[Nekad Blusukan] Sam Tung Uk: Hong Kong Tempo Doeloe

"Sam Tung Uk Museum, komplek perumahan tempo doeloe ala Hong Kong ini merupakan salah satu situs sejarah peninggalan masa lampau yang menggambarkan kehidupan masyarakat Hong Kong, khususnya masyarakat klan Hakka (marga Chan) yang berasal dari propinsi Guang Dong, China. ," lanjutnya.

[Nekad Blusukan] Lei Yue Mun, Eksotisme Wisata Kampung Nelayan

Orang bilang: foto-foto cantik itu biasa, foto-foto ekstrem itu barulah luar biasa.

[Nekad Blusukan] Sheung Wan: Pusat Graffiti di Hong Kong

Tai Ping Shan merupakan daerah Sheung Wan bagian atas. Area ini terkenal sebagai tujuan pecinta seni dengan aneka galeri serta barang-barang antiknya. Sehingga tak salah jika Sheung Wan menjadi salah satu pusat grafiti di Hong Kong.

[Nekad Blusukan] Plesir ke Pacitan

Pantai Teleng Ria berada di teluk Pacitan. Ini adalah salah satu pantai yang menjadi jargon tanah kelahiran presiden SBY. Tanah berumput hijau terhampar luas sebelum mencapai bibir pantai. Bunga bakung ungu menyembul di antara rerumputan itu. Ada juga segerombol pohon cemara jarum dan tunas kelapa yang mesih rendah. Wow, indah bukan buatan.

[Nekad Blusukan] Hong Kong Rasa Kanada

Sweet gum bukanlah mapel. Bentuk daunnya ada yang menjari 3, 4 dan 5. Ukurannya pun berbeda sesuai dengan musim di mana pada musim semi, daunnya lebih lebar.

2019-08-10

Tips Membuat Flatlay Fotografi


Seperti biasa, saya kemana-mana diantar babang Gojek. Dan untuk menuju acara lokakarya fotografi kali ini pun saya sampai sana berkat babang Gojek. Terimakasih ya, Bang. Iya, sih, saya datangnya telat karena emang rada molor pas jam pulang kerja. Udah gitu, babang Gojeknya kenak macet pas jemput, yang seharusnya lima menit (sesuai apps) tapi molor sekian menit. Jangan salahkan si babang, jam-jam segitu di area Canggu (jalan Bypass Tanah Lot) emang macet-macetnya loh. Begitu pula ketika sudah masuk area Kuta di sekitar jalan Sunset road. Macet dan panas yang menyambut membuat saya harap-harap cemas bakalan menjadi peserta terakhir yang datang.




Untunglah saya hanya telat sekitar 15 menit, yang artinya saya melewatkan sesi pembuka acara, yang artinya lagi, saya sudah mulai masuk sesi materi.

Nah, materi kali ini diberikan oleh mas Alex Setiawan, yang udah malang melintang di dunia flatlay sejak beberapa tahun terakhir. Pria asal Malang ini kemudian menjelaskan bahwa flatlay fotografi bisa diartikan sebagai top shot angel (motret dari atas objek) dengan flat suface (alas foto datar). Atau kalo mau lebih jelaskan, bisa search sendiri di mesin pencari.

Gimana sih cara motretnya?
  •  Objek diletakkan pada alas datar
  • Sudut pengambilan antara 80-90 derajat
  • Pastikan cahaya/ lighting yang cukup
  • Bisa menggunakan gaya (penataan) bebas / freestyle, garis/ grid (dengan objek terbesar sebagai POI, yang lain mendukung), ruang kosong/ empty space 50:50 dan atau kombinasi (freestyle + grid + empty space).
Tips Flatlay.
  • Props adalah 80% dari materi utama
  •  Pakai natural light (boleh harsh untuk efek bayangan atau soft dari pantulan)
  •  Jangan bandingkan hasil kita dengan orang lain
  • Cari inspirasi (ATM: Amati, Tiru, Modifikasi)
  • Berlatih, berlatih dan terus berlatih
Ia juga menambahkan, ia sering menggunakan  flatlay harian ala-ala coffee shop. Dengan cara:
  • Gunakan props yang simple 
  • Perhatikan arah cahaya (khususnya natural light)
  • Gunakan F5-F6
  • Editing pakai Lightroom (khusus foto BW; hilangkan warna biru / aqua)

