[Nekad Blusukan] Sam Tung Uk: Hong Kong Tempo Doeloe

"Sam Tung Uk Museum, komplek perumahan tempo doeloe ala Hong Kong ini merupakan salah satu situs sejarah peninggalan masa lampau yang menggambarkan kehidupan masyarakat Hong Kong, khususnya masyarakat klan Hakka (marga Chan) yang berasal dari propinsi Guang Dong, China. ," lanjutnya.

[Nekad Blusukan] Lei Yue Mun, Eksotisme Wisata Kampung Nelayan

Orang bilang: foto-foto cantik itu biasa, foto-foto ekstrem itu barulah luar biasa.

[Nekad Blusukan] Sheung Wan: Pusat Graffiti di Hong Kong

Tai Ping Shan merupakan daerah Sheung Wan bagian atas. Area ini terkenal sebagai tujuan pecinta seni dengan aneka galeri serta barang-barang antiknya. Sehingga tak salah jika Sheung Wan menjadi salah satu pusat grafiti di Hong Kong.

[Nekad Blusukan] Plesir ke Pacitan

Pantai Teleng Ria berada di teluk Pacitan. Ini adalah salah satu pantai yang menjadi jargon tanah kelahiran presiden SBY. Tanah berumput hijau terhampar luas sebelum mencapai bibir pantai. Bunga bakung ungu menyembul di antara rerumputan itu. Ada juga segerombol pohon cemara jarum dan tunas kelapa yang mesih rendah. Wow, indah bukan buatan.

[Nekad Blusukan] Hong Kong Rasa Kanada

Sweet gum bukanlah mapel. Bentuk daunnya ada yang menjari 3, 4 dan 5. Ukurannya pun berbeda sesuai dengan musim di mana pada musim semi, daunnya lebih lebar.

2015-03-14

[Curcol] Kantuk Menyerang, Asti pun Terjengkang

Kantuk Menyerang, Asti pun Terjengkang

Teman-teman, sebelum melanjutkan baris demi baris tulisan ini, saya mohon seandainya Anda mengenal makhluk setengah waras dan setengah gila (tetapi bukan makhluk setengah jadi) bernama Asti, tolong segera sembunyikan koran SUARA ini. Lalu lanjutkan bacanya setelah Asti pergi. Nei wui lam em do fa sang mey si (Anda tidak akan bisa membayangkan apa yang bakal terjadi).

Si Asti ini kan salah satu makhluk yang dikutuk imut seumur hidup. Ia akan senantiasa selalu dan always terlihat poreper sepentin alias serupa remaja berusia 17 tahun jalan (sisanya lari marathon 10K). Namun siapa sangka, pemikirannya sangatlah dewasa. Ia sadar, ngungyan di Hong Kong adalah sepotong puzle kehidupan. Di sini hanya mampir ngombe alias dringking (plus eating, shopping, hiking, dan -ing lainnya). Bahwasanya ia akan merangkai masa depan di tanah kelahiran, di Endonesyah sana.

Oleh karenanya, ia gabung dengan kelas entrepreneurship. Baik yang diadakan secara gratis atau berbayar hingga yang memakai sistem tatap muka atau pun kelas online. Kelas-kelas kursus juga dijajaki. Mulai dari menjahit, merangkai manik-manik, fotografi, dan memasak. Oleh karenanya, buku-buku modul pun tumpah ruah di kamarnya. Ia senantiasa mengisi waktu luangnya untuk membaca (dan fesbukan, beybeyeman, wosapan, maupun instagaraman). Alasan lain sih emang ndoro juragannya tidak mengijinkannya nongtong tipih. Jadi, jangan heran jika ia diajak ngomong Kantonis, dia hanya paham setengah-setengah (ya itu tadi, setengah waras dan setengah gila .... eh!).

Siang itu, bersama mendung dan kabut yang menyelimuti Hong Kong sejak minggu ketiga Februari lalu (bahkan hingga awal Maret), ia menunggu waktu masak makan malam dengan membaca buku di dapur. Lazimnya, membaca buku akan lebih afdhol bila disandingkan dengan secangkir kopi hitam legam nan pahit. Dan untuk mendapatkan afdhol kuadrat pangkat empat masih pakai akar sin cos tangen dan bilangan variabel x yang dikombinasi kalkulus dan logaritma, ia mengambil bebeb hengpun (HP) kesayangannya lalu memotret betapa serasinya persahabatan antara buku dan secangkir kopi kemudian mengunggahnya di instagaram.

