuan itu labil. Alasannya adalah 5M, Money-Man-Marry-Menstruasi-Menopouse.

Kayak pilpres kemarin tuh. Rame (atau emang dibikin rame) 'kan ? Lagian, TKW Hong Kong itu setidaknya melek teknologi. Hawong onlen pesbuk aja bisa 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Daebak!!!

Aduh, Di. Ane nulis apaan ini.

***

Untuk membaca karya lain, silakan gabung di grup FB : Fiksiana Community.

2016-04-12

[Fiksisme] Mantan Calon Pacar _ Horor

(Rangga...) Yang Anda lakukan ke saya itu ... JAHAT!

#PutusCintaTerapalah

..:: Mantan Calon Pacar ::..
_______________________



Dalam sebuah artikel media online, saya pernah membaca bahwa punya pasangan (baca: pacar) seorang fotografer itu asyik. Yang katanya bisa selalu mengabadikan momen kebersamaanlah, orangnya nyenilah, kreatif to the max-lah, dan yang pasti … lihai bergerak di tempat gelap (you know what i mean, kan? Hahaha). Meski bibir tersenyum, saya mikir keras uuntuk alasan terakhir itu. Apa iya?

"Kuamprettt!" 

Secara saya sedikit suka foto-foto_meski sebatas penikmat karya saja, sih. Pada Desember 2014, saya sempat menuliskan sebuah resolusi untuk memotret pre-wedding secara profesional (baca: dibayar). Dan 11 bulan kemudian, resolusi itu menjadi nyata walaupun tanpa terduga. Kecelakaan, istilahnya. Waktu itu saya ngasisten tukang rias dan kemudian didapuk menjadi tukang fotonya karena fotografer asli tidak bisa bekerja secara fulltime. Maka, sisa waktunya dialihkan ke saya. Kelabakan? Iyesss, lah. Hawong senjata saya seadanya.  Tapi setidaknya, ini menjadikan saya belajar satu langkah ke depan (di dunia fotografi) dan membuat saya benar-benar mikir keras agar bisa kreativ dengan modal yang saya punya.

Jujur, pengetahuan saya masih cetek. Kemampuan saya juga belum seberapa. Tetapi, yang namanya telanjur suka, ya … suka aja sama fotografi. Nggak pake alasan ini itu. Sama seperti ketika saya mulai suka pada Anda. Semua mengalir begitu saja. Tidak ada alasan khusus, yang meskipun chit-chat kita diawali dengan pembahasan di dunia fotografi. Bisa dibilang, fotografilah yang menyatukan kita.

Karena nama akun sosmed yang begini, banyak yang mengira saya lelaki. Termasuk Anda. Kalimat-kalimat frontal lepas tanpa tedeng aling-aling. Bully-membully tentang kejombloan masing-masing adalah menu wajib dibumbui celoteh ringan.

"Coba cek, aku selalu mengepasin momen ngechat kita pas malam Minggu, loh." Begitu bunyi pesan Anda di Line. Yang yah … chat kita tidak hanya di Line tapi juga di aplikasi yang lain-lain. Namanya juga masih sebatas temen, maaf ya … bila saya cuek saja dengan semuanya. Mana sempat sih, mikir hari apa mau ngechatnya. Kalo saya butuh konsultasi 'kan tinggal ngomong. Kalo nggak bisa ngomong, ya … nge-text. Begitu pikir saya yang kata Anda, saya tidak peka. What the ….

Perasaan saya pada Anda? Ehem … mula-mula emang temen sih, tapi kok lama-lama jadi demen?

Dan gara-gara pesan Anda, tiap malam Minggu saya mantengin Line, taukkk. #Pfffttt. Aksi penembakan pun terjadi dua bulan kemudian. Maunya sih ditembak pakai kamera analog. Meskipun untuk melihat hasilnya, kita harus meraba-raba dulu di ruang gelap dan butuh waktu yang lebih lama ketimbang kamera digital. Tapi, sensasi berbaur bersama negatif film dengan cairan asam dan lalu mencuci kemudian menjemur lembar-lembar kerja itu ternyata membuat ketagihan. 