Note: agar tidak memantulkan cahaya, pakai alas yang dove, sedangkan alas glossy untuk produk kaca.

Nah, itu tadi sedikit tips dan catatan yang sempat masuk dalam buku saya. Setelah satu jam pertama untuk sesi materi, satu jam selanjutnya lokakarya fotografi yang diadakan oleh Fujifilm yang bertempat di Fujishopid-Bali, tepatnya di Urbanlife, jalan Dewi Sri No.168 A-B, Legian, Kuta, ini dipakai untuk sesi tanya jawab sekaligus praktik langsung.

Kembali pulang dari lokakarya saya segera bergegas ke mes (yang jaraknya sekitar 16 km dari Kuta) karena saya ada rencana ngeluyur di malam Minggu. Iya, dong, punya cem-ceman selalu sibuk. Shhhtttt, Sultan mah bebas.




*** Foto-foto: doc pri, jepret by: phone camera

2019-04-03

Germo Trip Part I :  Accidentally Trip & Air Terjun Jagir Banyuwangi



* Accindentally trip

Accindentally trip. Itulah kalimat yang tepat untuk saya tekankan atas keikutsertaan saya ngetrip bareng Germo Tour ke Banyuwangi. Kenapa? Karena, saya menyatakan keikutsertaan dalam rombongan ini pada saat detik-detik terakhir persiapan, sekitar enam jam sebelum perjalanan dimulai. Mepet banget, kan?

Akhirnya, satu-satunya bekal yang saya bawa adalah bawa diri! Pssttt, jangan ditiru, ya. Segala sesuatu yang kurang persiapan, bakal ada hit & miss. Tapi e tapi, kalo kebanyakan rencana, biasanya malah mangkrak karena tidak segera dieksekusi. Lagipula, trip ini sudah ada yang memersiapkan, sudah ada yang mengatur. Aing mah tinggal duduk manis dan sendika dhawuh.


Germo Tour goes to Banyuwangi. 

Ohya, tim kami ini terdiri dari delapan pria germo dan seorang perempuan-setengah-daun-beluntas-setengah-pinggiran-upil. May I mention their names? OK, then. Mereka adalah Alvin, Brahm, Chandra, Dangan, Eddy, Hafid, Hari, dan Mugi. Germo Tour meninggalkan pulau dewata dalam rangka liburan Hari Raya Nyepi pada tanggal 6-8 maret 2019 pada pukul 4 pagi. Yup, tujuan utama kami melakukan perjalanan ke barat adalah mencari kitab suci ke Kawah Ijen. Kalo saya pribadi  sih nyari vitamin sea.

Di waktu menjelang subuh itu, kendaraan berjalan lumayan galak. Mobil yang kami tumpangi berzig-zag di atas jalan yang sedikit bergelombang, melaju kencang, beradu cepat dengan waktu dan kemacetan yang diperdiksi bakal parah di penyeberangan Gilimanuk. Sampai-sampai, mobil yang dikendarai oleh Alvin dan Dangan itu terasa mengambang. Ah, jadi ingat mobil terbangnya Ron Weasly saat ‘menculik’ Harry Potter.

Efeknya, perut seperti kena Tornado. Dalam hati berdoa, Tuhan... jangan sampai saya muntah di depan mereka. Bisa-bisa, runtuhlah kebakohan saya. Luckily, usai istirahat di SPBU, semua rasa yang pernah ada hilang musnah. Perjalanan selanjutnya Brahm mengambil alip kemudi. Jalur lumayan bersahabat, ditambah kondisi jalan sudah masuk daerah macet. Maka, tak ada yang bisa dilakukan selain menikmati kemacetan itu sendiri.