Di situ kadang saya merasa huwaooow. Perjuangan untuk mendapatkan modal usaha di Endonesyah kelak juga diimbangi dengan ilmu. Ya ya, bolehlah sekolah berhenti sampai SMK tetapi belajar haruslah terus menerus dan tidak boleh putus, begitu sedikit gambaran tentangnya.

Rahasia umum, mata kita akan moncer serupa mbulan ndadari bila melototi fesbuk. Tetapi tiba-tiba lengket serupa kena pulut jika diajak membaca buku terutama buku-buku 'berat'. Jadi sepertinya, kopi itu tadi hanya alibi untuk mempercantik penampakan di instagaramnya Asti.

Sekira satu jam kemudian, Asti mengunggah lagi sebuah foto pojok dapur dengan kursi kosong. Captionnya membuat siapapun yang membacanya bakal terharu. Asal jangan menertawakannya loh, ya. Soalnya ia baru saja jatuh terjengakang dari kursi itu. Handle/pegangan pembuka pintu oven yang terletak di dekat tempat duduknya ikut-ikutan patah terkena hantaman kursi. Itu artinya ia sedang teraniaya. Bukankah doa orang yang teraniaya itu diijabah Gusti? Awas-awas ya kalo menertawakannya. Bisa-bisa Anda dikutuk kaya raya seumur hidup!

Olala ... Rupanya ia terjengkang karena kantuk yang tiba-tiba menyerangnya tidak mempan dihajar secangkir kopi. Dan ... Sampai tulisan ini dibuat, belum ada kelanjutan nasib handle oven. Tetapi yang bisa saya kabarkan adalah, Asti masih baik-baik sayang ... eh baik-baik saja, ding.

Sinna Hermanto/ Koran SUARA, Maret 2015. 

***

Artikel terkait.

2015-03-12

[Curcol] Langgar Aturan, Kena Semprit deh!

Aturan Itu Dibuat Untuk Dilanggar. Demikianlah! Entah pepatah keluaran mana, saya pernah mendengar 'mak semriwing' bahwasanya aturan itu dibuat untuk dilanggar. Namun, hal ini pernah saya baca dalam salah satu 'pelajaran komposisi fotografi' yakni break the rule(s). Ketika berbicara seni, kadang kala aturan itu adalah tidak ada aturan itu sendiri. Di luar seni, hati-hati saja jika berani melanggarnya.

Seperti Minggu keempat bulan Januari lalu, trio A (Anik, Asti, Asinn_sebut saja begitu) pergi ke Shatin untuk melihat pameran foto. Ketiga perempuan yang kadung kepincut dengan fotografi ini rela jauh-jauh dari kampung Jawanya Hong Kong hanya untuk membuktikan dengan mata mereka sendiri bahwa karya foto mereka dipajang di lobby salah satu kampus besar di Hong Kong.

Gimana ceritanya kok foto mereka bisa sampai di sana?

Begini, beberapa tahun lalu, sebuah organisasi non pemerintah (NGO) yang berkonsentrasi memberdayakan perempuan melalui fotografi, menggandeng organisasi pekerja migran, fotografer profesional dan beberapa sponsor untuk mengadakan workshop fotografi. Tidak tanggung-tanggung, workshop pertama bulan Oktober 2013 dan yang kedua Februari-Mei 2014 itu berbayar nol dolar alias gratis. 

Peserta tidak hanya berasal dari penduduk lokal Hong Kong tetapi juga pekerja migran Indonesia dan Filipina. Peserta workshop tidak hanya diajari jatuh cintrong pada foto dan fotografi tetapi dituntun untuk 'bermain-main' dengan negativ film (klise foto) di ruang gelap. Ya, mereka diajari mencuci cetak foto. Tidak hanya itu, mereka juga diberi pembekalan bagaimana menyiapkan pameran foto.