Well, jaman sudah maju. Analog sudah digantikan oleh digital. DSLR pelan-pelan digeser oleh mirrorless. Masa iya balik lagi ke jaman kegelapan? Masa iya tidak ingin beralih dari online ke offline? Ya …biar keberadaan Anda dan saya ini tidak sekedar mitos.

Tapi pada kenyataannya, penembakan itu memakai aplikasi online. Dan hubungan kita berada di dunia virtual. Hati saya mengatakan mau tapi entah kenapa, otak saya meminta logika saya bekerja. Fine, jika MK Logika harus ada perbaikan di semester akhir. Tapi Anda musti tahu kalau saya bukan Agnes Monica dengan cinta tak ada logikanya itu! Dan Anda tidak perlu mengulang kata: "monicadengankugak?"_yang tanpa spasi. Hello … plis deh, gabung ke Fiksiana Community biar EYD kita lebih baik lagi.

"Saya pengen lulus sekolah dulu. Samsung aja udah S7, masa saya mandeg di S3?" Alasan saya klise sebenarnya.

Maaf, saya terpaksa menolak Anda. Dan rasanya … nyesek, beud!

Sebenarnya banyak alasan yang cukup saya, Tuhan, malaikat, sopir angkot dan emak-emak pengendara motor matic yang tahu. Namun, alasan utamanya sih, karena Anda bilang kalau kalimat penembakan itu adalah guyonan. Bercanda! Nge-test punch line! Satu hal perlu Anda block dilanjut ctrl+b, ketika Anda menyakiti penulis, nama Anda akan abadi dalam karyanya. Camkan itu.

Tau nggak, Anda itu satu-satunya 'mantan calon pacar'_yang putus duluan sebelum jadian. Lainnya sih, PHP doang. #Eh.

Sekian ribu tahun tak ada kabar, Anda kembali menyapa. Ini adalah teror lebih horor ketimbang kisah-kisah malam Jumat a la #katkun Fiksiana Community. Saya memang kesulitan menulis kisah horor. Hal ini dikarenakan rumah orangtua di kampung, pagar belakang rumahnya mepet dengan kuburan. Bahkan, jaman belum ada listrik masuk desa dan belakang rumah masih berupa ladang singkong, tiap ada lampu petromak di kuburan, bisa dipastikan itu adalah aktivitas menggali kuburan, bukan orang yang 'nyuluh' kodok atau bekicot. Pengen banget saya mengajak Anda bertamasya menggunakan kapsul waktu dan mengubur Anda hidup-hidup di kuburan belakang rumah. E tapi, bila kembali ke era itu, jangan-jangan Anda masih berupa zigot. Hm, kita kan beda generasi. Untung saya menolak Anda. Bisa-bisa saya dikira pedofil, yang demen sama adek-adek.

Kembali ke kisah Anda yang datang lagi di hidup saya, sebenarnya saya pengen nabok bibir Anda pakai bibir sumur. Tapi, saya memilih menempelkan bibir saya dengan bibir cangkir kopi. Saya berusaha tenang dan bersikap elegan dengan tetap memperlakukan Anda seperti sebelum peristiwa penembakan itu.

Anehnya, rasa suka yang dulu pernah saya hianati, tiba-tiba berkembang lagi. Bolehkah saya bilang kalau Anda itu seperti secangkir kopi sachetan? Iya sih, Anda bisa menghangatkan malam-malam lembur saya. Tetapi Anda membuat saya muak di menit berikutnya. Hati dan otak saya membisikkan kalimat berikut berulang-ulang.

"He's not your cup of tea."
"But he's your cup of coffee."

Ah, skip … skip.