Dan benar, melewati gate penyeberangan, beuhggg, macet parah. Ya maklum, baru pertama ini saya terkena macet. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kemacetan arus mudik dan arus balik lebaran. Itulah mengapa ketika saya berada di rantau, saya memilih menikmati suasana lebaran di tanah asing ketimbang berbondong-bondong pulang ke kampung halaman. Bukan apa, saya tidak kuat menghadapi macetnya, cuy!

Sialnya, dua mobil yang menjadi bagian dari Germo trip ini harus menyeberang ke Banyuwangi dengan dua kloter berbeda. Gerimis hujan mengiringi perjalanan kami menuju tanah Jawa, tanah leluhur kami, tanah tumpah darah kami. Mobil yang saya tumpangi menjadi kloter pertama menjejak tanah Jawa. Kami harus menunggu mobil satunya di luar Ketapang sambil membuka bekal nasi plus lauk pauknya. Untuk minum, kami memesan di kedai tenda tak jauh dari parkir  mobil. Bila diperhatikan dengan teliti tepatnya dilihat dari kejauhan, mobil kami sudah mirip mobil penjual makanan di dekat danau Unesa, Surabaya.

Begitu seluruh rombongan trip sudah kenyang, kami menuju Osingdeles, pusat oleh-oleh khas Banyuwangi, yang terletak di jalan KH. Agus Salim. Semua memborong makanan dan kaos seperti orang khilaf. Itulah ciri khas orang Indonesia. Kemana pun perjalanannya, oleh-oleh adalah hal utama, yang mana budaya ini belum tentu berlaku bagi traveller bule.

Destinasi selanjutnya adalah ke Ijen Farmer Homestay. Bagi saya yang terbiasa tidur ngemper di hotel berbintang-di-langit-biru, Ijen Farmer Homestay sudah cukup memadai. Apa sih yang dibutuhkan pejalan receh seperti saya selain tempat tidur nyaman, ada kamar mandi plus bonus kompor gas buat bikin mie dan atau kopi? 

Sebagai perempuan satu-satunya dalam trip ini, saya mendapatkan keistimewaan dengan fasilitas satu kamar untuk saya tempati seorang diri. Ahikk. Hanya saja, untuk urusan mandi, si Hari sempat numpang mandi di kamar saya. Alhasil, kamar mandi banjir (yang ternyata saluran pembuangan mampet), airnya meluber ke kamar hingga kasur yang tergeletak di lantai ikutan basah. Saya sempat mikir, nih orang mandinya kek mana coba? Kan kampret!

Air Terjun Jagir


The Germos setor muka. 

Sebelumnya, tepatnya setelah gerimis mereda, kami direkomendasi oleh pemilik Homestay untuk menikmati keindahan Air Terjun Jagir yang terletak di Dusun Kampung Anyar, Desa Taman Suruh, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Kami dikenai tiket perkepala sebesar Rp 5.000,- belum termasuk parkir kendaraan. Untuk mencapai air terjun Jagir, tidak begitu memerlukan usaha yang ngos-ngosan.

Lokasi air terjun Jagir bisa terlihat dari jalan raya. Di sini kita bisa menikmati tiga air terjun sekaligus dalam satu tempat. Begitu melihat air terjun yang jernih, tim Germo segera menceburkan diri dalam air, yang sebelumnya mereka lebih dulu melucuti pakaian dan asesoris yang menempel di badan kecuali kancut atau celana pendek. Memang, air yang jernih dipadu dengan suasana alam yang masih asri benar-benar membuat kami sedikit rileks dari rutinitas. Bahkan, ada aliran sungai yang membelah antara dua air terjun kembar dan satu air terjun sebelahnya.