Kesempatan untuk memamerkan karya pun datang. Hasil foto-foto 'asal jepret' (karena tidak ada tema khusus yang dibebankan kepada peserta) itu dicetak. Kemudian semua pihak yang terlibat dalam workshop itu berdiskusi menentukan judul dan tema pameran. NGO sengaja mengajak peserta untuk lebur bersama saat pra dan pasca pameran.

Ketika hari H tiba, trio A makin penasaran, kira-kira karya mereka yang mana saja yang sesuai dengan tema pameran. Tak lupa, mereka bertanya kepada NGO, apakah memungkinkan bila datang ke pameran pada hari Minggu yang menjadi satu-satunya hari kebebasan trio A dari kungkungan pekerjaan. Nyatanya, kabar itu datang setelah melewati tengah malam pada hari Minggu dengan kalimat pemberitahuan yang isinya bahwa pameran esok hari akan dibuka pukul 8 pagi hingga  sore.

Entah karena terlalu exited atau apa, trio A mengasumsi bahwa esok yang dimaksud adalah hari Minggu (padahal, jika mau menelaah lebih teliti, saat pemberitahuan dikirim hari Minggu maka esok yang dimaksud adalah Senin, kan?). Maka, naked-lah ... eh nekadlah trio A ke tempat pameran.

Sesampainya di Shatin, trio A muter-muter kampus untuk mencari pintu masuk_yang semuanya terbuat dari kaca transparan, yang ternyata ditempeli tulisan closed. FYI, kampus itu berdampingan dengan hotel HYATT. Oleh karenanya, trio A keukeuh mencari jalur belakang kalau-kalau ada celah yang bisa disisipi. Pencarian 'jalur tikus' itu menuntun trio A hingga ke pelataran hotel. Dan nyatanya, celah itu sama sekali tidak ada bin nihil.

Menghibur diri dari kekecewaan itu, trio A segera selfie berbackground hotel itu. Sekali jepret dua jepret kurang puas, trio A mencari background dengan tulisan iconic hotel HY. Nahas, mereka kesulitan selfie karena tidak memiliki tongsis. Mereka hanya menggunakan tangsis (tangan untuk narsis). Tidak kurang akal, ketika menarsiskan wajah mengalami kesulitas, trio A rela glosoran di lantai demi motret kaki mereka di depan hotel itu. Tentu saja pemandangan nggilani ini mengusik ketentraman pihak hotel. Trio A didatangi sekuriti dan meminta mereka agar meninggalkan tempat sesegera mungkin. Yau jhe aa, hou ngai him. Ya iyalah, mereka dlosoran di jalur kendaraan!

Dalam perjalanan kembali pulang, trio A melewati kampus lagi. Salah satu dari mereka melihat beberapa orang bisa masuk-keluar dengan sebuah kartu. Aha ... ide nebeng orang agar bisa masuk bareng pun muncul. Perlu kesabaran ekstra menunggu momen itu. Dengan bahasa kanton yang lumayan memelas dan tangan menunjuk-nunjuk lokasi pameran, salah satu dari trio A memohon-mohon agar diijinkan masuk. Pasalnya, dari pintu kaca transparan itu foto-foto yang dipamerkan sudah nampak dari luar seolah-olah melambai-lambai minta disambangi.

Dan ... yihaaa, trio A diijinkan masuk. Dasar yannei kungyan yang kadang lepas kontrol kalau bicara, trio A pun kelewat berisik mengenali mana saja karya-karya mereka_tentu sambil narsis di dekat foto-foto itu. Tiba-tiba seorang ah sam (mbokdhe) tukang bersih-bersih menghampiri trio A.

"Kalian tau nggak kalo berisik. Suara kalian terdengar sampai atas. Siong bin yau yan siong kan tong aa. Lei tei em in koi yap lei, ming ci closed maa! (Di atas ada orang lagi belajar. Kalian tidak seharusnya masuk, kan sudah tau tutup!)"

Nah loh! Trio A hanya ingah-ingih prengas-prenges kayak monyet ketulup lalu keluar dari area kampus. Bukannya menyesal ataupun jera, ketiganya malah ngakak berjamaah. Tidak hanya sampai di situ, ketika hendak naik KCR pun, salah satu dari mereka berdiri terlalu dekat dengan pembatas 'selokan' rel kereta. Padahal ada garis kuning penanda maksimal 'parkir' kaki. Maka, terdengarlah 'halo-halo' dalam tiga bahasa (Kantonis-Inggris-Mandarin) dari pengeras suara yang memeringatkan penumpang KCR agar berdiri di belakang garis kuning. Nah loh, kena semprit deh.