"Risna, kamu pulang akhir November 'kan?" itu kalimat yang sempat saya ingat ketika Anda memulai percakapan saat setor muka via Line. "Habis UAS aku mau tunangan. Kamu 'kan suka motret. Fotoin prewedku, ya. Harga bisnis, deh. Akomodasi aku yang tanggung."

"Kuamprettt!" (callback a la komik)

***

2016-03-29

[Fiksisme] Dee #4: Tentang Kabar Kematian.



Hai.

Ini tanggal berapa, sih? 29 Maret, ya? Hm … ada yang spesial? Oh, tidak ada ya. Yasud, sini, saya kasih sesuatu biar spesial.



Ingat, ya, tanggalnya. Tepat pada 29 Maret.



Ini adalah tanggal kematian, kematian nuranimu. Sebuah hati nurani yang dipenuhi oleh satu, dua, empat, enambelas bahkan ratusan, ribuan, juta barangkali, yang hanya mengedepankan ego untuk menang sendiri. Inikah yang disebut manusia tanpa hati? Bisa iya, bisa juga tidak. Ini tak lebih dari makhluk bernama ZOMBIE.



Hari ini tanggal 29 Maret 2016.



Ini adalah hari di mana kamu kehilangan seseorang (bila ia adalah orang), seorang sahabat (bila ia dianggap sahabat).

Ini adalah waktu di mana kamu harusnya bisa berfikir bahwa yang telah lewat, tidak akan terulang meski hanya melalui ingat. Karena, seseorang itu bukan berada di gerbang dimensi. Dipersila introspeksi.


Hari ini adalah hari yang tepat untuk membolak-balik hati agar bisa saling melupakan dengan mengatasnamakan KEADAAN. Semoga kamu menemukan pemilik FISIK SEMPURNA seperti yang selama ini kamu cari dan kamu idam-idamkan untuk BALAS DENDAM. Berkelanalah, bermain-mainlah suka-suka. Toh, Tuhan Maha Tahu … tetapi Dia menunggu, menunggu waktu yang tepat untuk mengakumulasikannya dalam satu SABDA.



"KUNFAYAKUN".

***

2016-03-13

[Wisata] Bunga-Bunga Bersemi di Sha Lo Tung

Tai Po, Hong Kong.









































2016-02-28

[Fiksisme] Surat Terbuka Untuk Mama

Doc. Pri

Dear, Ma.


Ma, tulisan ini aku buat untuk aku baca lima tahun yang akan datang. Aku mungkin akan tertawa, minimal tersenyum sambil bergumam dalam hati, kok bisa ya aku nulis gini?

Ini juga yang aku batin ketika buka-buka file di blog tahun 2012 lalu. Aku menulis tentang hal-hal tragis. Sebuah fiksi yang menjadi nyata dua bulan kemudian, Ma. Iya, Ma. Aku nulisnya Juli. Kejadiannya Agustus. Nggak sakit parah sih, Ma. Tapi dia langsung pergi hari itu juga. Itu salah satu sebab aku berhenti menulis fiksi. Oleh karenanya, hari ini aku akan menulis hal-hal manis. Biar nanti, fiksi ini menjadi kenyataan yang manis pula.

Ma, aku ini menulis dari hati (dan ampela). Saat ini aku tidak begitu lihai dalam memasak. Aku juga tidak begitu pandai macak. Tapi aku berusaha keras untuk menguasai dasar-dasarnya. Dan untuk urusan mendidik anak, aku belajar banyak dari ibu. Aku memang kewalahan, Ma. Tapi aku suka. Anak-anak itu membuatku jengkel dan kegum secara bersamaan. Mereka itu ajaib.

Sekian lama hidup di planet Namex, lidahku berubah. Indra perasaku berubah. Seleraku berubah. Orientasiku berubah. Termasuk penting tidaknya sebuah pernikahan. Tapi, berkat Mama, aku mengerti pentingnya anak-anak yang lahir dari rahimku jika aku tua nanti. Aku tak bisa mengandalkan kakak atau adik. Mereka akan berumah tanggga dan hidup dengan keluarga barunya. Dan untuk punya anak itu perlu menikah dulu kan, Ma?