Air terjun (single) plus penunggunya. 

Hanya saja ketika kami sampai di sana, akses menuju air terjun tunggal di sebelah air terjun kembar itu terhalang ranting berduri. Saya yang kadung nyeker sudah kepalang tanggung ciut nyali, takut ketusuk duri. Apalagi kondisi jalur setapak yang licin akibat hujan yang baru saja reda. Cukuplah menikmatinya dari jarak sepelemparan batu atau sambil mandi di kali dan berendam di bawah air terjun kembar.

When someone talk behind u, they talk with your ass.

Oh ya, di pinggir jalan dekat parkiran dan di area air terjun terdapat warung makanan ringan. Jadi, pengunjung bisa menghangatkan badan sembari ngopi dan ngunyah gorengan. 


Bonus spot foto (false colour) : swirl bridge.  

Yakin nggak tertarik ke sini? 


Twin Waterfall / air terjun Jagir _ bonus putra duyung mandi (zoom in mode on). 

Usai di destinasi pertama, kami kembali ke homestay, mandi, nyuci, dan makan malam sisa bekal tadi pagi. Sebelumnya, ada breafing dari pemilik homestay tentang “do & don't“ serta secuil kisah perjalanan hidupnya sebagai anak penambang belerang yang kini sukses memiliki beberapa penginapan serta keahliannya berbahasa Inggris dan Prancis. 

Oke, sekarang markiti, mari kita tidur. Soalnya, perjalanan ke Kawah Ijen akan dimulai pada dini hari.

***

2019-03-10

Di Bali: Gila Bersama Majelis Lucu Indonesia

Gila Bersama Majelis Lucu Indonesia



Doc: Jimmy KVB 


Sebenarnya saya baru mendengar nama Majelis Lucu Indonesia hari ini. Iya, iya, saya nggak update. Secara saya kan pekerja keras, yang mana hidup saya seutuhnya saya dedikasikan untuk kerja kerja kerja, siapapun presidennya (apa sih ini?). FYI, kalender saya tuh semua tanggalnya berwarna hitam a.k.a tidak libur. Miapah coba? Demi nabung libur yang sewaktu-waktu saya pakai buat mudik, gitchu.

Kembali ke Majelis Lucu Indonesia, saya memang belum hafal nama mereka satu-persatu. Dan lalu saya masuk ke mesin pencari, mengeklik laman mereka. Ternyata mereka ada acara di Guest Hotel, Denpasar, hari ini, 10 Maret 2019 yang dikemas dengan highlite “Dewa Komedi Indonesia”. Cuman, dari beberapa personil itu saya kenal sama Tretan Muslim dan Rigen (tapi mereka tidak kenal saya. Kan nyesek!!! Emang loe siapa?)

Rombongan mereka mampir ke tempat saya mengais rejeki, di Kurnia Village Resto, Bali. Tidak hanya dalam rangka makan siang yang kesorean tapi juga untuk menikmati sensasi berfoto ala masyarakat Bali tempo doeloe. Nah, studio foto Kurnia Village Resto ini menyediakan aneka kostum, mulai dari kebaya jadul, kebaya brukat, kemben, kamen jadi, jarit, bahkan banyak tamu restoran yang berfoto secara berpasangan dengan konstum pernikahan.  Juga tersedia delapan set latar. Pojok menenun, melukis, topeng dan tari yang berada di ruang pertama. Di ruang kedua ada pojok pementasan wayang, dapur jadul, gudang padi dan balai malas. Sedangkan di ruang ketiga ada satu set latar sembahyang. So, cucok meong lah yau buat tamu yang butuh ngeksis di sosial media ataupun tamu yang ingin menikmati sensasi the ancient Bali. Jangan takit gerah saat sesi foto berlangsung. Studio foto plus ruang ganti full AC, Air Con bukan Angin Cendela. Paragraf ini mengandung iklan.