Fiuhhh, bener-bener partner in crime.

Sinna Hermanto. 

***
Artikel terkait.

2015-02-28

[Curcol] Efek Foto: Kok Beda?

Efek Foto: Kok Beda?

Daku punya kawan pesbuk yang lumayan aktiv. Postingan tulisan atau foto-fotonya selalu ramai komentar dan jempol. Doksi lumayang ngerti potograpi dan tercatat sebagai super ngadimin di sebuah grup potograpi onlen. Selain itu, perempuan yang berasal dari 'kota gadis' Madiun ini juga jago nulis di sebuah blog keroyokan. Kedatangannya di Xiang Kang kali ini adalah seri kedua setelah istirahat di Endonesa beberapa bulan lamanya.

Tak hanya di dunia maya, daku pernah bertemu dengannya sebanyak dua kali di dunia nyata, di sekitaran Piktori. Meski tidak akrab banget, bila bertemu kita saling mengenali satu sama lain lantaran kita berdua memang orang terkenal (khusus kalimat ini tolong abaikan!), terkenal 'gila'nya gitchuuu.

Yang membuat daku menyunggingkan senyum atau tertawa dikulum (baca: ngempet ngguyu), adalah postingan kisah sehari-harinya yang dikemas dengan bahasa konyol_kadar kenthirnya memang kelebihan seons, yang mungkin bagi sebagian orang akan didramatisir hingga mewek-mewek nangis bawang bombai sambil meluk-meluk pohon. Daku akui, melihat multi-taskingnya itu doksi bisa disebut potograper yang penulis sekaligus penulis yang potograper. Keren, kan? Keren, dong.

Suatu waktu doksi pamer 'kemesraannya' dengan keluarga besar bosnya. Maklum, doksi ngurus manula sehingga kadang-kadang anak-anak dan menantu bos pulang menjenguk sepasang manula itu.
Hari itu ia mendapat 'protes' dari salah satu menantu bahwa foto biodata dari agen dulu ternyata berbeda dengan doksi ketika sampai di Hong Kong. Menurut hasil terawangan dan menganalisa foto biodata itu, kata si menantu, postur tubuh doksi lumayan montok berisi, berkulit bersih dan tinggi badannya rata-rata air. Dan ternyata ... ketika bertemu langsung, tubuh doksi lumayan seksi (kalo tidak mau dikatakan kurus), berkulit eksotik (ekstra gosong sitik) dan tergolong bongsor nan jangkung.

Doksi tentu mengelak semua 'tuduhan' dari si menantu. Gimana bisa montok kalo di PT makannya daun kangkung yang sudah menguning dan sedikit gizi? Gimana mau putih kalo daerah khatulistiwa memaparkan cahaya matahari terus-menerus sepanjang hari? Dan gimana nggak tinggi kalo kejangkungannya itu adalah faktor gen yang diturunkan ortu doksi. 

Lalu, apa dong penyebab perbedaan foto dan sosok nyatanya? Entahlah. Eh eh, jangan-jangan itu hanyalah efek teknologi foto yang dengan mudahnya diedit dan/atau dimanipulasi? Mari berspekulasi.

Sinna Hermanto (Suara, Februari 2015).

***

Artikel terkait.

[Sekitar] Pendidikan: Orientasi Studi Mahasiswa Baru UT-HK 2015.1

Orientasi Studi Mahasiswa Baru UT-HK

Causeway Bay. Bertempat di Victoria Park, Kelompok Belajar (Pokjar) mahasiswa mandiri Universitas Terbuka Hong Kong (UT-HK) mengadakan Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) tahun akademik 2015.1 (18/1). Kegiatan yang dimulai pukul 11 siang ini juga diisi dengan acara perayaan ulang tahun Pokjar yang ketiga.