Bila nanti ketemu aku, Mama jangan kaget. Aku tidak seperti perempuan-perempuan lainnya yang lihai memakai highheels, maskara, lipstik,eye shadow, blush on ataupun catok rambut. Aku cukup memakai flatshoes yang fleksibel di segala suasana. Dan seperti emak-emak di kampung lainnya, aku akan bangga memakai daster dan sandal jepit. Nggak apa-apa kan, Ma? Toh hanya buat ke sawah atau di rumah. Tenang, Ma, aku tetap dandan untuk anak Mama, menemaninya pergi kondangan barangkali.

Ma, aku minta Mama ikhlasin anak Mama buat aku. Nanti aku ganti cucu yang lucu-lucu. Aku akan bilang sama dia agar tetap memprioritaskan Mama. Mama nggak usah cemburu. Mama tetap menjadi ratu di hatinya. Tapi, Ma, aku nggak mau jadi pembantunya. Aku mau jadi partnernya. Karena aku dan dia setara, adil sesuai porsinya. Rumah tangga adalah milik bersama. Makanya harus ada toleransi, tolong menolong, saling dukung dan bukan arogansi semata. Tolong bilangin dia ya, Ma.

Ma, resep nastarnya kemarin sudah aku coba. Bentuknya hati. Bukan karena aku jatuh cinta, Ma, tapi aku membuatnya dari hati sebagaimana pesan Mama bahwa melakukan sesuatu harus ikhlas dari hati tanpa imbalan apa-apa. Iya sih, Ma, begitu itu nggak bikin kaya. Tapi kebahagiaan dan kepuasan itu yang bikin hati merasa kaya.

Ma, bila berkesempatan, aku akan membacakan ini untukmu. Semoga usiaku usiamu panjang sehingga kita bisa bertemu. Jodoh itu bukan hanya bersatunya sepasang muda-mudi. Tapi perjumpaan kita adalah salah satu bentuk jodoh itu. Aku menunggu waktu untuk sungkem di hadapanmu dengan mengisinya dengan segudang kegiatan di sini. Nggak akan lama kok, Ma.

Aku minta ijin untuk menyelesaikan studi dulu dan melanjutkannya sampai ke benua biru. Baik-baik di sana ya, Ma. Jewer saja bila anakmu itu bandel. Dia emang suka kolokan gitu. Sampai jumpa, Ma.

Best regard.


2016-02-13

[Octivity] Editing dan Proses Akhir dalam Fotografi

Causeway Bay. Bertempat di Wunsha Court, belasan Buruh Migran Indonesia mengikuti workshop fotografi yang diadakan atas kerjasama Lensational dan TCK Learning Center (31/5). Seorang fotografer Indonesia yang telah menetap di Hong Kong selama 7 tahun, Anastasia Darsono, tampil sebagai pembicara.

Menurutnya, dalam fotografi, ada dua hal yang dilakukan setelah memotret. Yakni: editing dan proses akhir. Editing merupakan langkah untuk menyortir foto. Kadang kala dari ratusan foto yang dihasilkan, kita hanya bisa mendapatkan beberapa lembar foto yang sesuai keinginan kita.

Sebagaimana yang kita tahu, jaman sekarang semua orang bisa menjadi fotografer dan kamera apapun bisa untuk memotret termasuk kamera HP.

Oleh karenanya, kita tidak cukup hanya membuat foto yang bagus tetapi juga foto yang bisa diingat atau yang mencuri perhatian. "Photograph must speaks for itself," jelasnya dalam bahasa Inggris.

Setelah melalui proses editing, kemudian foto masuk dalam tahap proses akhir. Yakni mengoreksi bagian foto yang ingin ditonjolkan. Para peserta workshop diajak belajar menggunakan Adobe Lightroom.