Nah, di sesi foto tersebut, tingkah dan tolah mereka gila banget. Mereka itu seperti terlahir jebrot langsung bikin orang ngakak. Adaaa aja yang dibecandain. Saya salut loh sama orang-orang yang punya kemampuan seperti itu, terlebih mereka yang bisa menertawakan kemalangan, kesedihan, kepahitan, dan kelemahan diri sendiri. Itulah seniman (jika boleh dibilang begitu sih). Bahkan dark joke_yang bagi sebagian orang pasti bikin gerah-kuping-gerah-hati, ternyata mampu mereka bungkus menjadi sebuah hiburan (bagi orang-orang selow sih). Karena bagi saya, karya apapun yang dibuat dari hati akan sampai ke hati penerimanya. 

Tapi monmaap, jika penyambutan fans Majelis Lucu Indonesia di Kurnia Village Resto ini tidak seheboh artis/ seniman lain, Bowo tiktok misalnya, eh! Ya maklum, tamu Kurnia Village kan sebagian besar tamu mancanegara (etdah sombong), yang walaupun banyak juga tamu lokal. Toh kehadiran rombongan Majelis Lucu Indonesia bikin studio foto Kurnia Village Resto jadi heboh dengan gema tawa yang tercipta. Pun, stand demo masak untuk chef masakan India, yang memang ditempatkan di luar dapur restoran tepatnya di dekat main resto, sempat ramai juga dengan kehadiran mereka. Menurut saya itu adalah hal wajar, pan mereka butuh foto maupun video dokumentasi untuk akun sosial mereka.

Eniwe, baswe, sabwe, kepada Majelis Lucu Indonesia, saya ucapkan terimakasih atas kedatangannya di Kurnia Village Resto, wabil khususon sudah menggemparkan studio foto KVB, yang meskipun saya datangnya telat lantaran saya baru kembali dari jam istirahat (halah... Alibi). Semoga lain waktu (harus ini mah) mampir lagi ke sini, bawa pasukan Majelis Lucu Indonesia yang lebih banyak lagi, bikin acara kecil-kecilan (gede-gedean juga boleh) semacam: open mic, stand up comedy dan atau sejenisnya di Kurnia Village Resto. Biar kita selalu bersinergi. Ya kali saya ada kesempatan belajar nulis materi yang pantas dibawakan atau malah dipentaskan. Kan gokil (woy, cita-citanya ketinggian, awas-awas kesampluk pesawat, pesawat televisi). Bosen tauk bikin konten curcolan mulu kek gini. Greget sih greget tapi kurang nendang.

Saya juga mohon maaf jika ada kekurangan. Dan bila ada kelebihan, mohon segera dikembalikan. Coz I’m only an ordinary girl, not a super girl. 

***

Note: Tulisan ini mengandung bahan-bahan berbahaya. Jauhkan dari jangkauan orang-orang tersayang.

2018-11-30

[Homey Bali] Perayaan Maulud Nabi Muhammad saw di Tanah Lot

Acara Maulud Nabi Muhammad saw di Tanah Lot 

Tanggal 24 November 2018 ini, Taman Pendidikan Alquran Al Hidayah, yang berada di desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, sekitar 10 menit dari Tanah Lot - Bali, ngadain acara peringatan maulud Nabi Muhammad saw. Sebenarnya acara dimulai setelah sholat isya, tapi santri-santri cilik yang berjumlah sekitar 117 ini sejak sore sudah ramai memenuhi TKP. Gemes aja sih ngeliat antusias mereka yang sedari sore sudah kece badai memakai baju gamis atau koko. Saya bisa dengan jelas melongok tingkah mereka karena posisi saya berada tepat di arah jam 12, dengan jarak hanya sepelemparan batu.
 