Setidaknya ada 40 mahasiswa baru dan lama yang hadir di tempat itu. Menurut ketua panitia, Wiwinda Harnanik, OSMB merupakan momen bersejarah bagi mahasiswa untuk memasuki  zona awal sebagai pembelajar formal. OSMB di sini bertujuan sebagai acara ramah tamah dan sebagai ucapan selamat datang kepada mahasiswa baru serta ajang berbagi pengalaman antara mahasiswa lama kepada mahasiswa baru.

Kuliah di UT menerapkan sistem terbuka dan melalui pembelajaran jarak jauh/ e-learning. Kegiatan OSMB ditekankan pada pembekalan kedisiplinan dan kesadaran penuh sebagai mahasiswa mandiri. Sehingga, istilah OSMB dengan kekerasan fisik tidak ada di Pokjar ini, tegas mahasiswa jurusan Sastra Inggris bidang minat penerjemah semester empat ini.

Ia berharap, mahasiswa UTHK senantiasa bekerjasama dan saling respek kepada sesama.

"Dan ingat, kesuksesan seseorang bukan hanya berdasarkan besarnya IP (indek prestasi) kita, tapi sikap dan tindakan kita juga menentukan keberhasilan kita. Tidak ada perbedaan status jika semua sudah bernaung di bawah nama mahasiswa, semua sama," ucapnya menutup wawancara.

Mahasiswa UT di Hong Kong terdiri dari dua kelompok. Yakni Pokjar yang diurus oleh lembaga GITC dan Pokjar yang diurus secara pribadi di bawah naungan Pensosbud KJRI.

[Sekitar] Fotografi: Keren! 42 Foto Buruh Migran Dipamerkan

Keren! 42 Foto Buruh Migran Dipamerkan

Shatin. Sebanyak 42 foto karya pekerja migran asal Indonesia dan Filipina dipamerkan di Chinese Univesity of Hong Kong (CUHK) atas prakarsa Lensational. Lensational adalah sebuah organisasi non-profit yang dikelola penduduk lokal Hong Kong, yang berkonsentrasi memberdayakan perempuan melalui fotografi.

"Kami akan melakukan (foto) tur keliling Hong Kong, di tempat-tempat yang tidak pernah Anda bayangkan. Bahkan mungkin di luar Hong Kong," jelas co-founder Lensational, Peggy Tse dalam bahasa Inggris.

Pameran ini bertempat di Cutural Square-CUHK (12-17 Januari), Yasumoto International Academic Park-CUHK (19-24 Januari), Cheng Yu Tung Building-CUHK (26-31 Januari) dan dibuka mulai pukul 8:00-18:00 WHK. Mengambil tema "Jiwa/ Kaluluwa/ Soul", foto-foto tersebut menggambarkan perjalanan unik para fotografernya selama di Hong Kong. Hal ini bertujuan untuk mengingatkan kita agar tidak hanya fokus pada hasil tetapi belajar dari ketidakpastian hidup di luar negeri sekaligus merayakan perjalanan hidup itu sendiri.

Lensational pertama kali bersinggungan dengan pekerja migran pada workshop pertama selama satu bulan Oktober 2013. Sedangkan workshop lanjutan dilaksanakan pada Februari-Mei 2014 dengan bimbingan fotografer profesional, Simon Wan Chi Chung, secara gratis.

Foto-foto yang dipamerkan adalah hasil bidikan kamera Holga. Holga merupakan kamera analog buatan Hong Kong yang tidak terlalu rumit pengoperasiannya. Tidak seperti kamera digital, di mana hasil foto bisa dihapus atau dilihat langsung, hasil foto kamera yang menggunakan negativ film/klise ini baru bisa dinikmati setelah melalui proses cuci-cetak di ruang gelap.

"Senang bisa pegang Holga," ucap salah satu murid Lensational, Anik, ketika fotonya ikut dipajang dalam pameran itu.

Saat ditanya kemungkinan menggelar pameran foto sendiri, ia menyatakan masih ragu dengan kemampuannya. Tetapi ia sangat tertarik sekaligus termotivasi bila berkolaborasi dengan BMI fotografer lain, pungkasnya.