Ibu dari dua anak ini mengaku belajar fotografi sejak kecil dari kamera milik ayahnya meski tidak menekuni pendidikan resmi di bidang fotografi. Selama kuliah di Paris, tepatnya saat menekuni bidang 'fashion trend forecast', pengalamannya dalam menggunakan ribuan foto sebagai sumber inspirasi, akhirnya membawanya ke fotografi.


Teks: Sinna Hermanto. Edit: Tasha

2016-02-06

[Fiksisme] Dee #3: Tertuduh Apalah-Apalah

D

Tertuduh Apalah-apalah
_________________________________

Dee, malam itu aku nyengir (pake ngenes) juga sih waktu kamu bilang aku gak suka laki_semacam Al. Hehehe. Yang katamu malah anggap aku ga doyan laki? Ih, gak lucu tauk jadi tertuduh semacam itu.

Mungkin bagi sebagian orang, hidup 'sendiri' adalah hal aneh. Bukan semata-mata mauku tapi lebih untuk menjaga diri (dan hati). Kenapa ga nyoba LDR? Karena ini hidupku. Ini keputusanku. Ini pilihanku dengan segala konsekuensinya, Dee. Termasuk bila kamu menganggap aku ini gak normal (*kalem). Kamu ga usah KASIHan ke aku, cukup KASIHSAYANG aja (*ngakak). Seenggaknya, aku menjaga kepercayaan orangtua bahwa meski jauh dari mereka, aku tetap baik-baik SAYANG (*by wali band).

Emang hal ini penting, ya, sampai KASIHtahu ke aku? Mungkin gitu pikirmu. Ya, terserah gimana anggapanmu ajalah.

Kalo kemarin malam chit chat kita lebih hangat, mood yang terbangun nggak seadem itu, mungkin kesannya ga sekedar menjawab basa basi. Bisa ada guyon dan lebih lumer. Seperti bukan kamu yang kemarin-kemarin deh rasanya. Atau emang dulu kamu sedang nyamar (jadi agen FBI) atau kesambet kakang kawah adi ari-ari?

Anu, aku tuh ga nyaman ngikut arus generasi jaman sekarang. Pun bila merunut percakapan kita ke belakang. Nggak enak kan dipanggil mantan (calon pacar)? Apalagi berkaca dengan sterotip mantan(mu) yang (katamu) jadi sombong ketika udah pisah (meski dulu udah tukeran ludah pake lidah)_aku paham kok model pacaran jaman sekarang, yang kek gitu-gitu udah dianggap wajar walaupun agak-agak wagu buat prinsipku. Juga ucapanmu, Dee, tentang memutus silaturrahmi itu dosa.

Entah karena aku pribadi atau prodi yang aku ambil, aku bisa loh merasakan jika teman bicaraku sedang tidak 100% untukku. Mungkin tidak semua orang merasakannya, mirip pasukan sosmed yang sering curcol (di beranda) : KTP_Kamu Tidak Peka!

Hal ini mengingatkan aku beberapa waktu lalu saat pindah jalur kereta api. Aku bertemu dengan perempuan usia 37 tahun, asal Lampung tapi menetap di Banyuwangi ikut suami. Awalnya sih aku cuman senyum ke dia. Dibalaslah senyumku tadi. Kalo dia laki, mungkin aku meleleh disenyumin gitu (*ketawa njengkang). Tapi SAYANGnya aku lupa tanya nama (maklum, faktor u, pikun detected *kidding). Tuh kan, baru ketemu sama emak-emak aja aku udah main SAYANG, apalagi ketemu kamu (*eh).

Dia cerita tentang anaknya yang sudah17 & 13 tahun gini gini, suaminya gini gini, dan lingkungan tempat tinggalnya yang gini gini. Berkali-kali dia ngeluh dan ngucap, "Saya sudah tua, Mbak".