Sebagaimana kegiatan mauludan lainnya yang melibatkan TPQ_berikut pengasuhnya, acara dibuka dengan unjuk kebolehan para santri. Entah itu hafalan doa-doa, asmaul husna, bacaan sholat, bahkan ada hiburan hadroh. Khusus tim hadroh ini adalah kolaborasi usia - dari remaja hingga ABG (Angkatan Babe Gue).

Gemesin kan adik-adik santrinya? 

Sedangkan acara inti yakni tausyiyah, diisi oleh Ketua GP Ansor Tabanan sekaligus salah satu imam Masjid Kediri - Tabanan, ustadz Antoni. Dalam kesempatan itu, beliau mengajak para jamaah agar senantiasa bersyukur atas segala fasilitas yang Allah sediakan di dunia ini, semuanya untuk kemudahan terselenggaranya kehidupan manusia itu sendiri. Termasuk surga yang diciptakan sebagai apresiasi atas amal baik selama di dunia dan neraka untuk membersihkan amal buruk manusia sehingga bisa menikmati surga setelah proses "pembersihan" itu.

Meski kondisi ustadz sedang tidak fit tetapi totalitas dan profesionalisme beliau patut diacungi jempol.

Ustadz sedang bertausyiyah. 

Beberapa pernak pernik hiasan /dekorasi, terbuat dari bunga-bunga kertas yang ditancapkan pada pohon pisang, sebagiannya berisi door prize telur rebus & uang dua ribuan. Begitu acara selesai, para santri berebut hadiah itu. Lucu sekaligus geregetan dengan tingkah mereka, khas anak-anak banget.

Saya datang sudah sangat terlambat. Begitu "turun", saya balik ke mes dan melakukan "ritual", lalu ambil kamera & monopod, kemudian cuzzz ke TKP. Mendokumentasikan acara seperti ini membuat saya kembali ke masa-masa menjadi relawan... tuh kan jadi baper. Sayangnya ketika hendak membuat video hadroh, ada beberapa masalah yang membuat saya harus menunda. Insya Allah, next event, yessss.

Sebenarnya pengen bantuin be bersih sampai selesai tapi sudah telanjur kena doktrin "biar mas-mas saja yang membersihkan", ya sudah lah. Begitu pulang, saya langsung dibawain bontrot (nasi berkat), hahaha. Saya menerima tetapi saya letakkan kembali di meja agar dimakan oleh jamaah lain yang lebih membutuhkan. Biasanya, jam segitu saya usahakan tidak makan malam, takut gemuk perutnya doang ngokkk. Lagian, habis makan trus tidur itu bisa bikin asam lambung naik. Kalo besok sakit perut, kan saya sendiri yang repot. Begitu sih TEORI-nya.

Nyatanya, yang namanya rejeki, meski ditolak, bakal datang juga. Nasi berkat dari acara mauludan yang tidak saya bawa pulang, begitu sampai di halaman tempat kerja, yang kebetulan saat itu teman-teman shift malam tinggal nunggu scan sidik jari, saya malah dikasih Pak GM nasi berkat. Kata beliau, itu nasi miliknya dari acara mauludan yang tidak dimakan, beliau sudah kenyang. Busyet, dah. Nyatanya, ketika saya meninggalkan nasi saya di TKP, saya dapat nasi dari Pak GM.

BTW, saya sangat salut dengan kegiatan di TPQ tersebut.

FYI, itu bukan sekolahan atau bangunan yang bisa disebut sebuah madrasah tapi sebuah bengkel yang ketika sore/petang, "disulap" menjadi arena belajar agama. Jadi, komunitas muslim minoritas di sini masih punya "wadah" buat meningkatkan ilmu agama, khususnya anak-anak. Jangan tanya sama saya siapa pengasuhnya utamanya. Foto beliau yang sempat saya ambil pun blur. Saya hanya mengenal salah satunya, yang merupakan rekan kerja saya di sini, yang juga calon menantu dari pengasuh TPQ. Eaaakkk, fahimtiiiiii?

Tim hadroh. 