[Sekitar] Pengajian: Hidup Adalah Cinta

Hidup Adalah Cinta

Live is love, hidup adalah cinta. Tanpa cinta, tidak akan muncul semangat ibadah kepada Yang Maha Cinta, Allah SWT. Sebagaimana konsep yang diajarkan Rasullulah, dengan mencintai makhluk di muka bumi maka kita akan dicintai oleh makhluk Allah yang ada di langit. Karena, cinta yang sesungguhnya adalah segala sesuatu yang mengarah kepada kebaikan.

Demikian yag disampaikan guru besar Majelis Mafia Sholawat Indonesia sekaligus pemilik Pondok Pesantren Radhatun Nikmah-Semarang, Ali Sadiqin, dalam acara "Senandung Cinta untuk Kanjeng Rasul" di Dance Cafe, Fortress Hill (1/2). Selain taushiyah, senandung cinta diisi dengan lantunan sholawat oleh jamaah dan diiringi petikan gitar akustik oleh sang Guru. Yang menarik, pada saat yang sama seorang BMI menampilkan tarian sufi.

Salah seorang panitia, Hanum, menyatakan bahwa acara yang diadakan oleh Gaperbumi  ini diadakan dalam rangka memenuhi permintaan jamaah Majelis Mafia Sholawat Hong Kong. Tidak tanggung-tanggung, jamaah yang memenuhi ruangan yang berkapasitas 600 orang itu nampak penuh sesak. Tak heran, galang dana untuk membantu pengembangan Ponpes Radhatun Nikmah bisa terkumpul sebesar 15.000 HKD dan 100.000 IDR.

Gaperbumi sendiri merupakan gabungan beberapa perpustakaan yag dikelola oleh Buruh Migran Indonesia (BMI). Di mana, pada awal terbentuknya, perkumpulan ini beranggotakan 10 perustakaan sejak 2010. Namun, semenjak pengurus perpus satu persatu mulai pulang ke Indonesia untuk seterusnya, jumlah perpustakaan yang bergabung makin sedikit tetapi nama Gaperbumi dipertahankan.

"Selain bermajelis, kita juga harus mencari ketrampilan untuk bekal kita di tanah air nanti," pesan Hanum mengakhiri wawancara.

[Sekitar] Pengajian: Mencari Cinta Allah

Mencari Cinta Allah

Inti dari cinta itu adalah taat. Dalam fitrahnya, manusia dikaruniai cinta. Hanya saja, cinta dunia kadang menutupi cinta kepada Allah. Untuk memunculkan kembali, kita harus mencari dan meniru perilaku orang-orang yang mencintai Allah. Dengan demikian, kecintaan haqiqi adalah memenuhi panggilan/seruan Allah untuk menyegerakan ibadah.

Hal ini disampaikan oleh Fatih Karim, seorang ustadz sekaligus Founder dan CEO sebuah Event Organizer dari Bogor, saat mengisi taushiyah dalam pangajian akbar yang diselenggarakan oleh Capto Al Masitoh yang bekerjasama dengan Majelis Dzikir Ilham di Masjid Jami'-Tsim Sha Tsui (1/2).

Dalam wawancara terpisah, ustadz yang telah tiga kali ke Hong Kong ini melihat kehidupan beragama di kalangan Buruh Migran Indonesia (BMI) harus terus ditumbuhkan sehingga kesadaran menjalankan syariat Islam itu pun semakin baik. Mayoritas BMI adalah perempuan, di mana dalam Islam mengatur bahwa ibu/perempuan adalah madrasah bagi anak dan mengurus rumah tangga, bukan mencari nafkah.

Tema cinta dipilih karena akhir-akhir ini terjadi peristiwa tragis akibat cinta buta termasuk perzinaan atau perselingkuhan. Pun, Februari dikenal sebagai bulan Valentine di mana pihak Barat meniupkan virus untuk gaya hidup bebas dengan kedok cinta. Padahal, Islam mengajarkan untuk menyuburkan cinta setiap hari, jelasnya.

Ia pun berharap agar para BMI menjaga kemuliaan diri dan bersegera untuk kembali ke Indonesia. Sedangkan majelis-majelis yang ada hendaknya tidak hanya sekedar bersholawat atau berdzikir tetapi memahami syariah Islam dan menerapkan dalam kehidupan. Acara makin seru dengan alunan sholawat yang dipimpin vokalis sholawat Habib Syeh, Gus Shafa.