"Ah enggak kok, Mbak. Masih cocok jadi mahmud anas_mamah muda anak satu," jawabku.

Apalah aku, aku hanya butiran debu. Makanya,aku mencoba mengimbangi 'masalahnya' dengan bekal pengalaman (sodara atau teman) atau artikel gugel (*senyum kalem), yang semampuku, kucoba membesarkan hatinya. Pun membelokkan cara pandang dia yang gini jadi gitu. Mungkin, mungkin loh ya, kalo dia emosi, udah dijitak pake hiheels nih mulutku.

Tau nggak respon dia?

"Mbak, sampeyan itu keibuan sekali."

Kyaaa, tertuduh yang apalah ini. Eit, sebentar, dia bilang keibuan?

"Tapi saya ini bukan ibu-ibu loh, mbak. Saya ini combro." *tertawa bareng emak-emak itu yang ternyata gaul juga.

"Maksudnya, sampeyan itu dewasa sekali." (*senyum kalem lagi).

Oke, tertuduh ini aku ceritakan ke temen-temen dan membuat mereka langsung ngakak guling-guling. Secara mereka tau gimana kolokannya aku (yosh……aib dah aib). Padahal kalo ketemu emak itu lagi, pasti aku lupa. Hawong cuman ngobrol 10-an menit.

Kejadian tertuduh lainnya terjadi baru-baru ini. Gegara pake gamis (syar'i) sederhana, polos,  yang ternyata bener-bener bisa ngerim polah dan ucapanku. Suer, ini gak bohong. Padahal bukan kerudung lebar. Bukan pula kerudung lilit apalagi ada kembang-kembang plus ditancepin jarum pentul, peniti, bros hingga pohon kelapa. Cukup kain panjang yang bisa menutup dada.

Kira-kira percakapannya gini.

"Ciye, hijrah nih?" 

"Amiin. Udah masanya pergi dari jaman kegelapan, waktunya datang ke jaman terang benderang." (mesem*)

"Kayak PLN aja, kamu, habis gelap terbitlah terang (wait……ini kan kumpulan surat-surat Kartini?). Ohya, Null, bukannya fotografer itu mahir di tempat-tempat gelap. If you know what i mean hahaha." (ini udah menjurus 20+).

"Ya iyalah. Kalo ga gelap-gelapan, gimana nyuci cetak dari negatif film. Ada lowkey, highkey, monkey… " (darkroom/ ruang gelap: tempat nyetak foto yang dikondisikan gelap banget. Hanya dengan penerangan bohlam 2,5 watt, maksimal 2 bohlam, warna merah, bukan kekuningan seperti bohlam normal. Hidung harus kuat bau asem_cairan cuka. Tapi ini udah banyak 'ditinggalkan' sejak jaman digital tiba).

"Bang sholeh mana nih yang berani-beraninya membuka hati kamu?" yang lain menimpali.

"Hahaha (*pura-pura tersipu, padahal mah……) doakan dan aminkan saja, Kak."

"Nggak segampang itu. Bang Sholeh itu harus melewati 3 tantangan yang telah sesepuh siapkan. Kalo nggak lolos, jangan harap palu digetok."

Emang pencuri? Perampok? Begal? Kesannya kok kayak aku desperate gitu ya di mata kalian (*nyengir asem).

"FYI, bukan karena bang soleh, bank mandiri, bang central asia, bank negara indonesia apalagi bank rakyat indonesia. Tapi karena aku sendiri yang mau."

"Ciye ciye… monik monik. Monikah ma akooohhh, Na?" (kalo obrolan sudah mentok ya gini!)

Dan tertuduh yang apalah-apalah begini ternyata cukup dilandasi anti nethink. Bahwasanya sebagian kita lebih melihat cover daripada bagasinya… eh daripada isi bukunya.

Feb 1st2016.

***
Doc.pri: stop it.