Saya merasa,  ketika bersinggungan dengan hal-hal begini, saya tidak merasa sedang merantau. Boleh saya bilang, di sinilah sebagai homey Bali.

***

2018-11-29

[Puisi] Bukan Pura-Pura Pergi


Bukan Pura-Pura Pergi 

Dari punggungmu aku mencari arti rasa yang tetiba ada 
Dari candamu aku temukan kembali hati yang tak lagi sepi 
Dari dirimu aku rasakan getar yang semakin berbinar 
Sentuh hangatmu meluruhkan segala keegoanku 

Nyatanya hanya aku sendiri dalam lingkar rasa ini 
Kau tak pernah peduli akan hadirku di sisi 
Hatiku gerimis 
Hujan pun turun di pipi 
Membuat genangan 
Sebagiannya menjadi kenangan 

(Reff :) 
Bila esuk tak kau temukanku di sini 
Bukan kupura-pura pergi agar bisa Kau cari 
Bila esuk tak kau temukanku di sini 
Berarti rasaku telah mati 

Tabanan, Tanah lot, Nov 2018 


2018-03-15

Aktivitas di Pasar Pon Ponorogo Lesu


Dia telah berjualan di Pasar Pon Ponorogo lebih dari 40 tahun, menggantikan lapak orangtuanya. Bersama istrinya, ia menjual bahan-bahan kebutuhan sehari-hari. Mulai dari sayur, bawang merah/putih, sebagian empon-empon (traditional herbs), dll. 

Pasar Pon sendiri merupakan area penting dalam babad berdirinya Ponorogo. Karena, pasar ini berada di kota lama yang mana, di area inilah pusat pemerintah berada sebelum pusat pemerintahan pindah ke kota tengah seperti saat ini. 

Pasar ini sempat dipugar dan dibangun ulang dengan wajah yang lebih segar, sekitar dua tahun lalu. Namun, pemugaran ini tidak sebanding dengan aktivitas di dalamnya. Aktivitas di Pasar Pon Ponorogo lesu. 

Hal ini dikarenakan letak Pasar Pon sangat dekat dengan pasar induk Songgolangit (Pasar Legi)_kurang lebih 2km, sehingga masyarakat lebih memilih berbelanja di sana dengan alasan harga. Terlebih jalan-jalan desa yang mulus membuat stok barang tidak perlu dibawa turun gunung oleh petani. Cukup para tengkulak / pengepul yang mengambil barang dari produsennya. Hal ini berkebalikan dengan kondisi pada jaman emas Pasar Pon di era 80-90an. 

Kelesuan ini ditambah dengan penjual sayur keliling yang memanjakan pembeli tanpa harus repot-repot berjalan jauh, cukup di depan rumah, mereka bisa mendapatkan sayur segar atau kebutuhan sehari-hari.

Ia terpaksa pasrah dengan keadaan ini karena IA sadar, inilah lika-liku pedagang, yang menurutnya selalu ada pasang surut.
***

2017-04-30

(Resep) Bolu Jadul

Doc.pri 

Bolu Jadul

Bahan :
150gr tepung terigu (segitiga biru)
1/2sdt baking powder
1sdm maizena
1bks kecil vanili
3 btr telur
125gr gula pasir
1/2sdt sp
100gr margarin
Keju part (optional, boleh diskip)

Cara buat :
- Cairkan margarin.
- Campur semua bahan kering, ayak.
- Mixer dengan kecepatan tinggi telur, gula, sp hingga tekstur putih berjejak.
- Masukkan bahan kering dengan spatula bergantian dengan margarin cair.
- Masukkan adonan dalam cetakan yg telah dioles margarin dan ditaburi tepung terigu. Taburi adonan dengan keju parut.
- Panggang dalam oven yg telah dipanaskan 180°, kurleb 30 menit.

Happy Baking.

#bolu
#bolu_jadul
#bolu_panggang
#bolu_keju